
Tikam Samurai - 42
Pendengarannya dia pusatkan pada bijih dadu yang berputar
itu.
Dan tiba – tiba Babah itu menghentikan putarannya. Berbeda dengan cara
sebelumnya, kali ini dia tak langsung menelungkupkan tabung itu di atas piring.
Melainkan memegangnya dulu. Buah dadu itu berkumpul di dasar tabung. Beberapa
detik berlalu. Lalu tiba-tiba, dengan amat cepat tabung bambu itu di
telungkupkan di piring di depannya. Tak ada suara buah dadu yang menyentuh
piring. Sepi. Perwira Jepang itu, Baribeh dan si Juling jadi heran, sebab tak
satupun terdengar buah dadu yang jatuh kepiring. Tak satupun.
Kepandaian Babah ini bukan main. Baribeh jadi kagum sebab selama ini Babah itu
belum pernah melakukan hal itu. Kini buah dadu itu menyentuh piring tanpa
terdengar sedikitpun suaranya.
” Pasanglah,” kata si Babah perlahan.
Tangannya masih tetap memegang tabung yang tertelungkup itu. Perwira Jepang itu
sejenak memandang pada si Bungsu. Tapi karena si Bungsu masih diam, dia segera
memasang taruhannya di angka empat. Baribeh dengan ragu memasang taruhannya di
angka lima dan satu. Si Juling memasang di angka dua. Si Bungsu masih diam.
Babah gemuk itu menatap padanya.
” Tidak ikut memasang ?” tanya si babah.
Si Bungsu menatap Cina itu. Mereka saling pandang.
” Tidak ikut bertaruh ..?” babah itu kembali bertanya.
Sementara yang lain, termasuk tiga orang perempuan cantik yang kini duduk dekat
Baribeh, Juling dan perwira Jepang itu, menatap padanya dengan diam.
” Pasang saja taruhannya ”. Babah itu berkata lagi.
__ADS_1
” Taruhan baru saya pasang kalau dadunya sudah jatuh di piring ” si Bungsu
berkata perlahan.
Perwira Jepang serta Baribeh saling pandang. Mereka jadi ragu atas ucapan anak
muda ini. Apakah buah dadu itu memang belum jatuh ke piring ? Masakan belum.
Mana bisa dadu itu tergantung atau tertahan di atas dalam tabung bambu itu.
Mustahil.
”Jatuhkanlah buah dadu itu ke piring, baru saya memasang taruhan ”. Ujar
Bungsu.
Babah itu tersenyum. Mau tak mau dia terpaksa harus memuji keunggulan
pendengaran anak muda ini. Anak muda yang luar biasa, pikirnya. Luar biasa
lihainya berjudi.
Sebuah dencingan halus terdengar di dalam tabung itu. Sebuah dadu jatuh. Sepi
setelah itu. Si Bungsu masih tetap menunduk. Memasang telinga. Sebuah dentingan
Jepang itu dan Baribeh kembali saling pandang.
” Baru dua buah yang jatuh ”. perwira itu berkata.
Babah itu tersenyum sambil menatap pada si Bungsu. Si Bungsu mengambil semua
uang yang dia menangkan dalam taruhan tadi. Kemudian meletakkan semuanya pada
nomor t iga dan lima. Kemudian sepi.
” Tak ada yang akan merobah letak taruhan ?”
Babah itu bertanya. Tak seorangpun yang menyahut. Babah itu kemudian mengangkat
tabung bambu itu. Dan tiba – tiba semua orang, kecuali si Bungsu, jadi
tertegun.
Dua diantara tiga dadu itu memang menunjukkan angka – angka seperti yang
ditebak si Bungsu. Mata dadu yang muncul di atas adalah mata satu, lima dan
tiga. Berarti dua taruhannya menebak tepat dan benar. Dia tak memasang taruhan
__ADS_1
pada angka satu, namunan itu tak mempengaruhi kemenangannya.
Si Babah mulai berpeluh. Dia terpaksa tegak dan berjalan menuju biliknya. Tak
lama dia muncul membawa sebuah kantong besar. Lalu duduk lagi d i tempatnya
tadi dan membuka kantong yang tadi dia bawa. Menatap ke uang taruhan si Bungsu
beberapa saat.
Kemudian mulai menghitung uang yang dia ambil dari dalam kantong. Dan
eletakkannya pada uang taruhan si Bungsu. Si Bungsu hanya menatap dengan diam.
Dia tahu, meski Babah itu tak menghitung taruhannya, namun Babah itu tahu
dengan pasti berapa harus membayar. Suatu keahlian yang jarang tersua.
Menghitung uang dari jarak tertentu tanpa menyentuhnya.
Dari seratus penjudi lihai, barangkali ilmu ini hanya terdapat pada satu atau
paling banyak dua pejudi. Dengan demikian, si Babah telah menunjukkan dua ilmu
simpanannya. Pertama demontrasi tenaga dalam. Yaitu tatkala tadi dia menahan
ketiga dadu itu di bahagian atas tabung bambu.
Perwira Jepang dan Baribeh menyangka bahwa dadu itu berada di piring. Tapi
ternyata masih dia tahan melalui penyaluran tenaga dalamnya pada dinding
tabung bambu itu. Dan ilmunya ini ternyata diketahui oleh si Bungsu. Kedua
adalah ilmu menghitung tanpa menyentuh duit sebentar ini. Dan si Bungsu juga
mengetahuinya. Oleh karena itu dia tak mau menghitung uang bayaran yang
diberikan oleh Babah.
Uang itu dia kaut dan dia letakkan didepannya. Yang ikut beruntung adalah
Baribeh. Taruhannya di angka lima juga mengena. Sementara taruhan perwira itu
dan taruhan si Jul ditarik oleh si Babah. Si Babah masih tersenyum. Kemudian
memungut bijih dadu di atas piring, kemudian memasukkannya ke dalam tabung
bambu itu. Dia memutarnya. Kemudian terbatuk.
__ADS_1