
Tikam Samurai - 68
Tak peduli komandannya tadi belum keluar, yang jelas dia
harus cepat mendapat giliran. Dia masuk kamar itu. Didapatinya komandannya
masih terbaring dalam pakaian lengkap. Tapi yang menjadikannya heran adalah
karena komandannya itu terbaring tidak di tempat tidur. Melainkan di lantai.
Pertanyaan belum menjawab, ketika dia berpaling pada gadis itu, tangan gadis
itu bergerak cepat sekali. Pukulan dengan sisi tangannya mendarat di tengkuk
Kempetai itu. Kempetai tersebut bukanlah orang lemah. Sebagai seorang Kempetai,
dia belajar karate dan Yudo. Pukulan pertama dia tangkis dengan tangannya.
Namun meleset. Pukulan gadis itu amat cepat. Tapi pukulan itu belum
merubuhkannya. Dalam keadaan heran dan kaget Kempetai itu coba memeluk gadis
tersebut.
Itulah kesalahannya. Mei-mei membiarkan Kempetai itu memeluknya, disaat tubuh
mereka merapat, Mei-mei menghantamkan lututnya keatas. Mendarat persis di
selangkang Jepang itu. Jepang itu hampir saja terpekik. Mei-mei bertindak
cepat. Tangannya segera menutup mulut Jepang itu. Kalau teriakannya sampai
kedengaran oleh tiga temannya di luar, bisa berbahaya. Dan Kempetai itu melosoh
turun. Kentang kentangnya pecah. Mei-mei hari ini bukan lagi Mei-mei setahun
yang lalu.
Bukan lagi Mei-mei yang lemah yang tak dapat berbuat apa apa ketika tubuhnya
digumuli oleh perwira perwira Jepang di Payakumbuh dulu. Mei-mei hari ini adalah
gadis yang telah berisi. Dia membuktikan hal itu dengan merubuhkan kedua
Kempetai ini dengan mudah. Kempetai yang berpangkat Djun-i yang masuk pertama
kali tadi juga mendapatkan perlakuan yang sama. Begitu masuk dan menutup pintu,
dia segera memeluk dan berusaha mencium gadis itu.
__ADS_1
Mei-mei seperti akan membalas pelukannya. Namun kedua tangannya memegang leher
Djun-i itu. Begitu terpegang lehernya, sementara Jepang itu masih asik menciumi
mukanya, Mei-mei menghantam lututnya keselangkang Jepang itu. Ketika Jepang itu
tersentak kaget dan amat sakit, kedua tangannya memegang leher Jepang itu
bergerak pula. Yang satu mencengkram rambut di belakang kepala Kempetai itu.
Tangan yang satu lagi menghantam dagunya. Rambut Jepang itu dia tarik sekuat
kuatnya arak kekanan. Sementara dagunya dipukul arah kekiri.
Akibatnya kepala Jepang itu terputar denganpaksa amat kuat. Terdengar suara
tulang berderak. Leher Jepang itu patah tulangnya. Dia mati tanpa sempat
berteriak. Itulah yang dialami oleh Djun-i yang masuk pertama kali. Kini sudah
dua orang selesai oleh Mei-mei. Benci dan dendam yang telah lama menyala dalam
dada gadis ini kepada Jepang yang telah melaknati tubuhnya, kini mendapat
tempat pelampiasannya. Diam diam dia mengunci pintu kamar. Kemudian mengambil
mati itu. Lalu perlahan dia membuka jendela dan berjingkat dia keluar. Masuk
kedalam malam yang gelap.
Tadi dia mendengar ada tiga Jepang lagi menjaga di luar rumah. Dia ingin
menyudahi ketiga Jepang jahanan itu. Perlahan lahan dia menuju ke depan. Tiba
tiba langkahnya terhenti. Dari depan seorang Kempetai rupanya menaruh curiga
akan situasi rumah yang sepi itu. Dengan bedil terhunus dia mengitari rumah
tersebut. Dan dia melihat sesosok bayangan tegak mematung dekat dinding.
“Siapa itu..!” Jepang itu membentak sambil mengacungkan bedil yang siap
memuntahkan peluru.
“Malaikat maut..” Jawab Mei-mei dengan suara mendesis tajam. Dan seiring dengan
itu tubuhnya bergulingan di tanah. Dalam tiga kali bergulingan yang amat cepat,
dari posisi berbaring menyamping di tanah, kaki kanannya menghantam keatas.
__ADS_1
Terdengar seruan terkejut dan kesakitan dari mulut Jepang itu ketika sisi kaki
Mei-mei yang terlatih mendarat di perutnya. Namun Jepang itu tak rubuh. Dia
hanya terjajar kebelakang.
Bedil masih terpegang ditangannya. Dan justru saat itu, dalam keadaan terjajar
kebelakang itu, telunjuknya menarik pelatuk bedil. Suara dentaman bedil
mengoyak malam yang kelam. Membuat terkejut kedua temannya yang berada di
depan. Mereka segera berlari kesamping.
Mei-mei merasa bahunya pedih. “Aku kena,” bisik hatinya. Namun dia tak
menyerah. Masih dia ingat betapa jahanam ini ketika di Payakumbuh dulu melanyau
dirinya. Mungkin memang tidak mereka. Tapi komandan komandan mereka. Namun apa
bedanya. Tubuhnya segera bangkit. Sebelum kedua Kempetai yang ada di depan
sampai ketempat itu, sebuah tendangan lagi menghantam kerampang Jepang itu.
Kali ini bedilnya jatuh. Kedua tangannya menggigil memegang tempat yang baru
saja kena tendangan. Terdengar keluhan yang menegakkan bulu tengkuk.
Dia segera saja jatuh di kedua lututnya. Tendangan itu benar benar tendangan
malaikat maut. Ketika dia terjatuh di atas kedua lututnya itulah sebuah
tendangan sisi kaki mendarat di tengkuknya. Riwayat Kempetai itu the end di
sana. Saat itu pula kedua serdadu yang tadi ada di depan sampai di situ. Mereka
melihat temannya terduduk. Yang paling depan mengangkat bedil. Namun jaraknya
dengan Mei-mei terialu dekat. Bedilnya direngutkan oleh gadis itu. Tubuh Jepang
itu terhuyung kedepan.
Sebuah tinju menyongsong mulutnya. Tangan Mei-mei terasa ngilu. Buku jarinya
mendarat dengan telak di bibir Jepang itu. Tapi kalau buku buku jarinya ngilu,
maka Jepang itu merasa mulutnya bengkak. Dan hampir saja dia menelan giginya
yang copot tiga buah.
__ADS_1