
Tikam Samurai - 16
Hari kedua sejak peristiwa berdarah itu, si Bungsu masih
duduk di sana. Di halaman rumah gadangnya. Di antara puing reruntuhan
rumah-rumah di kampungnya itu. Dia duduk dengan kepala ibu di pahanya. Sampai
hari ketiga dia tak mampu bergerak dari sana. Luka di punggungnya amat
nyeri. Untung udara dingin dan hujan banyak menolong lukanya. Tak ada lalat
yang merubungi.
Barulah di hari ketiga dia berusaha bangkit dengan tubuh seperti akan
tercabik dua. Dia harus mengubur mayat ayah, ibu dan kakaknya. Dia juga harus
mengubur mayat tujuh orang lelaki, perempuan dan seorang anak-anak lainnya di
kampung itu. Sebab tak ada manusia seorangpun di sana. Mereka telah lari
mengungsi.
Hujan lebat yang turun beberapa hari jua yang menyebabkan tanah jadi lembut dan
mudah digali. Dengan mengatupkan gigi, dia mencabut Samurai yang tertancap
tegak di dada kiri ayahnya. Kemudian dia mulai menggali tanah di dekat jasad
ayahnya itu dengan samurai tersebut. Mayat ayah dan ibunya hanya berjarak
sedepa. Dia menggali di tengah kedua orang itu. Kemudian memasukkan mayat ibu
bapanya ke satu lobang.
Hari kelima baru dia selesai mengubur seluruh jenazah di kampung itu. Mereka
dia kubur sekedarnya. Sekedar tertimbun dan hilang tak berbau dan mudah-mudahan
tak digali hewan. Mereka dia kubur di dekat mayatnya terbaring. Ada yang di
dekat tangga seperti kakaknya. Ada yang di tengah halaman seperti ibunya. Ada
yang di bawah pohon seperti beberapa tetangga lainnya. Dia harus menguburkan
mereka semua. Meskipun semasa hidupnya, mereka membencinya Dia tak punya rasa
__ADS_1
dendam sedikitpun terhadap orang kampungnya ini.
Hari keenam, dia melangkah entah kemana. Hari sudah senja. Dia berjalan
tertatih-tatih. Hujan dan udara sejuk telah menyelamatkan luka dipunggungnya
yang lebar untuk tak lekas membusuk. Dalam perjalanan, tiba-tiba dia menyadari
bahwa selain untuk menggali kubur, dia juga mempergunakan Samurai yang
tertancap di dada ayahnya sebagai tongkat penyangga agar tubuhnya tak rubuh.
Tak dia ingat kapan masanya dia memungut sarung samurai itu. Tapi yang jelas
kini dia memegangnya.
Semula dia berniat untuk membuang samurai itu. Dia memotong sebuah kayu sebesar
lengan. Tapi tiba-tiba dia tertegun. Suara dan sumpah ayahnya sesaat sebelum
roboh setelah dihantam Samurai Saburo, terngiang kemballi.
“Kau takkan selamat Saburo! Aku bersumpah akan menuntut balas dari akhirat. Kau
juga akan mati oleh samurai. Akan kau rasakan betapa senjata negerimu menikam
Tangannya menggigil mengingat sumpah itu. Dan tiba-tiba dia membuang kayu yang
baru dia ambil. Dia memegang samurai di tangannya kuat-kuat. Kemudian mulai
melangkah. Entah kemana dia. Tak seorangpun yang tahu. Berbulan-bulan setelah
itu, ketika suasana sudah agak aman, orang-orang Situjuh Ladang Laweh, kampung
Datuk Berbangsa, kembali pulang satu demi satu dari pengungsian mereka.
Mereka mendapatkan kuburan-kuburan yang tak beraturan korban pembantaian yang
menyebabkan mereka lari mengungsi. Mereka menggali kembali kuburan-kuburan itu,
dan meng-uburkan di pekuburan kaum. Mereka bertanya-tanya tatkala tidak
menemukan mayat si Bungsu. Padahal beberapa orang di antara mereka melihat
dengan jelas betapa anak muda celaka itu ****** dibabat samurai Kapten Saburo.
Tapi kemana mayatnya? Kalau mayatnya tak ada, siapa yang telah menguburkan
__ADS_1
mayat-mayat ini? Apakah dia tak mati, kemudian dialah yang menguburkan semua
jenazah ini? Tak mungkin. Anak muda itu tak mungkin mau berbuat kebajikan
apapun untuk negeri ini. Sebab ayahnya saja dia khianati. Bukankah sasaran
rahasia itu ayahnya yang memimpin? Dan bukankah dia pula yang menjual rahasia
itu pada Jepang hingga semua mereka tertangkap dan terbunuh? Tak mungkin dia
yang menguburkan jenazah itu.
“Barangkali bangkainya memang tak dikuburkan oleh orang. Sebab orang yang
menguburkan ini mungkin tahu bahwa dia seorang jahanam. Dan jenazahnya tetap
ditinggalkan, lalu akhimya habis dimakan anjing atau harimau yang datang dari
gunung sana . . ” seorang lelaki bicara.
Dan pendapat inilah yang paling banyak mempercayainya. Dan bagi orang kampung,
anak muda itu memang lebih baik mati diterkan harimau daripada hidup membuat
malu negeri. Anak muda itu dianggap sudah terkubur di perut binatang. Tak
peduli anjing, harimau atau biawak. Dia lenyap seperti ditelan bumi dan tak
seorangpun mencoba mengingatnya, kecuali tentang yang buruk-buruk. Kehidupan
kampung di pinggang gunung Sago yang terletak jauh dari kota Payakumbuh itu
kembali seperti biasa.
Serdadu Jepang tak pernah lagi datang ke sana. Namun itu bukan berarti bahwa
serdadu Jepang telah menghentikan kekejamannya di Minangkabau. Tidak! Kekejaman
orang-orang bermata sipit dan bertubuh tambun dan pendek ini hampir merata
dirasakan oleh penduduk di kota maupun pedesaan di pinggir kota yang ditempati
oleh tentara Jepang. Situjuh Ladang Laweh mereka lupakan karena
pejuang-pejuangnya telah mati. Datuk Maruhun, kabarnya, mati di Logas. Begitu
juga teman-temannya.
__ADS_1