
Tikam Samurai - 87
Istri imam itu dan anak gadisnya yang kecil terdiam. imam
itu yang lambat-lambat menyadari apa yang terjadi, juga tak bisa bicara. Mereka
sudah lama mengenal anak muda ini. Karena dia selalu bepergian dengan Datuk
Penghulu. Ada orang yang berbisik-bisik, bahwa anak muda ini sangat mahir
memakai samurai. Dan konon kabarnya sudah puluhan Jepang dia bunuh ketika masih
di Payakumbuh.
Namun itu hanya mereka dengar dari bisik-bisik. Bahkan ketika malam tadi banyak
Jepang yang mati di bekas rumah Datuk Penghulu, kemudian ditemukan pula mayat
yang berkeping-keping bersama ledakan di truk dekat jalan, banyak orang yang
menduga itu adalah pembalasan Datuk Penghulu dan si Bungsu. Tapi mereka belum
juga percaya, bahwa anak muda yang pendiam dengan wajah dan sinar mata murung
ini adalah seorang perkasa begini.
Kini, ketika hal itu berlangsung di hadapan mereka, mereka bukan hanya
ternganga tak percaya. Tapi lebih dari itu, mereka merasa kejadian ini terlalu
hebat dalam kehidupan mereka. Sesuatu yang amat luar biasa. Sesuatu yang tak
pernah mereka impikan akan bertemu dalam kehidupan mereka. Seorang anak minang,
pribumi yang terjajah, yang selalu ditekan dan dianggap sampah, kini di hadapan
mereka menghajar Jepang- Jepang yang laknat itu. Tidak hanya sekedar menghajar.
Melainkan melakukan pembalasan yang luar biasa.
Tak pernah terbayangkan. Tak pernah terfikirkan. Istri imam itu bangkit menuju
kamar, melihat anak gadisnya yang sudah diselimuti dengan kain panjang.
Sementara di lantai terbujur mayat Letnan yang tadi akan melaknati tubuh
anaknya itu.
“Anakmu selamat pak imam. . . .” Datuk Penghulu berkata perlahan. imam itu
__ADS_1
tiba-tiba bangkit. Dia teringat sesuatu.
“Di luar masih ada tiga orang Kempetai lagi. . . . ,”katanya perlahan dengan
wajah cemas.
“Jangan khawatir, mereka telah diselesaikan. . .” Imam itu menarik nafas.
Kemudian perlahan dia berkata.
“Maafkan saya Datuk. Bungsu. Saya telah mengkhianati kalian, sayalah yang
mengatakan pada mereka tempat persembunyian kalian ……”
“Jangan dipikirkan pak Imam. Pak Imam tak pernah mengkhianati kami. Kami dapat
menerka apa yang terjadi. Mereka pasti sudah di rumah ini ketika pak Imam baru
keluar dari surau itu. Dan peristiwa selanjutnya dapat diterka. Mereka memaksa
Pak Imam untuk membuka rahasia, kalau tidak anak istri pak Imam akan mereka
nodai. Kami bisa menerka hal itu, karena memang demikian watak tentara
pendudukan, dimanapun. Nah, kini kami harus pergi. Saya rasa pak Imam tak usah
takut, nantikan saja Kempetai yang ke surau itu disini. Kalau mereka kembali,
mencari mereka. . . ..”
“Tapi . . . .apakah mereka takkan mempersusah kami.. . .?”
“Mereka akan sibuk mencari yang membunuh tentara mereka daripada sekedar
mempersusah Bapak..”
Ujar si Bungsu sambil mengangguk pada imam itu, kemudian pada istrinya. Dan
ketika akan melangkah dia teringat sesuatu.
“Pak imam, mayat Mei-mei kami tinggalkan di surau. Kalau tidak akan menyusahkan
Bapak. mohon Bapak selenggarakan mayat itu. Kami harus segera berlalu dari sini.
. . .”
“Saya akan mengurusnya Bungsu. Saya akan mengurusnya. Percayalah. Terima kasih
atas bantuanmu menyelamatkan keluarga saya. . ..”
__ADS_1
Kedua orang itu segera lenyap ke dalam hujan yang telah menggantikan gerimis.
Tak lama setelah mereka pergi, kedelapan Serdadu Jepang yang dikirim untuk
menangkap mereka di surau itu juga tiba di sana. Mereka menjadi menggigil
melihat tubuh teman-teman mereka kena cencang. Mereka segera melaporkan ke
markas. Kemudian imam itu serta anak istrinya juga di bawa ke markas besar
Jepang di Panorama. Untung bagi imam ini, di markas itu dia ditanya langsung
oleh syo-sho (Mayor Jenderal) Fujiyama *** cho (Komandan Divisi) dan Panglima
Tertinggi pasukan Jepang di sumatera. Dia baru saja naik pangkat dari *** Sha
(Kolonel) ke Mayor Jenderal.
Imam itu beruntung karena Fujiyama terkenal sebagai tentara sejati. Dialah yang
telah menekan Syo Sha (Mayor) Saburo Matsuyama untuk pensiun karena telah
membunuh banyak pribumi di Situjuh Ladang Laweh, diantaranya orang tua si
Bungsu. Dan setelah Saburo meminta pensiun dalam usia yang belum pantas untuk
pensiun, Fujiyama kembali menekannya untuk kembali ke Jepang. Fujiyama tak
senang pada tentara yang menindas rakyat. Dia datang memang untuk menjajah.
Tetapi penajajahan dalam arti kemiliteran yang dianut Fujiyama adalah
penjajahan di bidang politik, ekonomi dan pertahanan. Menurut doktrin tentara,
rakyat negara yang terjajah, tetap saja sebagai manusia yang harus dihormati.
Kalau ada permusuhan, maka yang bermusuhan adalah tentara dan pemimpin kedua
negara. Bukan tentara dengan rakyat. Kecuali rakyat yang mengorganisir
perlawanan. Kalau hanya rakyat biasa, maka hak mereka harus dihormati. Inilah
perbedaan yang sangat menyolok antara komandan divisi yang berkedudukan di
Bukitinggi ini dengan sebagian besar perwiranya.
Kini dialah yang menanyai langsung Imam itu. Imam itu menceritakan seluruh
peristiwa itu. Dimulai dari dimintanya dia untuk menikahkan Mei-mei dengan si
__ADS_1
Bungsu. Kemudian diceritakannya pula bahwa gadis itu meninggal sesaat sebelum
membacakan ijab kabul.