
Tikam Samurai - 94
Datuk Penghulu segera mengetahui maksud anak muda itu. Dia
mengambil pistol mayor itu dari pinggangnya. Yang lain pada memungut bedil di
tanah. Kemudian mereka ganti menodong Jepang-Jepang itu. Dari balik pintu, dari
balik jendela, penduduk tetap mengintai dengan diam. Mengintai dengan takut.
Barangkali ada rasa gembira dan bangga di hati mereka melihat betapa
pejuang-pejuang itu berbalik menguasai tentara Jepang yang mereka benci. Namun
sebagaimana umumnya rakyat sipil dari sebuah negara yang sedang dilanda perang,
dimanapun negara itu berada, bangsa manapun dia, ketakutan terhadap militer
selalu saja menghantui mereka. Di setiap negara yang dilanda perang, apalagi
negara yang dijajah, maka penduduk sipil selalu saja menjadi korban tak berdosa
dari keganasan militer. Saat itupun, penduduk di Birugo itu selain merasa
bangga, sekaligus juga merasa takut. Bangga karena bangsa mereka ternyata sudah
mulai unjuk gigi dalam melawan penjajah. Ngeri karena mengingat pembalasan yang
akan datang dari Jepang.
Karena betapapun jua, pejuang Indonesia itu pastilah sebentar berada di kota.
Setelah itu mereka akan lenyap bersembunyi. Karena seluruh jengkal tanah di
bumi Indonesia saat itu dikuasai o leh Jepang. Penduduk dapat membayangkah
setelah sore hari ini, maka akan ada ratusan tentara jepang yang akan memeriksa
seluruh rumah di Birugo ini. Dan mereka ada yang akan ditangkap. Ada yang
diperkosa. Begitu selalu. Dan dari balik p intu, dari balik jendela, mereka
melihat anak muda yang tadi meringkus mayor itu berjalan ke depan.
Mayor itu kini berada d i bawah ancaman senjata yang dipegang oleh Datuk
Penghulu. Si Bungsu melangkah ke dekat truk. Sepuluh langkah di depan Letnan
__ADS_1
dua yang bernama Atto itu dia berhenti. Samurai sudah berada dalam sarangnya.
Dia pegang dengan tangan kiri. Dia menatap tajam pada atto yang sama sekali tak
mengenal anak muda ini. Tapi ditatap begitu, bulu tengkuknya merinding.
“Ambil samuraimu yang tergelak di tanah itu Atto . . .” Tiba-tiba dia dengar
anak muda ini bersuara. Dia tertegun. Kaget dan tak percaya pada pendengarannya.
“Ambillah samuraimu. Engkau yang bernama Atto, yang memimpim penangkapan dan
pembakaran rumah di Tarok dua puluh hari yang lalu bukan ?”
Tanpa dia sadari, letnan itu mengangguk.
“Nah, sayalah suami dari gadis yang bernama Mei-mei yang engkau perkosa ketika
dia dalam luka parah di pondok dalam hutan bambu di Tarok malam itu, masih
ingat?” Seperti orang dungu, letnan itu kembali mengangguk.
“Dia sudah mati. Mati karena menderita. Menderita kalian perkosa bersama-sama.
Namun sebelum dia meninggal, saya telah bersumpah untuk membunuhmu. Kini
ambillah samurai itu. Atau kau akan saya bantai tanpa membela diri. Bagi saya
samuraimu, kau akan saya bunuh seperti membunuh seekor anjing. Satu…..!”
Suara si Bungsu bergema. Dia sudah mulai menghitung. Tidak hanya Atto dan
prajurit-prajurit Jepang yang banyak itu, Datuk-Datuk yang berada di pihak si
Bungsu yang kini tegak dekat Datuk Penghulu, juga merasa ngeri mendengar
ancaman anak muda itu. Dan Atto, sebagaimana jamaknya samurai-samurai dari
Jepang, merasa harga dirinya di injak-injak mendengar penghinaan anak muda itu.
Dia segera memungut samurainya.
Dengan sikap seorang samurai sejati, dia mulai melangkah mendekati anak muda
itu. Si Bungsu tegak dengan kaki terpentang selebar bahu. Tegak dengan diam.
Menatap tepat-tepat ke mata si Atto. Wajahnya membersitkan rasa benci yang
__ADS_1
sangat dalam. Terbayang di matanya betapa Atto yang bertubuh kekar ini
merenggut pakaian Mei-mei. Kemudian setelah nafsu setannya puas, dia menyuruh
anak buahnya untuk meneruskan perbuatannya.
Saat itulah Atto membuka serangan. Sebuah sabetan yang amat cepat. Si Bungsu
kaget, khayalannya tengah menerawang ketika serangan itu datang. Tak ampun
lagi, bahunya terbabat menganga lebar. Darah menyembur, Datuk Penghulu
terpekik. Hampir saja dia menembak Atto dengan pistol di tangannya. Tapi dia
segera ingat. Si Bungsu berniat membunuh letnan dengan tangannya sendiri.
Kini dengan bahu kiri luka lebar, darah membanjir, si Bungsu tegak dengan
waspada empat depa di depan Atto. Si Bungsu yakin, jika lama dia tegak begini
tubuhnya akan jatuh sendiri karena kehabisan darah Maka dia segera memancing
agar Atto menyerang. Tubuhnya sempoyongan. Meliuk ke kiri. Ke kanan. Dan saat
itu dengan cepat sekali Atto menyerang dengan tiga kali bacokan cepat terarah.
Datuk Penghulu sudah bertekad untuk menembak saja Jepang laknat itu. Tapi
maksudnya belum kesampaian, ketika tiba-tiba tubuh si Bungsu jatuh ke tanah di
atas lututnya. Dan tahu-tahu sebuah sinar yang amat cepat berkelebat. Pada
sabetan yang pertama samurai di tangan Atto seperti dihantam martil besar.
Samurainya terpental. Pada bacokan kedua, tangan perwira muda itu putus di atas
bahu. Dia memekik. samurai di tangan si Bungsu bekerja lagi. Kedua lutut letnan
itu putus.
Tubuhnya tersungkur ke tanah tanpa lengan tanpa kaki. Persis seperti nasib
penyamun yang kena babat di penginapan kecil ketika mula-mula dia datang ke
kota ini bersama Mei-mei.
Tapi Atto masih beruntung. Dia tak sempat hidup merana tanpa kaki tanpa tangan
__ADS_1
seperti Datuk Penyamun itu. Karena begitu tubuhnya tergolek di tanah, samurai
di tangan si Bungsu bekerja lagi. Dadanya terbelah dua.