
Tapi kali ini mereka ternyata
menghadapi seorang hantu judi. Mereka tidak menyangka bahwa dalam usia yang
sedemikian mudanya anak ini sudah tidak terkalahkan dalam soal berjudi. Lewat
tengah malam hampir semua uang mereka disikat anak muda itu. Mereka sudah pada
mengantuk. Tapi anak muda itu tetap seperti semula. Matanya yang sayu, mukanya
murung, tetap saja tidak berubah. Tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan
sedikitpun.
Si Jul sudah beberapa kali memberi isyarat pada Baribeh untuk menghantam anak
muda itu Tapi Baribeh sendiri ragu-ragu. Masakan anak muda ini tak mempunyai
“simpanan” agak sedikit. Artinya, anak muda ini paling sedikit tentu pandai
bersilat. Sebab mustahil dia akan berani sendirian saja kalau tak ada
kepandaian apa-apa. Hanya kini yang menjadi bahan pertimbangan mereka adalah
silat apa yang dimiliki dan jadi andalan anak muda ini. Kumango? Pangian,
Lintau, Starlak atau Pauh? Atau Sunua dan Silek Tuo yang terkenal itu? Tak ada
jawaban yang pasti. Anak muda itu tetap saja meraih kemenangan demi kemenangan.
“Ah, kita istirahatlah sebentar…..” si Baribeh berkata.
“Boleh. Berhentipun juga boleh..!” anak muda itu menjawab seenaknya.
Muka Baribeh dan teman-temannya jadi kelabu mendengar jawaban itu.
“Berhenti kata waang?! Adat di mana waang pakai buyung, berhenti di saat orang
lain kalah!” si Jul bertanya dengan nada tak sedap.
Tapi anak muda itu tetap cuek, malah dengan tenang pula dia balas berkata:
“Tak ada adat apa-apa dalam berjudi ini sanak. Kalau mau main terus juga tak
__ADS_1
apa. Tentu kalau kalian masih punya duit. Saya khawatir kalian akan pulang
dengan celana dalam saja……….”
Dan sambil mengulum senyum, anak muda ini mengelaikan diri ke tikar pandan
usang yang mengalas lantai surau itu. Baribeh menggerutu panjang pendek. Tapi
dia juga mengelaikan tubuhnya. Pelita kecil yang menerangi ruangan surau itu
bergoyang-goyang kena angin lemah yang masuk dari sela-sela lobang di dinding.
Si Juling dan Baribeh mulai sama-sama berfikir. Bagaimana kalau lampu ini
dimatikan. Kemudian mereka hantam anak muda itu, dan uangnya mereka sikat. Uang
anak muda ini ternyata banyak sekali. Ada tiga kali sebanyak yang dia
perlihatkan di Pasar Jumat pagi tadi. Dengan uang itu mereka bisa membeli tiga
buah pedati atau bendi dan beberapa petak sawah. Ah, uang itu harus mereka
peroleh. Harus ! Baribeh melirik ke lampu togok yang bergoyang itu.
“Kalau lampu ini mati, kita akan susah…..” tiba-tiba anak muda itu berkata.
Dan mereka jadi tambah yakin bahwa anak muda ini punya ilmu yang tak rendah.
“Hei, sanak ada membawa api ?” Anak muda itu bertanya.
Baribeh menelan ludahnya sebelum menjawab.
“Ada. Mengapa ?”
“Ada yang berniat mematikan api itu nampaknya…… ” anak muda itu berkata lagi.
Baribeh dan teman-temannya tambah kaget dan pelan-pelan jadi kecut. Anak muda
ini memang seorang yang padat isinya, pikir mereka. Tapi untuk tak kalah gengsi
Baribeh kembali bertanya :
“Siapa pula yang akan mematikannya?”
“Angin!. Tak terasa angin makin kencang?”
Anak muda itu berkata seadanya. Tak sedikitpun dia menyangka bahwa orang-orang
__ADS_1
itu memang berniat akan mematikan lampu itu. Tapi Baribeh dan teman-temannya
merasa diolok-olok oleh anak muda itu. Mereka merasa disindir. Karenanya mereka
memilih diam saja. Diam dengan hulu hati yang amat pedih saking menahan berang.
Menjelang subuh mereka bangun dan main lagi. Kali ini main koa. Tapi sialnya,
anak muda itu menang terus. Terus dan terus. Akhirnya keempat lelaki itu memang
tinggal celana kotok saja. Semua pakaian mereka, termasuk keris dan pisau serta
korek api, habis tergadai kepada anak muda itu. Anak muda itu ternyata memang
setan judi. Dan ketika mereka sudah hampir telanjang, anak muda itu tertawa
terpingkel-pingkel. Saat itulah iman Baribeh dan teman-temannya layu. Anak muda
itu mereka sikat bakatintam. Mula-mula yang menghantam adalah si Jul.
Tendangannya yang pertama tak mengenai sasaran. Anak muda itu sebenarnya
terteleng kepalanya.
Tendangan si Jul lewat. Tapi dalam penglihatan mereka, anak muda itu mengelak
dengan jurus lihai. Teman si Jul menghantam pula dari belakang. Waktu itu anak
muda tersebut tiba-tiba menunduk, ingin memungut duitnya yang berserakkan. Dan
tendangan yang melaju dari belakangnya kembali tak mengenai sasaran. Malah
ketika dia bangkit tiba-tiba, kaki yang tengah melintas itu terbawa naik oleh
punggungnya. Tak ampun lagi, si tinggi di belakangnya terjengkang.
Keempat lelaki itu terkejut, tak sedikitpun mereka menyadari bahwa kedua
serangan tadi luput hanya secara kebetulan saja. Kini dengan kewaspadaan
tinggi, keempat lelaki itu bersiap. Si Baribeh membuka serangan dengan sebuah
pukulan. Dan kali ini faktor kebetulan itu tak lagi menyertai
anak muda tersebut. Pukulan itu mendarat dengan telak di dadanya. Dia
terhuyung, serangan berikutnya berkatintam menghamtam tubuhnya. Dia
__ADS_1
terpekik-pekik. Teraduh-aduh.