TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 101


__ADS_3

Tikam Samurai - 101


Ya, inilah saatnya untuk berusaha lepas. Sementara


Kempetai-kempetai keparat itu pergi. Kalau saja dia lepas, dan di dinding sana


ada dua bilah samurai, oh alangkah akan jahanamnya Jepang-Jepang itu dia


perbuat. Dan matanya meneliti.


Kamar itu sengaja dibuat untuk kamar penyiksaan tawanan itu terlihat dari


gelang-gelang perantai kaki dan perantai tangan yang tersebar di lantai dan di


langit-langit. Kemudian perkakas penyiksaan. Bau ruangan ini juga pengap. amis.


Tak syak lagi, disini telah cukup banyak darah tertumpah. Telah cukup banyak


nyawa direnggutkan. Kini bagaimana dia harus membebaskan diri ? Dia tengok


tangannya. Keduanya terantai ke atas.


Dia coba merenggut rantai itu. Tapi terlalu kukuh. Nampaknya rantai itu


ditanamkan dan dicor dengan semen ke loteng Goa yang terbuat dari batu itu.


Tangannya tak mungkin lepas. Kecuali kalau dipotong sebatas pergelangan. Dia


mau saja memotongnya sebatas pergelangan asal bebas. Tapi tanpa jari-jemari,


apakah artinya lagi? Dan kalau dia ingin bebas, dia harus memotong kedua


pergelangan tangannya. Lantas dengan apa lagi dia harus membalas ? Dia teringat


pada bayangan tatkala Datuk Penghulu akan rubuh. Ya, dia ingat kini. Ekspresi


dan sinar mata orang tua itu seakanakan berkata :


“Jaga dirimu baik-baik nak. Tetaplah bertahan untuk hidup.Jangan menyerah pada


penjajah. Tuhan bersamamu. . .”


Itulah ucapan yang tak terucapkan, tapi sempat dia baca dari wajah orang tua


itu. Tetaplah bertahan untuk hidup. Jangan menyerah . .

__ADS_1


Kalimat ini seperti sebuah sumpah yang dipegang teguh oleh pejuang-pejuang ini.


Matanya melirik pada Kari Basa. Ke tubuhnya yang terkulai. Tapi jelas dadanya


beralun perlahan. Dia masih hidup. Sekurang-kurangnya dia kini tengah bertahan


untuk tetap hidup.


Dan dia tak menyerah pada penjajah. Betapapun siksaan yang dia terima. Dia tak


menyerah Ya, betapapun penderitaannya, namun Kari Basa tak pernah menyerah


untuk membuka rahasia. Dan dia juga tengah bertahan untuk hidup,


Perlahan-lahan, semangat untuk takkan menyerah, semangat untuk berusaha agar


tetap hidup muncul menguat pada dirinya. Berhasil atau tidak dia melepaskan


diri dari belenggu ini, batapapun jua dia harus bertahan untuk tetap hidup.


Harus…


Tapi di samping itu dia juga harus berusaha untuk membebaskan diri. Harus. Dia


tak boleh menyerah. Tak boleh menanti sampai Jepang-jepang itu datang menyiksa


sebuah gelang yang dikunci.


Gelang itu dihubungkan dengan dua buah mata rantai yang kukuh, ditanamkan ke


lantai yang juga dicor dengan beton. Dia menarik nafas. Menggoyangkan kaki.


Menggoyangkan tangan. Tak ada harapan pikirnya.


“Ya. Tak ada harapan …..”


Sebuah suara yang amat perlahan mengejutkannya. Dia menoleh pada Kari Basa.


Tapi lelaki itu masih terkulai. Diakah yang bicara? Tak ada harapan untuk dapat


melepaskan diri …..


“Kembali ada suara, dan suara itu jelas suara Kari Basa.


“Pak Kari . .” katanya heran.

__ADS_1


“Ya. Sayalah yang bersuara Bungsu. Saya memang tak melihat engkau, mata saya


kabur. Bahkan untuk bernafas pun saya susah. Namun telinga saya dapat menangkap


bunyi gemerincing rantai karena engkau goyang. Dan saya bisa menduga, engkau


pastilah tengah mencari-cari jalan untuk membebaskan diri. Saya tahu itu dengan


pasti, sebab saya juga telah melakukan sebelum engkau dimasukkan kemari. Dan


seperti yang engkau lihat, usaha saya sia-sia .. .” Kari Basa terdiam. Si


Bungsu juga terdiam. Dia terdiam karena kekagumannya pada daya tahan lelaki di


depannya itu.


“Rantai ini terlalu besar Bungsu. Dan ditanamkan dalam-dalam di lantai serta di


loteng. Sebelum dicor dengan semen, diberi bertulang besi. Tak ada harapan


memang .. “ Kari Basa bicara lagi.


Si Bungsu tak bicara. Sebenarnya banyak yang ingin dia katakan. Tapi dia tak


mau mengatakannya. Dia tak mau melawan Kari Basa bicara. Dia ingin agar orang


tua itu istirahat.


Dia sangat mengasihani lelaki tersebut. Dan Kari Basa akhirnya memang terkulai


diam. Pingsan lagi. Penderitaannya benar-benar sempurna. Kakinya berlumur darah


setelah sepuluh kuku jarinya dicabuti. Dia muntah beberapa kali setelah


perutnya dihantam dengan potongan kayu sebesar lengan. Dan mulutnya berdarah,


giginya copot dihantam pukulan karate. Namun pejuang yang tak banyak dikenal


ini, alangkah teguhnya pada pendiriannya.


Dan memang tak ada jalan untuk melepaskan diri dari belenggu dikaki dan


ditangan si Bungsu. Kari Basa memang berkata benar. Meski segala usaha telah


dia jalankan, namun itu hanya menambah penderitaannya saja. Pergelangan

__ADS_1


tangannya lecet dan berdarah karena usahanya itu.


__ADS_2