TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 68


__ADS_3

Tikam Samurai - 68


Tak peduli komandannya tadi belum keluar, yang jelas dia


harus cepat mendapat giliran. Dia masuk kamar itu. Didapatinya komandannya


masih terbaring dalam pakaian lengkap. Tapi yang menjadikannya heran adalah


karena komandannya itu terbaring tidak di tempat tidur. Melainkan di lantai.


Pertanyaan belum menjawab, ketika dia berpaling pada gadis itu, tangan gadis


itu bergerak cepat sekali. Pukulan dengan sisi tangannya mendarat di tengkuk


Kempetai itu. Kempetai tersebut bukanlah orang lemah. Sebagai seorang Kempetai,


dia belajar karate dan Yudo. Pukulan pertama dia tangkis dengan tangannya.


Namun meleset. Pukulan gadis itu amat cepat. Tapi pukulan itu belum


merubuhkannya. Dalam keadaan heran dan kaget Kempetai itu coba memeluk gadis


tersebut.


Itulah kesalahannya. Mei-mei membiarkan Kempetai itu memeluknya, disaat tubuh


mereka merapat, Mei-mei menghantamkan lututnya keatas. Mendarat persis di


selangkang Jepang itu. Jepang itu hampir saja terpekik. Mei-mei bertindak


cepat. Tangannya segera menutup mulut Jepang itu. Kalau teriakannya sampai


kedengaran oleh tiga temannya di luar, bisa berbahaya. Dan Kempetai itu melosoh


turun. Kentang kentangnya pecah. Mei-mei hari ini bukan lagi Mei-mei setahun


yang lalu.


Bukan lagi Mei-mei yang lemah yang tak dapat berbuat apa apa ketika tubuhnya


digumuli oleh perwira perwira Jepang di Payakumbuh dulu. Mei-mei hari ini adalah


gadis yang telah berisi. Dia membuktikan hal itu dengan merubuhkan kedua


Kempetai ini dengan mudah. Kempetai yang berpangkat Djun-i yang masuk pertama


kali tadi juga mendapatkan perlakuan yang sama. Begitu masuk dan menutup pintu,


dia segera memeluk dan berusaha mencium gadis itu.

__ADS_1


Mei-mei seperti akan membalas pelukannya. Namun kedua tangannya memegang leher


Djun-i itu. Begitu terpegang lehernya, sementara Jepang itu masih asik menciumi


mukanya, Mei-mei menghantam lututnya keselangkang Jepang itu. Ketika Jepang itu


tersentak kaget dan amat sakit, kedua tangannya memegang leher Jepang itu


bergerak pula. Yang satu mencengkram rambut di belakang kepala Kempetai itu.


Tangan yang satu lagi menghantam dagunya. Rambut Jepang itu dia tarik sekuat


kuatnya arak kekanan. Sementara dagunya dipukul arah kekiri.


Akibatnya kepala Jepang itu terputar denganpaksa amat kuat. Terdengar suara


tulang berderak. Leher Jepang itu patah tulangnya. Dia mati tanpa sempat


berteriak. Itulah yang dialami oleh Djun-i yang masuk pertama kali. Kini sudah


dua orang selesai oleh Mei-mei. Benci dan dendam yang telah lama menyala dalam


dada gadis ini kepada Jepang yang telah melaknati tubuhnya, kini mendapat


tempat pelampiasannya. Diam diam dia mengunci pintu kamar. Kemudian mengambil


mati itu. Lalu perlahan dia membuka jendela dan berjingkat dia keluar. Masuk


kedalam malam yang gelap.


Tadi dia mendengar ada tiga Jepang lagi menjaga di luar rumah. Dia ingin


menyudahi ketiga Jepang jahanan itu. Perlahan lahan dia menuju ke depan. Tiba


tiba langkahnya terhenti. Dari depan seorang Kempetai rupanya menaruh curiga


akan situasi rumah yang sepi itu. Dengan bedil terhunus dia mengitari rumah


tersebut. Dan dia melihat sesosok bayangan tegak mematung dekat dinding.


“Siapa itu..!” Jepang itu membentak sambil mengacungkan bedil yang siap


memuntahkan peluru.


“Malaikat maut..” Jawab Mei-mei dengan suara mendesis tajam. Dan seiring dengan


itu tubuhnya bergulingan di tanah. Dalam tiga kali bergulingan yang amat cepat,


dari posisi berbaring menyamping di tanah, kaki kanannya menghantam keatas.

__ADS_1


Terdengar seruan terkejut dan kesakitan dari mulut Jepang itu ketika sisi kaki


Mei-mei yang terlatih mendarat di perutnya. Namun Jepang itu tak rubuh. Dia


hanya terjajar kebelakang.


Bedil masih terpegang ditangannya. Dan justru saat itu, dalam keadaan terjajar


kebelakang itu, telunjuknya menarik pelatuk bedil. Suara dentaman bedil


mengoyak malam yang kelam. Membuat terkejut kedua temannya yang berada di


depan. Mereka segera berlari kesamping.


Mei-mei merasa bahunya pedih. “Aku kena,” bisik hatinya. Namun dia tak


menyerah. Masih dia ingat betapa jahanam ini ketika di Payakumbuh dulu melanyau


dirinya. Mungkin memang tidak mereka. Tapi komandan komandan mereka. Namun apa


bedanya. Tubuhnya segera bangkit. Sebelum kedua Kempetai yang ada di depan


sampai ketempat itu, sebuah tendangan lagi menghantam kerampang Jepang itu.


Kali ini bedilnya jatuh. Kedua tangannya menggigil memegang tempat yang baru


saja kena tendangan. Terdengar keluhan yang menegakkan bulu tengkuk.


Dia segera saja jatuh di kedua lututnya. Tendangan itu benar benar tendangan


malaikat maut. Ketika dia terjatuh di atas kedua lututnya itulah sebuah


tendangan sisi kaki mendarat di tengkuknya. Riwayat Kempetai itu the end di


sana. Saat itu pula kedua serdadu yang tadi ada di depan sampai di situ. Mereka


melihat temannya terduduk. Yang paling depan mengangkat bedil. Namun jaraknya


dengan Mei-mei terialu dekat. Bedilnya direngutkan oleh gadis itu. Tubuh Jepang


itu terhuyung kedepan.


Sebuah tinju menyongsong mulutnya. Tangan Mei-mei terasa ngilu. Buku jarinya


mendarat dengan telak di bibir Jepang itu. Tapi kalau buku buku jarinya ngilu,


maka Jepang itu merasa mulutnya bengkak. Dan hampir saja dia menelan giginya


yang copot tiga buah.

__ADS_1


__ADS_2