
Tikam Samurai - 77
“Jahanam …” Sersan itu menyumpah.
Tetapi saat itu pula dari arah kiri mereka sebuah bayangan berkelebat. Datuk
Penghulu menghambur. Seorang Hei-cho (Kopral) yang tegak paling belakang
tiba-tiba melihat kehadiran Datuk itu di depannya. Dia mengangkat bedil. Namun
kaki Datuk itu bekerja cepat sekali tendangan pertama mendarat di kerampang
Jepang itu. Jepang itu memekik. Namun sebelum pekikannya habis tendangan kedua
menghantam lehernya disusul sebuah tusukan jari tangan yang amat cepat dan amat
kuat. Terdengar Jepang itu meraung.
Kedua biji matanya tercukil keluar. Bukan main cepatnya kejadian itu
berlangsung. Sehingga ketika kelima Kempetai yang lain menoleh, yang kelihatan
hanyalah bayangan tubuh Datuk itu lenyap ke dalam palunan semak. Kembali lima
senjata menyalak kearah semak itu. Namun sepi. Kempetai yang satu itu meraung,
matanya buta seketika. Namun raungnya tiba-tiba terhenti. Kedua tendangan Datuk
itu ternyata mengakhiri penderitaannya. Sersan Mayor tadi memerintahkan untuk
membuat lingkaran dengan membelakangi satu sama lain. Dengan demikian tak ada
kemungkinan diserang dari belakang.
Krosaakk…!!
Terdengar semak berisik di sebelah kiri mereka. segera saja senjata mereka
terarah dan memuntahkan peluru ke arah itu. Tapi begitu senjata mereka menyalak
dan mereka memandang ke arah semak itu, tubuh Datuk Penghulu kembali muncul di
sebelah kanan. Kini sebilah keris di tangannya. Tanpa memberi ampun, kerisnya
beraksi. seorang Kempetai berpangkat Nitto-Hei (Prajurit dua) pertama-tama jadi
sasaran. Dia akan memalingkan kepala melihat Datuk yang muncul tiba-tiba itu,
tapi itulah gerakannya yang terakhir. Karena setelah itu lehernya hampir putus
__ADS_1
ditebas Datuk Penghulu. Sasaran berikutnya adalah prajurit di kanannya. Sebuah
tendangan mematahkan rusuknya. Ketika ia melenguh, sebuah cuek belakang menghantam
jantungnya. Sesuai cuek itu tubuh si Datuk melompat dan lenyap ke dalam gelapan
kedua Jepang itu mati.
“Bageroooo…!! si sersan mayor berteriak berang.
Dalam waktu hanya sepuluh hitungan, tiga orang anak buahnya mati. Kini mereka
jadi gugup dan tegang. Sersan mayor itu berniat untuk menarik regunya. Untuk
melanjutkan menyerang membabi buta tak mungkin. Mereka memang punya bedil tapi
daerah ini bukan daerah mereka, cuaca sangat gelap, satu-satunya cahaya
penerangan hanyalah cahaya api bekas rumah Datuk yang terbakar itu. Itupun
cahayanya sangat sedikit.
Mereka bisa saja menembak tak menentu. Tapi kedua orang itu bisa menghindar
sebelum bedil meledak. Sebab mereka berada dalam kegelapan. Lagipula mereka
“Kami akan kemari lagi. Kami akan menangkap kalian. Awaslah..!!”
Seru si sersan menggertak. Lalu dia memberi isyarat pada kedua temannya untuk
mengundurkan diri. Mereka mulai melangkah langkah demi langkah dengan senjata
siap ditembakkan. Dari semak persembunyiannya, Datuk Penghulu melihat mereka
dengan penuh dendam dan kebencian.
“Giliranmu, Bungsu..!”
Dia berseru dari tempat persembunyiannya. Begitu suaranya terdengar, begitu
ketiga Kempetai itu menembaki tempat gelap tersebut. Namun Datuk ini sudah
pindah tempat. Dia bergerak amat cepat. Kembali Kempetai itu menembaki tempat
kosong.
Akan halnya si Bungsu, sejak tadi menonton saja dari persembunyiannya bagaimana
Datuk itu membantai ketiga Jepang tersebut. Dia kagum pada gerakan silat Datuk
__ADS_1
Penghulu itu. Dan kini dia mendengar Datuk itu meminta dia bertindak. Ketiga
Kempetai itu mundur terus. Selangkah, dua, tiga, empat, lima. Tak terlihat ada
gerakan dari si Bungsu. Datuk Penghulu menatap terus. Dia yakin anak muda itu
akan bertindak. Kempetai itu makin jauh.
“Siap-siaplah untuk lari. Kampung ini kampung setan,”
Bisik si sersan mayor pada kedua temannya. Teman-temannya dengan mata sipit
yang dibesar-besarkan coba menembus kegelapan malam untuk melihat kalau-kalau
kedua orang yang bersembunyi itu muncul.
“Nah sekarang lariii…!” sersan mayor itu berseru.
Kedua temannya segera balik kanan dan mulai melangkah lebar. Namun saat itu
pula sedepa di depan mereka pohon-pohon bambu pada bertumbangan kejalan yang
bakal mereka lalui. Tidak hanya dua tiga batang. Pohon bambu itu tumbang dalam
jumlah puluhan batang. Kempetai itu jadi kalang kabut. Ada yang tertelungkup
kesandung, ada yang takapere mencoba mengelak dari bambu yang rubuh seperti
hujan lebat dalam gelap itu. Datuk penghulu menatap kejadian itu dengan tersenyum
tipis. Si Bungsu mulai beraksi.
Ternyata dia yang membabat rumpun bambu di pinggir jalan yang akan dilalui
sebagai tempat lari oleh para Kempetai.
“Bagero. Bagerooo. Bageroo. Ute Utee Utee (tembak)”
Sersan mayor itu menghardik, memerintah dan bercarut bungkang memerintahkan
agar kedua anak buahnya menembak, kearah mana saja dan apa saja. Pokoknya bedil
meletus. Terdengar tiga bedil menyalak. Tapi tembakan mereka tak menentu. Ada
yang menghadap ke atas. Ada yang ke tanah. Sebab pada waktu menembak mereka
juga harus menghindarkan diri agar tak tertimpa pohon-pohon bambo yang runtuh
seperti hujan. Lalu tiba-tiba sepi. Pohon bambu tak ada lagi yang runtuh.
__ADS_1