
Tikam Samurai - 58
Dia lalu berganti pakain dengan kain sarung. Kemudian ke
kamar mandi berudhuk. Mei-mei belum tertidur. Dia melihat anak muda itu
sembahyang. Dia melihat tubuh anak muda yang semampai itu. Bermuka lembut atau
lebih tepat dikatakan murung. Sinar matanya sayu. Ketika si Bungsu selesai
sembahyang Isa, ketika dia menoleh mengucapkan salam dia melihat Mei-mei belum
juga tidur. Masih menatap padanya. Dia tersenyum pada gadis itu.
“Belum tidur Moy-moy ?”
Mei-mei menggeleng. Kemudian duduk di sisi tempat tidur. Si Bungsu masih duduk
di lantai yang beralas tikar. Mei-mei pindah duduk ke bawah, duduk tak jauh
dari si Bungsu.
“Koko sembahyang apa ?”
“Isa ..”
“Kenapa orang Islam harus sembahyang lima kali sehari semalam ?”
“Karena begitu suruhan Tuhan ..”
“Tidak melelahkan ?”
Bungsu menatap Mei-mei. Dia tersenyum. Pertanyaan begitu pernah memenuhi
tengkoraknya dulu. Ketika ayahnya selalu menyuruhnya sembahyang. Waktu itu dia
bukan hanya sekedar bertanya, tapi malah membangkangi suruhan ayahnya. Tak mau
sembahyang. Buat apa sembahyang, pikirnya. Kesempatan untuk bersuka ria adalah
waktu muda. Kelak kalau sudah tua, barulah sembahyang.
Lagi pula, sembahyang lima kali sehari semalam, alangkah seringnya. Kenapa
sembahyang itu tidak hanya sekali seminggu, atau paling tidak sekali dua hari
__ADS_1
misalnya. Itu mungkin lebih ringan
Namun ketika sendirian di Gunung Sago, ketika dia bersujud menyembah Allah di
tengah belantara, dia merasakan betapa tentram hatinya saat dan setelah
sembahyang. Dia merasakan betapa Tuhan melindunginya. Dia merasakan suatu
kedamaian setiap selesai sembahyang. Dia merasakan seperti mendapat tenaga dan
semangat baru selesai sholat. Ya, itulah intinya. Menemukan kedamaian dan
ketentraman, menemukan semangat dan tenaga baru, setelah mengerjakan suruhan
Tuhan. Perlahan dia menjawab pertanyaan Mei-mei,
“Tidak ada pekerjaan yang melelahkan, bila pekerjaan itu dikerjakan dengan
ikhlas. Apalagi kalau kita mencintai pekerjaan itu Moy-moy”
Mei-mei menatapnya.
“Engkau pernah sembahyang Moy-moy ?”
Mei-mei menggeleng.
saya tak lagi pernah melakukannya ..” ujar Gadis itu sembari menunduk.
“Nah, tidurlah Moy-moy. Koko juga mengantuk ..”
Namun mereka belum sempat membaringkan dirinya di tempat tidur, ketika
terdengar suara heboh. Suara heboh itu diikuti oleh suara menggedor pintu kamar
mereka.
“Hei beruk yang ada di dalam. Buka pintu ini cepat”
Suara berat terdengar memerintah. Dari suara yang berbahasa Minang itu, si
Bungsu segera tahu bahwa orang di luar adalah lelaki asal daerah ini. Dia
menatap pada Mei-mei yang tertunduk di tepi pembaringan. Kemudian mengambil
samurainya. Kemudian melangkah kepintu.
__ADS_1
“Tenang saja di dalam Moy- moy. Jangan buka pintu kalau bukan saya yang
menyuruhnya..”
“Koko ..” gadis itu berlari memeluknya.
“Tenanglah ..”
“Jangan tinggalkan saya koko ..”
“Tidak. Saya akan kembali ..”
“Saya akan bunuh diri kalau koko meninggalkan saya..”
“Tenanglah. Nah kunci pintu ..”
Dia muncul di gang di luar kamarnya. Di depan pintu, orang lelaki berjambang
kasar tegak berkacak pinggang. Begitu dia muncul, lelaki itu mencekal
lengannya. Kemudian menariknya keruang tengah. Mendorongnya hingga si Bungsu
terjajar.
“Ini beruk yang waang katakan itu Pudin ?” orang bertubuh kasar itu berkata.
Si Bungsu menatap pada orang itu. Dan dia segera kembali mengenali kelima
lelaki yang mencoba merampoknya tadi. Di sana juga ada sopir bus.
“Benar. Dialah orangnya Datuk ..” jawab si Kurus.
Orang bertubuh besar itu menggerendeng. Sementara penghuni penginapan yang lain
tak berani menampakkan muka. Mereka lebih merasa aman berada rapat rapat di
bawah selimut daripada mencampuri urusan orang yang satu ini.
“Waang telah melukai anak buah saya buyung. Itu hanya bisa dibayar dengan dua
hal. Pertama dengan seluruh isi bungkusan yang waang bawa. Atau kalau waang
keberatan, maka harus waang bayar dengan nyawa waang dan tubuh bini waang …”
dan si Tinggi besar itu meludah.
__ADS_1