TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 102


__ADS_3

Tikam Samurai - 102


Dan ketika ketiga Kempetai yang menyiksa Kari Basa itu


muncul lagi dengan menyeringai si Letnan berkata.


“HHmmmmm ….. .ingin lari ya. He. .hee. .ingin lari he.. he . .” Seringainya


amat buruk. Tapi yang lebih buruk lagi adalah perlakuan setelah itu. Si Bungsu,


seperti halnya Kari Basa, dipaksa untuk mengatakan siapa-siapa saja yang


diketahuinya mengorganisir perlawanan terhadap Jepang.


Siapa saja teman Datuk Penghulu. Siapa saja yang telah dihubungi mereka dalam


Gyugun. Apakah Engku Syafei di Kayu Tanam, Encik Rahman El Yunussiyah di Padang


Panjang termasuk ke dalam orang-orang yang menyusun kekuatan ini.


Kemudian kepadanya dibacakan pula sederet nama Gyugun seperti yang dibacakan


pada Kari Basa. Berlain dengan Kari Basa yang selalu menggeleng, maka si Bungsu


hanya menatap dengan pandangan dingin pada ketiga Kempetai itu. Tak pernah


menggeleng sekalipun. Tak pernah mengangguk sedikitpun.


Dan ketiga Kempetai itu mengerjakannya dengan sempurna pula. Ketiga mereka


nampaknya dilatih untuk menjadi orang-orang yang tak mepunyai kemanusiaan.


Dalam ketentaraan nampaknya memang dididik orang-orang seperti mereka. Gunanya


untuk bahagian interogasi.


Dan ketiganya spesialis penyiksaan ini sambil tertawa gembira, sambil


menyeringai buruk, mempermak tubuh si Bungsu. Tahap pertama, si Kopral


mempergunakan tubuh si Bungsu yang terikat itu sebagai sebuah karung latihan.


Yaitu karung yang diikatkan dan diisi dengan pasir. Bagi siswa-siswa beladiri,


karung seperti ini dinamakan sansak dakam dunia tinju atau makiwara dalam dunia


karate, dipergunakan untuk melatih tendangan dan pukulan.

__ADS_1


Nah, itulah kini fungsi tubuh si Bungsu. Kopral itu beberapa kali melambung


yang diakhiri dengan mendaratnya tendangannya di perut dan didada si Bungsu.


Letnan itu mepergunakan buku tangannya untuk menghajar wajah anak muda


tersebut. Si Bungsu berusaha untuk tak memekik. Kendati terpaksa mengeluh


beberapa kali saking amat sakitnya. Kemudian muntah. Isi perutnya keluar


bersama darah kental. Tubuhnya kemudian diguyur dengan air. Ketika sadar, dia


lihat Letnan itu sudah memegang samurai.


“He .. he kau kabarnya mahir dengan samurai. Kini kau lihat pula permainan


samuraiku”.


Sehabis ucapannya, samurai itu berkelebat cepat. Si Bungsu menggigit bibir agar


tak memekik kesakitan. Pakaiannya segera saja cabik-cabik disambar ujung


samurai si letnan. Dan bersamaan dengan itu, dadanya. Wajahnya, perutnya


robek-robek. Darah mengalir dengan deras dari bekas lukanya.


Kopral yang sama-sama sadisnya dengan si letnan itu mengambil air bekas


pengacau semen. Kemudian menyiramkannya pada tubuh si Bungsu yang penuh luka


itu. Ya, Tuhan, benar-benar Tuhan saja yang mengetahui betapa menderitanya anak


muda tersebut.


Bayangkan, tubuh yang penuh luka di siram dengan air pengacau semen Pedih dan


sakit sekali. Sakitnya mencucuk-cucuk ke hulujantung yang paling dalam.


Menyelusup ke seluruh pembuluh darah. Ke seluruh sumsum.


Namun siksaan itu berlanjut terus, menyebabkan si Bungsu harus menggigit bibir


sampai berdarah. Dia tak ingin menjerit. Tak ingin. Ada dua hal yang dia jaga.


Pertama dia tak mau Kari Basa sampai terbangun dari pingsannya mendengar


jeritannya. Dia ingin memberi istirahat pada orang tua yang dia hormati itu.

__ADS_1


Dan sebab kedua kenapa dia tak mau menjerit adalah karena malu pada Kari Basa.


Kalau orang tua itu sendiri tak menyerah, kenapa dia harus menunjukkan


kelemahannya dengan menjerit? Meskipun dengan siksa yang dia terima sebenarnya


dia ingin menjerit setinggi langit, namun dia paksa untuk menahannya. Padahal


setiap orang tahu, jika kesakitan, maka tangis pekik merupakan salah satu


faktor yang dapat mengurangi sakit dan derita yang ditanggung.


Rasa sakit dan derita itu berkurang bukan dari segi fisiknya. Melainkan dari


segi psikologisnya. Rasa sakit tetap sama. Menjerit atau tak menjerit. Tetapi


secara ilmu kejiwaan, menjerit atau menangis bagi seorang penderita merupakan


penyaluran. Dan sebuah penyaluran merupakan pengurangan bagi penderitaan. Itu


teorinya. Tetapi si Bungsu tak mau memakai teori ini. Baginya lebih baik dan


lebih terhormat untuk tetap diam. Meskipun bibirnya berdarah dia gigit dalam


usahanya menahan sakit yang tak tertanggungkan itu.


Selesai upacara penyayatan dengan samurai itu, maka letnan tersebut istirahat


sejenak. Namun itu bukan berarti istirahat pula bagi penderitaan si Bungsu.


Sebab begitu si Letnan duduk. si prajurit tegak. Dengan tang di tangan, dia


maju melangkah mendekati si Bungsu.


“Katakan siapa-siapa yang ikut dalam gerakkan kalian Siapa pula diantara Gyugun


yang terlibat . .?” Ujar si Letnan dari tempat duduknya.


Si Bungsu tetap diam. Dia tengah membayangkan kesakitan yang akan dia derita.


Dia tahu, tang ditangan prajurit sadis itu akan dipakai untuk mencabut


kuku-kukunya seperti yang telah dilakukan pada Kari Basa. Karena dia diam,


Letnan itu memberi isyarat. Si Prajurit meraih sebuah tong. Meletakkan disisi


kiri si Bungsu. Kemudian dia naik ke atas.

__ADS_1


__ADS_2