
Tikam Samurai - 91
“Jadi saya dipanggil kemari hanya untuk memperlihatkan pada
tuan-tuan betapa kepandaian anak muda itu mempergunakan samurainya ?”
“Ya. Tapi kalau kami beritahu pada Datuk maka kami yakin dia takkan datang.”
“Kalau begitu, saya menyesal tidak menyuruh dia menyiksa kalian tadi. . . .”
“Apa maksud Datuk. ..”
“Kalau saja saya tahu, saya hasut dia sehingga ada diantara kalian yang akan
dia cencang menjadi potongan-potongan sate” Lelaki yang putus buah bajunya itu
nyengir mendengar olok-olokan Datuk ini.
“Nah kita tak punya waktu lagi. Mari kita semua susun rencana berikutnya.” Yang
memimpin rapat itu bicara lagi.
“Satuan tugas yang dikirim menyelidiki kegiatan Jepang dalam sebulan ini
mendapat informasi, banyak amunisi yang datang dari Medan dan langsung lenyap
setibanya di lapangan Gadut. Setelah diteliti, ternyata dari lapangan itu ada
terowongan. Diduga terowongan itu menuju ke bawah kota Bukittinggi.
Terowongan-terowongan itu dibuat untuk menyimpan peralatan perang serta
sekaligus untuk perlindungan bila mereka nanti terdesak oleh tentara Sekutu.
Jepang sudah mensinyalir bahwa ada dua bahaya yang akan mengancam mereka di
Indonesia ini. Pertama gerakan Kemerdekaan dari pemuda-pemuda Indonesia dan
kedua kembalinya Belanda merebut bekas jajahannya. Belanda diduga akan ikut
membonceng bersama tentara Sekutu. Kini tugas kita adalah merebut persenjataan
sebanyak mungkin. Atau kalau itu tak bisa, maka kita harus meruntuhkan
terowongan yang mereka buat. Dengan demikian kita berarti melumpuhkan jalur
suplai mereka….”
Dan rapat itu berlangsung terus. Kontak-kontak telah di buka dan disampaikan
__ADS_1
melalui radio rahasia antara pejuang-pejuang di Sumatera Utara, Jawa dan
Sumatera Barat. Saat peristiwa ini terjadi, hari proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 45 hanya menunggu saatnya saja. Waktu itu tanggal telah memasuki awal
Agustus 45.
Di luar, si Bungsu bosan menanti. Dia pergi ke kedai kopi. Memesan secangkir
kopi dan memakan ketan dengan pisang goreng. Dia termasuk yang beruntung berada
di kedai kopi itu. Sebab tengah ia makan itu, tiba-tiba saja sebuah truk
militer berhenti. Delapan orang Kempetai berloncatan turun mengepung rumah
tersebut. Demikian cepatnya gerakan mereka. Tak diketahui siapa yang telah
membocorkan rahasia rapat itu ke pihak kempetai.
Enam lelaki berpakaian preman yang sebenarnya ditugaskan untuk menjaga keamanan
di luar rumah itu, jadi tak berdaya ketika tiba-tiba dari balik beberapa rumah,
selusin Kempetai muncul melecuti mereka. Beberapa orang ada juga yang berusaha
dengan mudah Kempetai kempetai itu melumpuhkan mereka. Seorang lelaki ingin
berteriak, tetapi sebuah tusukan bayonet menghentikan suaranya.
Dia terkulai, dan tubuhnya dicampakkan ke atas truk. Penduduk segera berlarian.
Menutup pintu dan bersembunyi. Dalam waktu singkat, kampung Birugo Puhun itu
seperti dikalahkan garuda. Sepi. Bahkan anjing pun tak ada yang kelihatan di
luar. Mereka yang ada di kedai kopi pada terdiam. Dan selama mereka berdiam
diri, mereka nampaknya tak digubris oleh Kempetai-kempetai itu. Dalam kedai
kopi itu ada empat lelaki.
Keempatnya, termasuk si Bungsu, pada tertegun kaget dan tak tahu harus berbuat
apa. Rumah di mana tengah berlangsung rapat rahasia itu telah dikepung dengan
senjata dan bayonet terhunus. Cahaya sore mengirim sinarnya yang panas ke pintu
rumah. Seorang Syo Sha (Mayor) maju ke depan. Di antara sekian tentara Jepang
__ADS_1
yang ada, hanya dia yang tak menghunuskan senjatanya. Sebuah pistol tergantung
dipinggangnya sebelah kiri. Hulunya menghadap kedepan. Sedangkan sebuah samurai
tergantung di pinggang kanan.
Dari caranya menggantungkan kedua senjata ini, orang segera dapat menebak,
bahwa Kapten ini mahir bermain samurai dengan tangan kiri. Sementara pistol
dipergunakan dengan tangan kanan. Hanya saja letak pistol itu terbalik dari
umumnya orang-orang yang kidal. Di belakang syo-Sha itu tegak seorang ajudan
yang berpangkat Letnan. Mayor itu lalu berseru dengan suara lantang.
“Datuk Penghulu, Datuk Putih NanSati, Sutan Baheramsyah, atas nama Kaisar Tenno
Heika, kalian saya perintahkan untuk menyerahkan diri. Kalian kami tangkap
dengan tuduhan berkomplot ingin mencuri senjata, meledakkan rumah-rumah
perwira, menculik dan membunuh perwira-perwira Jepang. Dokumen kalian telah
kami temukan. Kini menyerahlah. . .”
Tak ada sahutan. Rumah itu tiba-tiba jadi sepi. Suara Mayor itu bergema jelas.
Bahkan dapat didengar oleh penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah
dimana rapat itu sedang berlangsung. Angin bertiup perlahan. Semua menanti
dengan tegang.
“Saya hitung sampai sepuluh Jika kalian tak menyerah, kami akan meledakkan
rumah ini dengan dinamit. Kalian boleh pilih, menyerah untuk diadili, atau mati
berkeping-keping dalam rumah ini….””
Syo sha itu mulai menghitung. Di dalam rumah, Datuk Penghulu dan semua lelaki
yang tadi namanya disebutkan oleh Syo Sha tersebut pada tertegak diam. Mereka
memang tak membawa senjata apapun. Meski mereka pimpinan gerilya, namun membawa
senjata siang hari sangat berbahaya. Tapi mereka tak menyangka sedikitpun akan
terperangkap hari ini
__ADS_1