TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 36


__ADS_3

Tikam Samurai - 36


”Ya, Saburo!. Kenapa…?” Mariam tertegun kecut melihat sikap


si Bungsu.


”Dialah yang telah membunuh ayah, ibu dan memperkosa kakakku sebelum dia


dibunuh. Kemudian dialah yang membabat punggungku dengan samurainya. Jahanam.


Di mana dia kini…?!” Suara Si Bungsu hampir saja tak bisa di kontrol jika tidak


cepat-cepat mulutnya ditutup dengan tangan oleh Mariam.


”Tenanglah. Kamura di sebelah. Saya tak tahu dimana Saburo. Sudah lama dia tak


datang kemari. Padahal biasanya tiap malam dia pasti datang…”


”Mariam. Apakah engkau tak berniat untuk meninggalkan tempat ini?”


”Kemana?”


”Kemana saja. Asal jangan kembali ke tempat ini. Barangkali kau bisa hidup


dengan tenang si suatu tempat. Dengan seorang suami….” Mariam mulai lagi


terisak.


”Siapa yang tak menginginkan kehidupan yang tentram dengan seorang suami?


Itulah dulu yang kuinginkan ketika kawin dengan pemuda yang kucintai sampai


Saburo membunuhnya. Dan kini, siapa lagi lelaki yang mau menerimaku sebagai


isterinya?”


”Tapi engkau juga tak mungkin di sini terus Mariam…”


”Lalu akan kemana aku?”


”Carilah suatu tempat yang jauh dari sini. Mungkin ada lelaki yang mencintaimu.


Engkau masih muda dan …. cantik….”


”Takkan ada yang mau, apalagi bila mereka tahu siapa aku…”


”Engkau belum mencobanya. Jangan menyerah sebelum kau coba….”


”Baiklah, akan kucoba sekarang. Aku mau meninggalkan tempat ini. Aku mau pergi

__ADS_1


kalau kau menikahiku. Apakah kau bersedia menjadi suamiku?”


Si Bungsu tertegun. Dia tak menduga perempuan ini akan berkata begitu. Melihat


dia tertegun, Mariam berkata lagi.


”Jangan coba mengelak dengan mengatakan bahwa engkau telah punya isteri. Saya


mengenal lelaki yang telah kawin dengan yang masih bujangan. Nah, maukah engkau


menikah denganku?” Perempuan itu menatap nanap padanya. Si Bungsu terdiam,


peluh mulai membasai tubuhnya. Mula-mula dia masih bisa menatap Mariam. Tapi


kemudian dia tertunduk Mariam terisak. Menelungkup di tilam tipis di


pembaringannya. Si Bungsu jadi serba salah. Perlahan dia pegang bahu perempuan


itu, mendudukkannya, kemudian tiba-tiba Mariam memeluknya sambil menangis.


”Diamlah…jangan menangis..” ujarnya pelan. Ketika perempuan itu masih terisak,


perlahan di pegang wajahnya. Entah apa yang mendorongnya, tahutahu pipi perempuan


itu diciumnya. Lalu..dengan lembut ciumannya pindah ke bibir perempuan itu.


Perempuan itu sesaat masih terisak. Kemudian terdiam, laqlu membalas ciuman si


Si Bungsu kaget dan malu.


”Aku perempuan pertama yang kau cium, Uda?” Mariam bertanya dengan suara


gemetar. Si Bungsu ingin mengangguk. Namun anggukannya tak jadi. Ingin


menggeleng, tapi dia tak bisa berdusta. Perasaan malu dan takut bercampur aduk.


”Terima kasih Uda. Engkau membuat aku bahagia. Akan kukenang ciuman ini,”


Mariam berkata sambil menghapus air matanya. Si Bungsu menarik nafas lega,


kemudian berkata pelan.


”Menghindarlah dari rumah ini Mariam. Akan terjadi huru-hara sebentar lagi…”


”Sudah lama aku memimpikan melihat seorang Minangkabau melawan Jepang.


Membunuhnya, berkelahi dengan mereka. Mungkin mereka akan mati. Namun di


hatiku, mereka tetap seorang pahlawan. Sudah lama aku ingin melilhat hal itu

__ADS_1


terjadi. Betapa seorang lelaki Minangkabau tegak dengan perkasa menghadapi


samurai Jepang yang zalim itu. Dan kini barangkali aku akan melihatnya. Kenapa


aku harus pergi? Tidak, aku akan berada di sini sampai huru hara itu usai,


Uda…”


Si Bungsu tak lagi bekata. Dia tegak dan melangkah. Kemudian membuka pintu.


Berbelok ke kanan. Menerjang pintu kamar dimana Kamura tadi masuk dengan


perempuan berkulit hitam manis itu.


Kamura yang tadi membawa si Hitam Manis kini tengah bermandi peluh dalam kamar


tersebut. Si Hitam Manis juga bermandi peluh. Tubuhnya yang tak berkain tertelentang.


Sebelah kakinya terjuntai kebawah tempat tidur. Dan Kamura sedang duduk di


lantai di antara kaki si Hitam Manis ketika tiba-tiba pintu kamarnya dihantam


hingga terbuka. Kamura terlompat bangun. Si Hitam Manis hanya menelungkupkan


tubuhnya. Dia menyangka yang masuk adalah kawan Kamura. Sebab sudah biasa


Jepang–Jepang itu bergantian masuk kesebuah bilik bila temannya telah puas.


Namun kini yang masuk bukanlah tentara Jepang, melainkan si Bungsu. Kamura


memaki berang melihat yang masuk ternyata seorang Melayu.


”Bagero !. Masuk siapa kemari yang kamu berani, he !? ” bentaknya


terbalik-balik. Padahal yang ingin dia ucapkan adalah ”Siapa kamu yang berani


masuk kemari, he”


Mata si Bungsu menyipit. Mulutnya terkatup rapat. Kemudian dari sela bibirnya


terdengar suara mendesis :


”Aku anak Datuk Berbangsa dari kampung Situjuh Ladang Laweh. Yang kalian bunuh


dua tahun yang lalu. Dimana Saburo kini ? ”


Tanpa lebih dahulu memakai celananya. Kamura menerjang si Bungsu. Namun si


Bungsu sudah siap. Dia mengelak. Tubuh Kamura yang telanjang bulat itu menerpa

__ADS_1


pintu. Kemudian terpelanting ke ruangan tengah. Si Hitam Manis terpekik. Di


ruang tengah, dua orang serdadu Jepang yang tengah keluar jadi tertegun


__ADS_2