TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 38


__ADS_3

Tikam Samurai - 38


Sebab siapa diantara penduduk pribumi yang bisa memainkan


Samurai hingga sanggup mengalahkan Kamura dan seorang perwira lainnya serta


empat teman mereka? Tak mungkin ada pribumi yang bisa. Dan kalaupun bisa,


takkan mungkin mempunyai keberanian untuk menyerang serdadu Jepang. Tak


mungkin!. Sebab pada saat ini, gerakan – gerakan tentara Indonesia belum begitu


gencar mengadakan perlawanan pada Jepang. Baru berupa tindakan – tindakan


sporadis.


Jepang sendiri seperti tak punya kesempatan untuk mengusut peristiwa ini secara


jelimet. Sebab dimana – mana, tidak hanya di Minangkabau, juga di seluruh


Indonesia, mereka sedang sibuk membangun benteng pertahanan. Benteng – benteng


pertahanan itu mereka bangun berupa lobang-lobang dari coran beton. Tersebar di


seluruh kota, di tempat – tempat yang strategis, termasuk di sepanjang pantai.


Musuh yang paling mereka khawatirkan untuk datang menyerang adalah Tentara


Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mac Athur yang berkedudukan di Manila,


Filipina.


Selain membuat benteng – benteng dalam bentuk lobang-lobang yang diperkukuh


dengan beton cor yang tak mampu diruntuhkan dengan bom sekalipun, maka pusat


suply senjata, dan benteng pertahanan secara besar – besaran mereka buat di


Bukit Tinggi. Di kota ini, selain lobang-lobang pertahanan dari beton cor,


mereka juga membuat terowongan yang silang siur di bawah kota. Terowongan yang


sangat besar. Bisa dilalui Jeep masuk sampai jauh ke dalam. Untuk membuatnya


mereka tinggal mengerahkan tentara Belanda yang tertawan yang disebut internir,


dan para lelaki bangsa Indonesia. Ribuan orang dikerahkan membuat terowongan

__ADS_1


yang kelak dikenal sebagai terowongan maut.


Dia dinamai terowongan maut oleh karena seluruh pekerja yang ikut menggali


terowongan itu tak satupun yang keluar hidup – hidup. Tak satupun!. Semua mati


di dalam terowongan itu. Kematian mereka memang disengaja oleh Jepang demi


menjaga kerahasiaan terowongan itu. Terowongan itu kabarnya melintas di atas


bangunan – bangunan fital. Di samping itu juga mempunyai pintu tembus ke tempat


– tempat strategis di dalam maupun jauh di luar kota.


Menurut sementara cerita yang berasal dari tawanan yang tak sempat dibunuh,


terowongan itu konon juga dibangun dari perut di bawah kota Bukittinggi tembus


ke lapangan udara Gadut. Kemudian ke Balingka dan ke Anak Air. Terowongan


sepanjang itu itu diperlukan Jepang untuk dua tujuan. Pertama, tempat menimbun


berbagai macam logistik dan pertahanan Jepang di Sumatera untuk melawan tentara


Sekutu. Setelah terowongan itu siap, pemusatan dan kedatangan persenjataan dari


lenyap begitu saja.


Menurut cerita dari sana langsung masuk terowongan dan dipusatkan disuatu


tempat di perut bumi di bawah kota Bukittinggi. Dalam rencana strategisnya,


jika Sekutu datang menyerang mereka akan bersembunyi di terowongan itu. Pada


waktu tertentu mengadakan serangan mendadak ke kota. Di terowongan itu mereka


mempunyai perbekalan baik makanan maupun persenjataan yang bisa menghidupi satu


batalyon pasukan dengan kekuatan 1.000 orang selama setahun!


Suatu penimbunan dan pemusatan suplay yang tak tanggung – tanggung dalam


sejarah Kemiliteran. Kedua, dalam keadaan sangat genting mereka bisa


mempergunakan lapangan terbang gadut untuk melarikan diri dengan pesawat udara.


Saat terowongan itu dibangun, pimpinan tertinggi balatentara Jepang di pulau

__ADS_1


Sumatera dipegang oleh Tei Sha (Kolonel) Fujiyama. Dia memilih menempatkan


pusat komandonya di bekas kantor tentara Belanda beberapa puluh meter dari


mulut terowongan yang sedang di bangun di Panorama. Pusat komando Fujiyama ini


kelak dijadikan Museum ABRI di depan Tugu 17 Agustus di Panorama. Pintu


terowongan juga dibangun di belakang kantornya. Dari sana, lewat terowongan


yaangng berbelit dia bisa mencapai beberapa tempat di kota Bukittinggi. Seperti


ke Jam Gadang, Benteng atau Kebun Binatang.


-o0o-


Malam itu terang bulan. Benar – benar bulan purnama. Kota Payakumbuh kelihatan


ramai oleh orang – orang yang keluar. Tapi di salah satu sudut kota, di rumah


seorang Cina di kamar belakang, kelihatan berkumpul tiga orang lelaki. Mereka


duduk bersila di atas tikar rot an. Udara dalam ruangan dipenuhi oleh bau sake


dan candu. Diantara keenam lelaki itu ada tiga perempuan. Satu keturunan Cina,


yang dua lagi peranakan India. Mereka duduk sambil bersandar atau dipeluk oleh


Jepang yang duduk di tikar rotan itu.


Seorang Cina bertubuh gemuk berkepala botak mendatangi kelompok jantan dan


betina itu. Dia datang dengan sebuah tabung bambu yang panjangnya sejengkal. Saat


dia duduk segera saja Jepang – Jepang itu duduk mengitarinya. Uang dikeluarkan,


dan mereka mulai main dadu. Cina gemuk itu adalah pemilik rumah di mana kini


mereka berada.


Kini dia bertindak sebagai bandar dalam judi dadu yang diadakan tersebut. Rumah


Cina ini dikenal penduduk sebagai rumah kuning. Yaitu rumah pelacuran


terselubung. Yang datang kemari khusus para perwira saja. Sebab di sini juga


disediakan perempuan – perempuan pilihan. Salah satu dari perempuan itu adalah

__ADS_1


anak gadis Cina bot ak itu sendiri.


__ADS_2