TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 93


__ADS_3

Tikam Samurai - 93


Lompat Tupai, tubuhnya segera berguling ke depan dengan


kecepatan yang sukar diikuti mata. Dan letusan itu mengejutkan si Mayor. Begitu


dia menoleh, begitu sesosok bayangan tegak di depannya. Mayor ini secara


naluriah mengetahui bahaya yang mengancam. Dia segera mencabut samurai dengan


tangan kiri. Tapi begitu samurai itu keluar dari sarungnya, begitu sebuah


babatan menghantam samurainya tersebut.


Tangannya rasa kesemutan. Begitu kuat hantaman samurai itu. Tanpa dapat dia


tahan samuarainya terpenta. Jatuh ke tanah. Dan saat itulah orang yang belum


dia lihat wajahnya itu berputar ke belakang dan sebuah benda dingin, tajam,


tipis dan menakutkan, menempel di lehernya. Anak muda itu tegak di belakangnya


sambil memegang kepala si Mayor. Kepala Mayor itu dia buat tertengadah dan mata


samurainya itu dia tekankan ke lehernya.


“Perintahkan semua anak buahmu melemparkan senjata mereka ke tanah, Mayor”


Suara si Bungsu mendesis tajam. Bukan main cepatnya kejadian itu berlangsung.


Sebahagian besar Serdadu Jepang itu masih tegak terpana. Dan kini menatap


dengan mulut ternganga pada komandan mereka yang terancam itu.


Mayor itu sendiri hampir-hampir tak percaya kejadian yang dia alami ini. Dia


tak yakin ada manusia yang dapat bergerak demikian cepatnya. cepat dalam


bergerak. Dan cepat dalam memainkan samurainya.


“Si Bungsu . . .” akhirnya mayor itu bersuara perlahan.


Nama anak muda itu sudah menjadi buah bibir di antara para perwira di Markas


besar mereka. Anak muda yang mahir dengan samurai.


“Ya. Sayalah si Bungsu Mayor. Dan saya tidak main-main dengan samurai saya ini.

__ADS_1


Sudah banyak bangsa saya yang terbunuh oleh samurai kalian ini. Dan dengan


samurai ini pula, sudah puluhan Jepang yang saya bunuh. Dengan segala senang


hati hari ini saya akan menambah jumlah itu dengan diri tuan. Yaitu kalau tuan


tidak memerintahkan anak buah tuan melemparkan senjata mereka. . .”


Tanpa dapat ditahan Mayor itu merasakan seluruh bulu di tubuhnya pada


merinding. Dia sudah berperang selam puluhan tahun. Mulai dari daratan Mongolia


sampai ke daratan cina. Menembus rawa-rawa maut di sungai Yang Tse Kiang. Dia


sudah menghadapi berbagai macam bentuk manusia yang siap merenggut nyawanya.


Dia sudah berhadapan dengan tentara Belanda, Amerika dan lain-lain. Namun dia


tak pernah merasa gentar. Tapi sore ini, di bawah ancaman anak muda ini,


tubuhnya tiba-tiba terasa mendingin. Tak hanya mendingin, buat pertama kali


dalam hidupnya sebagai militer, tubuhnya tiba-tiba menggigil.


“Perintahkan Mayor Atau perlu kuhitung sampai sepuluh seperti engkau menghitung


Bulu tengkuk mayor ini tambah merinding. Dia sudah banyak mendengar, bahkan


melihat sendiri betapa mayat-mayat tentara Jepang ketika akan menangkap anak


muda ini di Tarok, terputus-putus seperti dijagai kena samurai.


“Lemparkan seluruh senjata kalian ke tanah . .” suara mayor itu terdengar


serak.


Satu demi satu anak buahnya melemparkan senjata. Si Bungsu menyeret tubuh mayor


itu hingga tersandar ke dinding rumah yang tadi hampir saja diledakkan dengan


dinamit. Dengan meletakkan tubuh mayor itu tetap di depannya, maka si Bungsu


dapat mengawasi seluruh pasukan Jepang itu.


“Suruh mereka berkumpul di dekat truk. Semuanya ..”Anak muda itu berkata lagi


sambil memberi isyarat pada Datuk Penghulu dan kawan-kawannya yang berada di

__ADS_1


atas truk untuk turun. Mereka segera turun dan bergabung dengan di Bungsu di


tepi dinding rumah.


“Cepat suruh mereka berkumpul dekat truk itu mayor….” si Bungsu kembali


mengancam.


“Syo-i Atto. Perintahkan semuanya berbaring dekat truk. Lekasss..!!”


Mayor itu berteriak lagi dengan suara seraknya. Syo- I (Letnan dua ) itu segera


melaksanakan perintah mayor tersebut. Sebaliknya tubuh si Bungsu menegang


tiba-tiba begitu mendengar nama Atto disebut si Mayor. Demikian juga halnya


dengan Datuk Penghulu. Mereka saling tatap. Mata si Bungsu menatap tajam dan membersitkan


amarah yang hebat.


Atto Nama itu mengiang di telinganya. Dia teringat pada saat-saat menjelang


kematian Mei-mei. Gadis itu mengatakan bahwa dia diperkosa oleh satu regu


Kempetai. Yang memulai perkosaan itu adalah komandan mereka. Gadis itu mendengar


namanya disebut dengan Atto. Dan kini Letnan dua yang bernama Atto itu siap


melaksanakan tugasnya. Dia tegak di depan prajurit-prajurit Jepang yang


jumlahnya sekitar delapan belas orang itu.


Seluruh senjata mereka seperti karabin, pistol dan samurai, bergelatakan di


tanah. Si Bungsu segera tersadar dari lamunannya pada Mei-mei. Lamunannya dan


kebenciannya membuat tangannya tak terkontrol Dan mata samuarinya amat tajam


itu melukai leher si Mayor. Darah mengalir kebawah, tapi untunglah lukanya


hanya luka luar saja. Tentara Jepang yang lain pada merinding.


Mereka menyangka anak muda ini sudah menyembelih pimpinan mereka. Si Bungsu


menoleh pada Datuk Penghulu.


“Ambillah bedil yang ada di tanah itu. Dan juga pistol mayor ini. Awasi dia.

__ADS_1


Saya akan buat perhitungan . .”


__ADS_2