
Tikam Samurai - 76
“Maafkan saya pak … mereka …”
Bungsu tak dapat melanjutkan ucapannya. Bagaimana dia akan berkata. Bagaimana
dia akan menyampaikan musibah itu? Dia memang tak perlu menyampaikannya.
Begitu mula datang tadi, Datuk ini sudah dapat menduga apa yang terjadi. Dia
sudah menduga bahwa istri dan anaknya telah binasa. Matanya menyapu sekitar
tempat itu. Di balik unggun rumahnya yang telah runtuh, dia lihat sesosok tubuh
terbujur ditutupi kain. Dekat batang pisang, dia lihat tubuh si Upik, anaknya.
Lelaki tua itu, yang sehari hari adalah kusir bendi, tapi dalam jiwanya
berkobar semangat perjuangan untuk kemerdekaan bagi bangsanya itu, tertegak
dengan diam. Matanya bergantian menatap kedua mayat anak dan istrinya. Perlahan
di pipinya yang tua kelihatan air mata mengalir. Si Bungsu jadi kagum melihat
ketabahan orangtua ini. Dia sudah melihat jenazah anak dan istrinya. Namun
setapakpun dia tak beranjak dari tempatnya.
“Kalian menjadi orang pertama yang meninggal sebagai korban perang kemerdekaan di
kota ini. Semoga Tuhan menerima kalian …” dia berkata perlahan pada anak dan
istrinya.
Ya, kedua anak beranak itu, korban korban pertama di kota Jam Gadang itu dalam
sejarah perjuangan kemerdekaan. Mereka memang tak terlibat langsung dalam
peperangan itu. Sebab perang kemerdekaan belum lagi dimulai. Sementara di
Payakumbuh, ayah si Bungsu dan teman temannya yang mati di tangan Kempetai
lebih dari setahun yang lalu, merupakan tumbal pertama pula bagi perang
kemerdekaan yang akan meletus itu. Datuk Penghulu masih tertegak melihat mayat
anak dan istrinya dari jauh. Melihat api menjilat sisa rumahnya. Si Bungsu yang
tadi heran melihat kenapa Datuk itu tak mau mendekat mayat istri dan anaknya,
__ADS_1
tiba tiba merasa tegang.
Diantara gemertak suara api memakan sisa rumah, di antara kesepian yang
mencekap di hutan bambu Kampung Tarok itu nalurinya menangkap sesuatu. Naluri
yang dia bawa turun dari gunung Sago. Setahun dia hidup di rimba belantara itu.
Hidup dan bersaing dengan kekerasan dan keganasan alam. Hidup dan belajar untuk
tetap bertahan tak mati dari keganasan binatang buas.
Naluri yang sudah tertempa. Karena dia manusia, maka nalurinya melebihi naluri
hewan buas di hutan. Kini, dia menangkap sesuatu yang mengancam jiwa. Ancaman
itu datang dari sekitar tempat mereka kini tegak. Datang dari arah kegelapan
hutan bambu yang tegak seperti iblis mengelilingi mereka. Ketinggian pohon
pohon bambu di kampung Padang Gamuak Tarok itu seperti tangan elmaut yang siap
mencekik leher mereka.
Tubuhnya jadi tegang. Telinganya yang amat tajam, yang terlatih selama dua
tahun di rimba gunung sago, menangkap bunyi-bunyi halus di belakangnya. Dia
sekitar dua depa.
“Ada orang datang pak Datuk …” Katanya perlahan sekali. Tapi suaranya yang
perlahan itu terdengar oleh Datuk tersebut.
“Ya. Tapi berbuatlah seperti kita tak tahu. Mereka enam orang berbedil dan
mereka adalah Kempetai …”
Ujar si Datuk perlahan. Si Bungsu jadi kaget. Dia hanya baru taraf mengetahui
bahwa ada orang datang. Tapi Datuk itu telah mengetahui jumlahnya. Dan
mengetahui bahwa yang datang itu adalah serdadu Jepang. Dia telah menjalani
latihan setahun penuh. Belajar dari binatang buas di gunung Sago. Kepandaiannya
dalam mendengarkan sesuatu yang jauh sangat tajam. Tapi Datuk Penghulu ternyata
punya firasat lebih tajam lagi. Bayangkan betapa tingginya ilmu Datuk itu. Diam
__ADS_1
diam si Bungsu memuji ketinggian ilmu orang tua ini.
“Biarkan tubuh Mei-mei di sana. Mereka pasti menyangka gadis itu telah mati.
Hitung enam hitungan setelah ini. Kemudian melompatlah. Kita balas kejahanaman
mereka,” ujar Datuk perlahan.
Begitu habis ucapannya, tiba-tiba Datuk itu memekik. Tubuhnya melenting dan
tiba-tiba bergulung lenyap kedalam palunan semak empat depa sebelah kanan Si
Bungsu mengikuti. Dengan mempergunakan lompat tupai yang sangat mahir, tubuhnya
bergulingan ke belakang. Dan lenyap ke balik pohon buluh. Saat itu pulalah enam
senjata meledak. Tapi tembakan itu menemui tempat kosong. Terdengar makian
dalam bahasa Jepang.
Tentara Jepang itu, setelah sampai ke markasnya rupanya segera diperintahkan
lagi oleh komandannya untuk kembali.
“Mereka pasti pulang. Dan tangkap Datuk itu atau anak muda yang bernama si
Bungsu keparat itu. Dia baru saja membunuh dua orang Kempetai di pasar sebentar
ini …” Ujar komandan Kempetai itu berang.
Enam orang Kempetai segera kembali ke Tarok. Dan memang benar, mereka datang
persis ketika Datuk Penghulu itu sampai di sana. Mereka lalu mengendap-endap
mendekati kedua orang itu. Maksudnya untuk menyergap mereka setelah dekat.
Ternyata kedatangan mereka diketahui kedua orang itu.
“Datuk. Menyerahlah ..” seorang Kempetai berpangkat syo cho (sersan mayor)
berteriak.
Namun yang menyahut hanyalah sepi. Dia memberi isyarat. Dan enam bedil di
tangan mereka kembali menyalak. Tiga ke arah semak dimana Datuk Penghulu tadi
lenyap. Tiga lagi kearah lenyapnya si Bungsu. Kedua tempat itu dirobek-robek
peluru. Namun tak ada suara apa apa. Kempetai itu nampaknya sudah bertekad
__ADS_1
untuk membunuh saja kedua orang ini.