TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 98


__ADS_3

Tikam Samurai - 98


Nah, saat akan rubuh itulah dia sempat membabat perut Datuk


Penghulu Dan babatannya sebagai seorang samurai andalan, berhasil membelah


perut Datuk Penghulu serta memutus ususnya. Datuk itu masih bisa bertahan tetap


tegak semata-mata karena ketangguhan dan kekerasan hatinya saja. saat si Bungsu


jatuh pingsan, mata Datuk itu terpejam. Di sudut matanya kelihatan manik-manik


air merembes perlahan. Lalu kepalanya terkulai bersama tubuhnya.


Tergeletak mencium bumi. Nyawanya dijemput Yang Khalik sebelum tubuhnya


sempurna terguling di bumi Semua tentara Jepang yang tegak mengelilingi orang


tua itu pada tertegun.


Diam-diam mereka mengagumi keperkasaan lelaki yang tersungkur di hadapan mereka


ini. Dihadapan mereka sekarang tergeletak dua manusia yang barangkali tak


terpaut jauh beda usianya. Yang satu adalah komandan mereka yang berpangkat


mayor itu. Yang satu lagi adalah Datuk Penghulu. Lelaki pribumi yang tercatat


sebagai musuh balatentara Jepang.


Yang satu mati karena melawan fasisme yang menjajah negaranya. Yang satu lagi


tergolek hampir ****** karena mempertahankan kekuasaan negerinya untuk menjajah


negeri lain. Keduanya sama-sama pejuang buat negeri masing-masing. Keduanya


sama-sama mengabdikan dirinya buat bangsa mereka pada posisi yang saling


berhadapan.


Si Bungsu tak tahu beberapa lama sudah dia jatuh pingsan. Namun ketika dia


sadar yang pertama dia rasakan adalah rasa sakit yang amat menyiksa di bahunya.


Demikian sakitnya, sehingga tubuhnya terasa menggigil. Panas dan berpeluh.


Demam dengan panas yang amat tinggi masih menyerang dirinya. Dia tak kuasa


menggerakkan tubuh. Bahkan menggerakkan jari-jarinya saja dia tak kuat.

__ADS_1


Satu-satunya yang mampu dia perbuat kini hanyalah membuka kelopak matanya.


Terasa berat. Tapi dia paksakan juga. Penglihatannya berputar. Merah, hitam,


kuning, hijau. Warna-warni tak menentu bermain dan berpusing di hadapannya. Dia


pejamkan matanya kembali. Dengan pendengarannya yang amat terlatih dia mencoba


menangkap suara. Tapi tak terdengar apapun, kini lambat-lambat kembali dia buka


matanya. Dan menarik nafas. Menatap ruangan di mana dia kini berada.


“Pak Datuk ….” Himbaunya tatkala melihat sesosok tubuh terikat empat depa di


depannya. Tak ada jawaban.


“Pak Datuk . . .” Himbaunya lagi dengan suara pecah.


Lambat-lambat sosok tubuh itu mengangkat kepala. Bukan, dia bukan Datuk


Penghulu. Si Bungsu segera mengenalinya sebagai salah satu seorang pimpinan


rapat di Birugo dahulu. Dia memang tidak mengenal siapa namanya, tapi dia kenal


betul lelaki itu. Saat dalam rapat itu dahulu lelaki ini hanya berdiam diri.


“Datuk Penghulu telah meninggal, Bungsu ….” ujar lelaki itu mulai bicara.


“Ya, dia meninggal ketika mula pertama kalian ditangkap di Kota Baru. . . .”


“Meninggal? Datuk Penghulu meninggal?” Bungsu masih berkata sendiri. Sepertinya


tak percaya dia akan apa yang dia dengar.


“Mustahil, mustahil Datuk Penghulu meninggaL Bukankah dia melihat lelaki itu


tegak dengan perkasanya setelah menghantam Syo Sha itu dengan sebuah


tendangan?”


“Tak ada yang mustahil bagi takdir Tuhan anak muda. Datuk Penghulu memang telah


meninggal. Banyak jasanya bagi persiapan perjuangan yang akan datang. Tapi


selain teman-teman dekat, tak ada orang lain yang mengenali perjuangannya.


orang hanya mengenal dia sebagai kusir bendi. Tak lebih. Dan kami, telah


kehilangan seorang pejuang, seorang teman, seorang mata-mata yang tangguh.

__ADS_1


Seorang guru silat yang berilmu tinggi. Hanya ada seorang muridnya yang


menerima warisan ilmunya. Seorang gadis cina bernama Mei-mei. Tapi saya dengar


gadis itu sudah meninggal pula beberapa waktu yang lalu. Kini, ilmunya itu dia


bawa mati. . . .”


Lelaki itu terdiam. Si Bungsu menatapnya. Nampaknya lelaki ini cukup banyak


mengetahui tentang Datuk Penghulu. Meski ada juga yang tak dia ketahui,


misalnya tentang diri Mei-mei yang sebenarnya adalah tunangannya.


“Saya melihat Bapak dalam rapat di Birugo dahulu. Siapakah bapak?”


“Nama saya Kari Basa . . .” Ucapan lelaki itu terhenti tatkala pintu terdengar


berderit.


“Nah, sejak saat ini, kita saling tak mengenal.”


Lelaki itu masih sempat berkata perlahan sebelum pintu diujung terbuka. Dan


kepala lak-laki itui terkulai lagi, pura-pura pingsan. Si Bungsu buat pertama


kalinya menyadari, bahwa dirinya terikat kuat. Tangannya digantung ke atas.


Kakinya diikat ke lantai. Buat pertama kalinya pula dia menyadari, dia kini


berada di dalam sebuah gua. Dalam gua.


Tadi dia tak menyadari hal itu karena terpukau akan berita kematian Datuk


Penghulu. Dan kini dalam guha itu telah tegak tiga orang Kempetai. Gua itu


diterangi oleh lampu listrik. Si Bungsu bisa menebak. bahwa dia berada di salah


satu terowongan yang digali Jepang di bawah kota Bukittinggi.


Dia sudah banyak mendengar cerita tentang gua di kota itu. cerita dari bisik ke


bisik. Sebab tak ada cerita yang pasti tentang penggalian terowongan itu. Para


lelaki yang menggali adalah romusha yang diambil dari Tentara Sekutu yang


ditawan setelah dilucuti, ditambah dengan ribuan lelaki bangsa Indonesia dari


segala penjuru tanah air. Termasuk di dalamnya puluhan laki-laki dari kota

__ADS_1


Bukittinggi dan daerah-daerah lainnya di Minangkabau.


__ADS_2