TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 91


__ADS_3

Tikam Samurai - 91


“Jadi saya dipanggil kemari hanya untuk memperlihatkan pada


tuan-tuan betapa kepandaian anak muda itu mempergunakan samurainya ?”


“Ya. Tapi kalau kami beritahu pada Datuk maka kami yakin dia takkan datang.”


“Kalau begitu, saya menyesal tidak menyuruh dia menyiksa kalian tadi. . . .”


“Apa maksud Datuk. ..”


“Kalau saja saya tahu, saya hasut dia sehingga ada diantara kalian yang akan


dia cencang menjadi potongan-potongan sate” Lelaki yang putus buah bajunya itu


nyengir mendengar olok-olokan Datuk ini.


“Nah kita tak punya waktu lagi. Mari kita semua susun rencana berikutnya.” Yang


memimpin rapat itu bicara lagi.


“Satuan tugas yang dikirim menyelidiki kegiatan Jepang dalam sebulan ini


mendapat informasi, banyak amunisi yang datang dari Medan dan langsung lenyap


setibanya di lapangan Gadut. Setelah diteliti, ternyata dari lapangan itu ada


terowongan. Diduga terowongan itu menuju ke bawah kota Bukittinggi.


Terowongan-terowongan itu dibuat untuk menyimpan peralatan perang serta


sekaligus untuk perlindungan bila mereka nanti terdesak oleh tentara Sekutu.


Jepang sudah mensinyalir bahwa ada dua bahaya yang akan mengancam mereka di


Indonesia ini. Pertama gerakan Kemerdekaan dari pemuda-pemuda Indonesia dan


kedua kembalinya Belanda merebut bekas jajahannya. Belanda diduga akan ikut


membonceng bersama tentara Sekutu. Kini tugas kita adalah merebut persenjataan


sebanyak mungkin. Atau kalau itu tak bisa, maka kita harus meruntuhkan


terowongan yang mereka buat. Dengan demikian kita berarti melumpuhkan jalur


suplai mereka….”


Dan rapat itu berlangsung terus. Kontak-kontak telah di buka dan disampaikan

__ADS_1


melalui radio rahasia antara pejuang-pejuang di Sumatera Utara, Jawa dan


Sumatera Barat. Saat peristiwa ini terjadi, hari proklamasi Kemerdekaan 17


Agustus 45 hanya menunggu saatnya saja. Waktu itu tanggal telah memasuki awal


Agustus 45.


Di luar, si Bungsu bosan menanti. Dia pergi ke kedai kopi. Memesan secangkir


kopi dan memakan ketan dengan pisang goreng. Dia termasuk yang beruntung berada


di kedai kopi itu. Sebab tengah ia makan itu, tiba-tiba saja sebuah truk


militer berhenti. Delapan orang Kempetai berloncatan turun mengepung rumah


tersebut. Demikian cepatnya gerakan mereka. Tak diketahui siapa yang telah


membocorkan rahasia rapat itu ke pihak kempetai.


Enam lelaki berpakaian preman yang sebenarnya ditugaskan untuk menjaga keamanan


di luar rumah itu, jadi tak berdaya ketika tiba-tiba dari balik beberapa rumah,


selusin Kempetai muncul melecuti mereka. Beberapa orang ada juga yang berusaha


dengan mudah Kempetai kempetai itu melumpuhkan mereka. Seorang lelaki ingin


berteriak, tetapi sebuah tusukan bayonet menghentikan suaranya.


Dia terkulai, dan tubuhnya dicampakkan ke atas truk. Penduduk segera berlarian.


Menutup pintu dan bersembunyi. Dalam waktu singkat, kampung Birugo Puhun itu


seperti dikalahkan garuda. Sepi. Bahkan anjing pun tak ada yang kelihatan di


luar. Mereka yang ada di kedai kopi pada terdiam. Dan selama mereka berdiam


diri, mereka nampaknya tak digubris oleh Kempetai-kempetai itu. Dalam kedai


kopi itu ada empat lelaki.


Keempatnya, termasuk si Bungsu, pada tertegun kaget dan tak tahu harus berbuat


apa. Rumah di mana tengah berlangsung rapat rahasia itu telah dikepung dengan


senjata dan bayonet terhunus. Cahaya sore mengirim sinarnya yang panas ke pintu


rumah. Seorang Syo Sha (Mayor) maju ke depan. Di antara sekian tentara Jepang

__ADS_1


yang ada, hanya dia yang tak menghunuskan senjatanya. Sebuah pistol tergantung


dipinggangnya sebelah kiri. Hulunya menghadap kedepan. Sedangkan sebuah samurai


tergantung di pinggang kanan.


Dari caranya menggantungkan kedua senjata ini, orang segera dapat menebak,


bahwa Kapten ini mahir bermain samurai dengan tangan kiri. Sementara pistol


dipergunakan dengan tangan kanan. Hanya saja letak pistol itu terbalik dari


umumnya orang-orang yang kidal. Di belakang syo-Sha itu tegak seorang ajudan


yang berpangkat Letnan. Mayor itu lalu berseru dengan suara lantang.


“Datuk Penghulu, Datuk Putih NanSati, Sutan Baheramsyah, atas nama Kaisar Tenno


Heika, kalian saya perintahkan untuk menyerahkan diri. Kalian kami tangkap


dengan tuduhan berkomplot ingin mencuri senjata, meledakkan rumah-rumah


perwira, menculik dan membunuh perwira-perwira Jepang. Dokumen kalian telah


kami temukan. Kini menyerahlah. . .”


Tak ada sahutan. Rumah itu tiba-tiba jadi sepi. Suara Mayor itu bergema jelas.


Bahkan dapat didengar oleh penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah


dimana rapat itu sedang berlangsung. Angin bertiup perlahan. Semua menanti


dengan tegang.


“Saya hitung sampai sepuluh Jika kalian tak menyerah, kami akan meledakkan


rumah ini dengan dinamit. Kalian boleh pilih, menyerah untuk diadili, atau mati


berkeping-keping dalam rumah ini….””


Syo sha itu mulai menghitung. Di dalam rumah, Datuk Penghulu dan semua lelaki


yang tadi namanya disebutkan oleh Syo Sha tersebut pada tertegak diam. Mereka


memang tak membawa senjata apapun. Meski mereka pimpinan gerilya, namun membawa


senjata siang hari sangat berbahaya. Tapi mereka tak menyangka sedikitpun akan


terperangkap hari ini

__ADS_1


__ADS_2