TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 67


__ADS_3

Tikam Samurai - 67


Dia saksi langsung saat sumpah itu diucapkan. Adalah


kewajibannya untuk melaksanakan. Karena itu, selama setahun di rumah Datuk dia


melatih kecepatan samurainya dalam hutan bambu yang ada di sana.


Dia mengulangi lagi cara latihannya seperti di gunung Sago dahulu. Mencabut dan


memasukkan samurai secepat yang mampu dia laksanakan. Memancungkannya keempat


penjuru. Berkali kali hal serupa itu dia ulangi. setelah kecepatannya kembali


normal, lalu dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Mengerahkan tenaga


untuk mendengarkan geseran yang paling halus sekalipun ketika angin berhembus.


Beberapa daun bambu jatuh. Dia menanti, ketika daun bambu itu tinggal sedepa


dari permukaan tanah dia mencabut samurainya, secepat kilat. Kemudian dengan


masih tetap memejamkan mata, dia bergerak dua langkah kekanan. Menyabetkan


samurainya dua kali. Dua helai daun bambu terbelah.


Kemudian berguling cepat kekiri, menyabetkan samurainya dua kali, sehelai daun


bambu belah dua. Dan sehelai lagi luput dari tebasan samurainya. Dia mengulangi


latihan begitu terus menerus. Hingga akhirnya kecepatan dan kemahirannya


bertambah dari yang sudah sudah. Selama setahun itu mereka tetap tinggal


bersama Datuk Penghulu dan Tek Ani. Dengan uang yang mereka bawa dari


Payakumbuh, ditambah perhiasan yang mereka peroleh dari rumah Babah gemuk


pimpinan komunis itu, Mei-mei dan si Bungsu dapat membantu kehidupan Datuk itu.


Bahkan Mei-mei menyuruh si Upik sekolah terus dengan biayanya. Malam itu,


ketika Datuk Penghulu dan si Bungsu tak di rumah, Mei-mei tengah membaca Al Quran,


Tek Ani dan Upik menyimaknya. Suaranya yang halus lembut seperti membelah hutan


bambu. Menyelusup di antara pohon pohon dan daunnya yang hijau. Di rumah Datuk

__ADS_1


itu hanya mereka bertiga kini.


Datuk Penghulu entah berada dimana. Kegiatannya sangat memuncak. Sebab waktu


itu adalah penghujung bulan Juli 1945. Yaitu dua pekan lagi sebelum Proklamasi


dibacakan di Pengangsaan Timur Jakarta Pejuang pejuang Indonesia saling


mengadakan kontak dengan tokoh tokoh pergerakan. Datuk Penghulu pimpinan dari


delapan kurir utama kaum pejuang yang berpusat di Bukittinggi. Dialah yang


menghubungkan kontak antara Mayor Dakhlan Jambek yang saat itu bertugas dalam


Gyugun dan bermarkas di Pasaman dengan Mayor Makkimuddin di Payakumbuh.


Kepada mereka disampaikan pesan pesan dari Engku Syafei. Tokoh pejoang di bawah


tanah yang bermarkas di Kayu Tanam. Kontak itu juga menghubungkan mereka dengan


encik Rahmah El Yunussiyah. Seorang pejuang wanita yang mendirikan sekolah


Diniyah Puteri di Padangpanjang. Menjelang hari Proklamasi, kesibukan para


pejuang sangat meningkat. sebaliknya, Kempetai yang merupakan Polisi Militer


Jepang, memperketat pula pengawasan mereka.


dalam pengawasan utama dan sangat ketat. Gerak gerik mereka diawasi secara


rahasia. Dari pengawasan dan penyelidikan itulah bocor rahasia tentang diri


Datuk Penghulu ayah si Upik di Padang Gamuak itu. Dari penyelidikan diketahui


bahwa kusir bendi hanya dibuat sebagai kedok saja dari tugas mata matanya.


Kempetai menyiapkan suatu penyerangan ke rumahnya.


Dan malam itu lima orang Kempetai pilihan datang kerumah mereka. Namun seperti


telah diutarakan di atas, saat itu Datuk tersebut tak ada di rumah. Yang ada


hanyalah istri Datuk itu, Mei-mei dan si Upik. Perempuan ketiganya. Si Bungsu


sendiripun tak ada di rumah tersebut. Dia tengah menggantikan tugas Datuk


Penghulu membawa bendinya. Ada berita penting yang sedang dia nanti di kota.

__ADS_1


Yaitu tentang diri Saburo. Untuk itu dia menyamar sebagai kusir untuk menemui


kurir di kota. Tek Ani, si Upik dan Mei-mei kaget dan terhenti mengaji tatkala


pintu didobrak oleh Kempetai.


“Mana Datuk Penghulu ..”


Seorang Kempetai bertanya dengan senjata terhunus. Sementara yang seorang lagi


mengawasi set iap sudut rumah. Mata mereka merah dan nyalang. Waspada terhadap


segala kemungkinan. Ketika pernyataan itu diulangi, barulah tek Ani menjawab,


bahwa suaminya memang tak ada. orang yang menggeledah itu kemudian berbisik


bisik dengan Komandannya yang berpangkat Djun-i (Pembantu Letnan) yang memimpin


penggerebekan itu. Djun-i itu menatap Mei-mei dengan mata berkilat. Ketika dia


mengangguk, yang berbisik tadi lalu keluar. Lalu terdengar suaranya menyuruh


jaga sekitar rumah itu. Dari jawaban di luar, Mei-mei segera tahu bahwa di luar


ada tiga orang lagi tentara Jepang.


“Hei, kamu sini ikut. Saya mau periksa ..” Ujar Djun-i itu kepada Mei-mei.


Si Upik mulai menangis. Tapi dia terdiam begitu dibentak oleh Kempetai yang


seorang lagi. Perlahan Mei-mei bangkit. Mei-mei itu menelan ludahnya melihat


tubuh montok gadis cina itu. Segera saja dia menyeret tangan Mei-mei ke bilik


yang biasanya ditempati si Bungsu.


Kemudian pintu dia tutup, Si Upik memeluk ibunya dengan wajah pucat. Sementara


serdadu yang satu lagi menatap mereka dengan seringai buruk. Dari dalam kamar


terdengar suara gelosokposoh tak menentu. Dan Kempetai yang di ruang tengah itu


menelan ludahnya beberapa kali. Membayangkan kenikmatan yang sedang dikenyam


oleh komandannya di dalam bilik itu bersama gadis montok tadi. Dia jadi tak sabaran


menunggu giliran, cukup lama dia menanti, dan tiba tiba pintu kamar terbuka.

__ADS_1


Mei-mei muncul dengan senyum di bibir. Dia memberi isyarat pada Kempetai yang


ada di ruang tengah itu. Kempetai itu bergegas.


__ADS_2