TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 18


__ADS_3

Tikam Samurai - 18


Pagi-pagi dia sudah duluan ke dekat kolam kecil itu. Tiarap


di dalam semak rendah. Diam di sana seperti pohon mati. Tapi suatu hari dia


mendapat cobaan. Yang datang minum ke sana bukannya kijang tetapi macan tutul.


Hewan ini datang justru dari atas pohon di mana si Bungsu sedang tiarap di


bawahnya. Macan itu segera mengetahui kehadirannya. Dia menerkam si Bungsu.


Namun bagi si Bungsu kecepatan macan ini tak ada artinya dibanding kecepatan


yang telah dia miliki dalam mencabut dan mempergunakan samurai.


Dia malah tetap berbaring diam ketika macan itu meloncatinya. Ketika tinggal


sedepa lagi, saat itulah tangannya bergerak. Dua kali dia menghayun tangan,


saat berikutnya samurainya masuk kembali ke sarangnya bersamaan dengan rubuh


dan terpotong duanya tubuh macan tutul itu. Padahal dia masih setengah


berbaring. Lagipula, itulah pertama kali dia mempergunakan samurai rampasannya


terhadap mahluk bernyawa.


Siang itu dia tak makan daging kijang. Melainkan makan daging macan tutul.


Daging macan itu dia bakar. Api dia bikin dengan mengadu dua buah batu


kuat-kuat. Namun kecepatan menghantam macan yang datang menerkam belumlah dapat


dijadikan ukuran. Terkaman macan yang bertubuh besar itu tetap saja lambat bila


dibandingkan misalnya dengan terbangnya lalat.


Inilah yang dia pelajari setelah itu. Sisa bangkai macan mengundang banyak


lalat ke dekat-nya. Dia memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi. Ada perbedaan


mencolok antara ayahnya belajar silat dengan dirinya belajar kini. Ayahnya dulu


belajar silat sekedar untuk penjaga diri. Kemudian keadaan membuat dia menjadi


Guru Silat. Kadar kesungguhan kurang tinggi. Berlain dengan dirinya kini. Dia


belajar karena dia bertekad untuk membalas dendam.

__ADS_1


Dan keinginannya untuk cepat pandai amat menyala. ltulah sebabnya dalam


kerajinan berlatih, ayahnya dulu pasti kalah tekun dari yang dia lakukan kini.


Dia memejamkan mata. Lalat mulai berkerubung pada sisa bangkai macan tutul itu.


Dia mendengar dengung langau hijau. Kemudian dia mulai menghitung. Terlalu


banyak. Dia mendengar getar sayapnya ketika terbang. Tangannya mulai dia


lemaskan. Lemas seperti sutera. Seperti tak ada tulang di dalam lengannya itu.


Kemudian dia memusatkan pendengaran.


Kini!


Tiba-tiba tangannya bergerak cepat. Empat kali dia membabat, lalu tiba-tiba


samurai itu lenyap kembali ke dalam sarangnya di balik kain sarung yang


tersandang dipundaknya. Tanpa membuka mata dia dapat mengetahui, bahwa dalam


empat kali membabat tadi, hanya ada dua ekor langau hijau yang mati. Ada yang


perutnya putus. Ada yang kepalanya sompeng sedikit. Padahal seorang samurai


harus tahu dengan pasti bahagian mana yang dia kehendaki untuk dilukai. Dan


peluh. Kemudian duduk lagi. Mengulangi lagi latihan dari awal. Mencabut dan


membabat langau-langau itu. Begitu terus hari demi hari. Begitu terus hari


berganti pekan. Pekan berganti bulan. Bulan berganti tahun!


Senja ini dia kembali duduk di atas batu pipih itu. Menatap ke lembah sana, ke


kaki gunung di mana sawah menghampar. Di mana kerlip lampu dari kampung-kampung


mulai kelihatan. Dia duduk menatap ke arah kampungnya.Rindu kembali


bertalu-talu gemuruh di dadanya untuk turun ke sana. Sudah berbilang purnama


dia berada di pinggang Gunung Sago ini. Tidur di pondok beratap lalang yang dia


buat secara darurat. Yang membuatnya untuk sembuh dari luka yang nyaris


membelah punggungnya dan tetap hidup adalah keinginannya yang keras untuk


membalas dendam.

__ADS_1


Kini dia merasa ingin segera kembali ke kampungnya. Dia menarik nafas panjang.


Namun telinganya yang sudah sangat terlatih di rimba raya itu juga menangkap


dengus nafas lain. Dia tertegun. Apakah dengus sebentar ini adalah dengus


nafasnya sendiri yang terdengar sampai dua kali? Dia tak berani menoleh. Namun


nalurinya mengatakan bahwa ada bahaya mengancam dirinya dari belakang. Tapi


bahaya apakah itu. Kenapa dia tak mengetahuinya?


Sudah belasan purnama dia duduk di sini. Setiap ada yang bergerak mendekati


tempatnya ini, bahkan kupu-kupu yang terbang ringanpun, akan segera dia


ketahui. Semua itu berkat latihan konsentrasinya selama ini. Secara instink


tubuhnya juga bersiap untuk menerima setiap kemungkinan yang tak diingini. Aneh,


tak ada suara apa-apa. Padahal biasanya senja begini, setiap dia habis


sembahyang Magrib dia selalu dihibur oleh dendang jangkrik dan suara nyanyian


binatang malam lainnya. Termasuk suara siamang yang bersahutan.


Tapi kini kenapa suara-suara itu lenyap? Sejak bila lenyapnya? Kesunyian ini


adalah kesunyian yang belum pernah dia alami selama ini. Dan tiba-tiba kembali


dengusan nafas aneh itu dia dengar. Dia yakin dengusan halus dan amat perlahan


itu bukanlah dengusan dari mulutnya. Tidak. Dengusan itu jelas dari


belakangnya. Menurut perkiraannya, jarak antara dirinya yang duduk membelakang


dengan mahluk yang mendengus itu paling-paling hanya tiga depa !


Tiga depa! Ya Tuhan, bulu tengkuknya merinding habis. Kalau benar dugaannya,


bahwa yang mendengus itu berada sekitar tiga depa di belakangnya, itu berarti


”tamunya” itu telah berada di atas batu pipih besar di mana dia duduk, yang


lebarnya sekitar empat depa persegi. Dia duduk di bahagian ujung paling depan.


Yang membuat dia kaget adalah kehadiran mahluk yang belum dia kenal itu di atas


batu ini. Kenapa sampai tak terdengar olehnya sedikitpun?

__ADS_1


Krosak…!


__ADS_2