
Tikam Samurai - 44
Ini berarti pembunuhan tiga orang Kempetai di kampungnya
ketika akan menangkap Salim anak Imam dari Mesjid belum diket ahui Jepang.
Barangkali ketiga Jepang itu disangka melarikan diri atau lenyap begitu saja.
Belum ada yang menyangka bahwa dia mati terbunuh. Itu juga berarti bahwa
kematian Jepang- Jepang di kedai kopi Siti di kampung Tabing dulu juga masih
disangka karena mereka saling berkelahi. Persis seperti yang direncanakan dulu.
Dan itu juga berarti bahwa Kempetai ini belum mengetahui bahwa yang membunuh
Jepang-Jepang di tempat pelacuran Lundang dulu itu adalah seorang pribumi. Si
Bungsu menjadi agak tentram. Buat sementara dia masih aman. Kini tinggal hanya
bagaimana melarikan diri dari rumah Babah celaka ini.
”Hei monyet, jawablah. Apakah maksudmu mematamatai rumahku?”
Babah itu memaki. Muka si Bungsu jadi merah padam. Di negerinya sendiri ada
Cina yang memakinya dengan sebutan monyet. Ada Cina yang selama puluhan tahun
diterima dengan baik oleh bangsanya, diterima di tengah pergaulan dan mencari
makan di bumi negerinya dan hidup dengan aman selama puluhan tahun itu, berani
memaki dirinya. Memaki anak negeri dimana dia hidup menompang dengan sebutan
monyet!
Alangkah jahanamnya. Dia tatap mata si Babah. Dan saat itu perwira yang tadi
masuk ke bilik si Amoy anak si Babah, muncul di pintu. Dia mendengar bentakan,
dan cepat-cepat menyudahi permainannya. Lalu memasang celana dan baju. Si Amoy
dia tinggalkan terguling lelah di lantai.
”Ada apa ..?” tanya perwira yang bernama Ichi kepada Babah.
Si babah menceritakan tentang si Bungsu yang mengintai rumahnya. Perwira itu
__ADS_1
menatap pada si Bungsu.
”Paksa dia untuk bicara. Barangkali dia ikut ketika mencuri senjata di Kubu
Gadang dulu ..” Kata Ichi sambil berjalan ke sudut ruangan mengambil minuman.
”Bicaralah ..!”
Kata si Babah pada si Bungsu. Kali ini tangannya bergerak. Mengambil bijih dadu
sebuah. Meletakkannya di antara ibu jari dan telunjuk kanannya. Kemudian
”menembakkan” buah dadu itu kearah si Bungsu.
Tanpa dapat ditahan, si Bungsu terpekik. Bijih dadu itu menghantam daun
telinganya sampai robek. Darah mengucur dari sana. Namun si Bungsu tak dapat
bergerak. Sebab empat bayonet masih menekan dada dan lehernya. Dapat
dibayangkan betapa tingginya ilmu Babah itu. Hanya dengan jentikan halus saja,
dadu itu sanggup memecah telinga si Bungsu. Tidak hanya berilmu tinggi, tapi
sekaligus berhati sadis!
Babah dengan nada dingin.
”Saya mencari Saburo ”.
Akhirnya si Bungsu berkata jujur.
”Saburo ..?”
”Ya ..”
”Tai-i Saburo Matsuyama?”
”Ya”.
”Untuk apa kau mencarinya? ”
”Ada persoalan yang harus kuselesaikan ”
”Persoalan apa?” ”Itu urusanku ..”
Mendengar jawaban ini, babah gemuk itu kembali mengambil sebutir dadu. Lalu
__ADS_1
kembali dia letakkan di antara ibu jari dan telunjuknya. Kemudian dia sentilkan
kearah si Bungsu. Kembali si Bungsu terpekik.
Sebenarnya dia telah berusaha untuk menahan sakit. Dia menggertakkan gigi.
Namun dadu itu menghantam keningnya. Namun Babah gemuk itu bukan main lihainya.
Dadu itu menyerempet kening si Bungsu sedemikian rupa. Mula pertama dadu itu
menjitak dahi si Bungsu. Sakitnya bukan main, kemudian melesat merobek kulit
keningnya arah ke belakang. Kulitnya kepalanya robek empat jari. Darah
mengucur.
Babah gemuk itu tertawa menyeringai. Demikian pula Baribeh dan si Juling. Air
mata si Bungsu merembes di pipinya. Dia tak menangis. Tapi air mata itu adalah
air mata menahan sakit. Dia menyumpahi dirinya yang dengan mudah masuk ke dalam
perangkap orang-orang sadis ini. Si Bungsu bersumpah, kalau dia kelak dapat
membalas, maka Babah gemuk ini adalah orang pertama yang paling nista dia
perbuat. Dia akan cincang perut gendutnya itu. Dia benar-benar bersumpah untuk
itu. Tekadnya untuk hidup makin menyala.
”Nah, buyung. Katakanlah untuk apa lu mencari ***-i Saburo ..!” Kata Cina
gendut itu. Si Bungsu menghapus darah dikeningnya. Menghapus darah dari daun
telinganya yang koyak. Pedih dan sakit dari kedua lukanya itu
menyentak-nyentak.
”Bagaimana saya akan bicara kalau leher dan dada saya ditekan begini?” Katanya
coba mencari kesempatan. Dia berharap dengan ucapannya itu bayonet yang
ditekankan ke leher dan dadanya akan ditarik. Kalau saja dia punya kesempatan
agak sedikit, dia bisa berguling dengan loncat tupai ke belakang menyambar
samurainya.
__ADS_1