
Tikam Samurai - 18
Pagi-pagi dia sudah duluan ke dekat kolam kecil itu. Tiarap
di dalam semak rendah. Diam di sana seperti pohon mati. Tapi suatu hari dia
mendapat cobaan. Yang datang minum ke sana bukannya kijang tetapi macan tutul.
Hewan ini datang justru dari atas pohon di mana si Bungsu sedang tiarap di
bawahnya. Macan itu segera mengetahui kehadirannya. Dia menerkam si Bungsu.
Namun bagi si Bungsu kecepatan macan ini tak ada artinya dibanding kecepatan
yang telah dia miliki dalam mencabut dan mempergunakan samurai.
Dia malah tetap berbaring diam ketika macan itu meloncatinya. Ketika tinggal
sedepa lagi, saat itulah tangannya bergerak. Dua kali dia menghayun tangan,
saat berikutnya samurainya masuk kembali ke sarangnya bersamaan dengan rubuh
dan terpotong duanya tubuh macan tutul itu. Padahal dia masih setengah
berbaring. Lagipula, itulah pertama kali dia mempergunakan samurai rampasannya
terhadap mahluk bernyawa.
Siang itu dia tak makan daging kijang. Melainkan makan daging macan tutul.
Daging macan itu dia bakar. Api dia bikin dengan mengadu dua buah batu
kuat-kuat. Namun kecepatan menghantam macan yang datang menerkam belumlah dapat
dijadikan ukuran. Terkaman macan yang bertubuh besar itu tetap saja lambat bila
dibandingkan misalnya dengan terbangnya lalat.
Inilah yang dia pelajari setelah itu. Sisa bangkai macan mengundang banyak
lalat ke dekat-nya. Dia memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi. Ada perbedaan
mencolok antara ayahnya belajar silat dengan dirinya belajar kini. Ayahnya dulu
belajar silat sekedar untuk penjaga diri. Kemudian keadaan membuat dia menjadi
Guru Silat. Kadar kesungguhan kurang tinggi. Berlain dengan dirinya kini. Dia
belajar karena dia bertekad untuk membalas dendam.
__ADS_1
Dan keinginannya untuk cepat pandai amat menyala. ltulah sebabnya dalam
kerajinan berlatih, ayahnya dulu pasti kalah tekun dari yang dia lakukan kini.
Dia memejamkan mata. Lalat mulai berkerubung pada sisa bangkai macan tutul itu.
Dia mendengar dengung langau hijau. Kemudian dia mulai menghitung. Terlalu
banyak. Dia mendengar getar sayapnya ketika terbang. Tangannya mulai dia
lemaskan. Lemas seperti sutera. Seperti tak ada tulang di dalam lengannya itu.
Kemudian dia memusatkan pendengaran.
Kini!
Tiba-tiba tangannya bergerak cepat. Empat kali dia membabat, lalu tiba-tiba
samurai itu lenyap kembali ke dalam sarangnya di balik kain sarung yang
tersandang dipundaknya. Tanpa membuka mata dia dapat mengetahui, bahwa dalam
empat kali membabat tadi, hanya ada dua ekor langau hijau yang mati. Ada yang
perutnya putus. Ada yang kepalanya sompeng sedikit. Padahal seorang samurai
harus tahu dengan pasti bahagian mana yang dia kehendaki untuk dilukai. Dan
peluh. Kemudian duduk lagi. Mengulangi lagi latihan dari awal. Mencabut dan
membabat langau-langau itu. Begitu terus hari demi hari. Begitu terus hari
berganti pekan. Pekan berganti bulan. Bulan berganti tahun!
Senja ini dia kembali duduk di atas batu pipih itu. Menatap ke lembah sana, ke
kaki gunung di mana sawah menghampar. Di mana kerlip lampu dari kampung-kampung
mulai kelihatan. Dia duduk menatap ke arah kampungnya.Rindu kembali
bertalu-talu gemuruh di dadanya untuk turun ke sana. Sudah berbilang purnama
dia berada di pinggang Gunung Sago ini. Tidur di pondok beratap lalang yang dia
buat secara darurat. Yang membuatnya untuk sembuh dari luka yang nyaris
membelah punggungnya dan tetap hidup adalah keinginannya yang keras untuk
membalas dendam.
__ADS_1
Kini dia merasa ingin segera kembali ke kampungnya. Dia menarik nafas panjang.
Namun telinganya yang sudah sangat terlatih di rimba raya itu juga menangkap
dengus nafas lain. Dia tertegun. Apakah dengus sebentar ini adalah dengus
nafasnya sendiri yang terdengar sampai dua kali? Dia tak berani menoleh. Namun
nalurinya mengatakan bahwa ada bahaya mengancam dirinya dari belakang. Tapi
bahaya apakah itu. Kenapa dia tak mengetahuinya?
Sudah belasan purnama dia duduk di sini. Setiap ada yang bergerak mendekati
tempatnya ini, bahkan kupu-kupu yang terbang ringanpun, akan segera dia
ketahui. Semua itu berkat latihan konsentrasinya selama ini. Secara instink
tubuhnya juga bersiap untuk menerima setiap kemungkinan yang tak diingini. Aneh,
tak ada suara apa-apa. Padahal biasanya senja begini, setiap dia habis
sembahyang Magrib dia selalu dihibur oleh dendang jangkrik dan suara nyanyian
binatang malam lainnya. Termasuk suara siamang yang bersahutan.
Tapi kini kenapa suara-suara itu lenyap? Sejak bila lenyapnya? Kesunyian ini
adalah kesunyian yang belum pernah dia alami selama ini. Dan tiba-tiba kembali
dengusan nafas aneh itu dia dengar. Dia yakin dengusan halus dan amat perlahan
itu bukanlah dengusan dari mulutnya. Tidak. Dengusan itu jelas dari
belakangnya. Menurut perkiraannya, jarak antara dirinya yang duduk membelakang
dengan mahluk yang mendengus itu paling-paling hanya tiga depa !
Tiga depa! Ya Tuhan, bulu tengkuknya merinding habis. Kalau benar dugaannya,
bahwa yang mendengus itu berada sekitar tiga depa di belakangnya, itu berarti
”tamunya” itu telah berada di atas batu pipih besar di mana dia duduk, yang
lebarnya sekitar empat depa persegi. Dia duduk di bahagian ujung paling depan.
Yang membuat dia kaget adalah kehadiran mahluk yang belum dia kenal itu di atas
batu ini. Kenapa sampai tak terdengar olehnya sedikitpun?
__ADS_1
Krosak…!