
Tikam Samurai - 101
Ya, inilah saatnya untuk berusaha lepas. Sementara
Kempetai-kempetai keparat itu pergi. Kalau saja dia lepas, dan di dinding sana
ada dua bilah samurai, oh alangkah akan jahanamnya Jepang-Jepang itu dia
perbuat. Dan matanya meneliti.
Kamar itu sengaja dibuat untuk kamar penyiksaan tawanan itu terlihat dari
gelang-gelang perantai kaki dan perantai tangan yang tersebar di lantai dan di
langit-langit. Kemudian perkakas penyiksaan. Bau ruangan ini juga pengap. amis.
Tak syak lagi, disini telah cukup banyak darah tertumpah. Telah cukup banyak
nyawa direnggutkan. Kini bagaimana dia harus membebaskan diri ? Dia tengok
tangannya. Keduanya terantai ke atas.
Dia coba merenggut rantai itu. Tapi terlalu kukuh. Nampaknya rantai itu
ditanamkan dan dicor dengan semen ke loteng Goa yang terbuat dari batu itu.
Tangannya tak mungkin lepas. Kecuali kalau dipotong sebatas pergelangan. Dia
mau saja memotongnya sebatas pergelangan asal bebas. Tapi tanpa jari-jemari,
apakah artinya lagi? Dan kalau dia ingin bebas, dia harus memotong kedua
pergelangan tangannya. Lantas dengan apa lagi dia harus membalas ? Dia teringat
pada bayangan tatkala Datuk Penghulu akan rubuh. Ya, dia ingat kini. Ekspresi
dan sinar mata orang tua itu seakanakan berkata :
“Jaga dirimu baik-baik nak. Tetaplah bertahan untuk hidup.Jangan menyerah pada
penjajah. Tuhan bersamamu. . .”
Itulah ucapan yang tak terucapkan, tapi sempat dia baca dari wajah orang tua
itu. Tetaplah bertahan untuk hidup. Jangan menyerah . .
__ADS_1
Kalimat ini seperti sebuah sumpah yang dipegang teguh oleh pejuang-pejuang ini.
Matanya melirik pada Kari Basa. Ke tubuhnya yang terkulai. Tapi jelas dadanya
beralun perlahan. Dia masih hidup. Sekurang-kurangnya dia kini tengah bertahan
untuk tetap hidup.
Dan dia tak menyerah pada penjajah. Betapapun siksaan yang dia terima. Dia tak
menyerah Ya, betapapun penderitaannya, namun Kari Basa tak pernah menyerah
untuk membuka rahasia. Dan dia juga tengah bertahan untuk hidup,
Perlahan-lahan, semangat untuk takkan menyerah, semangat untuk berusaha agar
tetap hidup muncul menguat pada dirinya. Berhasil atau tidak dia melepaskan
diri dari belenggu ini, batapapun jua dia harus bertahan untuk tetap hidup.
Harus…
Tapi di samping itu dia juga harus berusaha untuk membebaskan diri. Harus. Dia
tak boleh menyerah. Tak boleh menanti sampai Jepang-jepang itu datang menyiksa
sebuah gelang yang dikunci.
Gelang itu dihubungkan dengan dua buah mata rantai yang kukuh, ditanamkan ke
lantai yang juga dicor dengan beton. Dia menarik nafas. Menggoyangkan kaki.
Menggoyangkan tangan. Tak ada harapan pikirnya.
“Ya. Tak ada harapan …..”
Sebuah suara yang amat perlahan mengejutkannya. Dia menoleh pada Kari Basa.
Tapi lelaki itu masih terkulai. Diakah yang bicara? Tak ada harapan untuk dapat
melepaskan diri …..
“Kembali ada suara, dan suara itu jelas suara Kari Basa.
“Pak Kari . .” katanya heran.
__ADS_1
“Ya. Sayalah yang bersuara Bungsu. Saya memang tak melihat engkau, mata saya
kabur. Bahkan untuk bernafas pun saya susah. Namun telinga saya dapat menangkap
bunyi gemerincing rantai karena engkau goyang. Dan saya bisa menduga, engkau
pastilah tengah mencari-cari jalan untuk membebaskan diri. Saya tahu itu dengan
pasti, sebab saya juga telah melakukan sebelum engkau dimasukkan kemari. Dan
seperti yang engkau lihat, usaha saya sia-sia .. .” Kari Basa terdiam. Si
Bungsu juga terdiam. Dia terdiam karena kekagumannya pada daya tahan lelaki di
depannya itu.
“Rantai ini terlalu besar Bungsu. Dan ditanamkan dalam-dalam di lantai serta di
loteng. Sebelum dicor dengan semen, diberi bertulang besi. Tak ada harapan
memang .. “ Kari Basa bicara lagi.
Si Bungsu tak bicara. Sebenarnya banyak yang ingin dia katakan. Tapi dia tak
mau mengatakannya. Dia tak mau melawan Kari Basa bicara. Dia ingin agar orang
tua itu istirahat.
Dia sangat mengasihani lelaki tersebut. Dan Kari Basa akhirnya memang terkulai
diam. Pingsan lagi. Penderitaannya benar-benar sempurna. Kakinya berlumur darah
setelah sepuluh kuku jarinya dicabuti. Dia muntah beberapa kali setelah
perutnya dihantam dengan potongan kayu sebesar lengan. Dan mulutnya berdarah,
giginya copot dihantam pukulan karate. Namun pejuang yang tak banyak dikenal
ini, alangkah teguhnya pada pendiriannya.
Dan memang tak ada jalan untuk melepaskan diri dari belenggu dikaki dan
ditangan si Bungsu. Kari Basa memang berkata benar. Meski segala usaha telah
dia jalankan, namun itu hanya menambah penderitaannya saja. Pergelangan
__ADS_1
tangannya lecet dan berdarah karena usahanya itu.