TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 87


__ADS_3

Tikam Samurai - 87


Istri imam itu dan anak gadisnya yang kecil terdiam. imam


itu yang lambat-lambat menyadari apa yang terjadi, juga tak bisa bicara. Mereka


sudah lama mengenal anak muda ini. Karena dia selalu bepergian dengan Datuk


Penghulu. Ada orang yang berbisik-bisik, bahwa anak muda ini sangat mahir


memakai samurai. Dan konon kabarnya sudah puluhan Jepang dia bunuh ketika masih


di Payakumbuh.


Namun itu hanya mereka dengar dari bisik-bisik. Bahkan ketika malam tadi banyak


Jepang yang mati di bekas rumah Datuk Penghulu, kemudian ditemukan pula mayat


yang berkeping-keping bersama ledakan di truk dekat jalan, banyak orang yang


menduga itu adalah pembalasan Datuk Penghulu dan si Bungsu. Tapi mereka belum


juga percaya, bahwa anak muda yang pendiam dengan wajah dan sinar mata murung


ini adalah seorang perkasa begini.


Kini, ketika hal itu berlangsung di hadapan mereka, mereka bukan hanya


ternganga tak percaya. Tapi lebih dari itu, mereka merasa kejadian ini terlalu


hebat dalam kehidupan mereka. Sesuatu yang amat luar biasa. Sesuatu yang tak


pernah mereka impikan akan bertemu dalam kehidupan mereka. Seorang anak minang,


pribumi yang terjajah, yang selalu ditekan dan dianggap sampah, kini di hadapan


mereka menghajar Jepang- Jepang yang laknat itu. Tidak hanya sekedar menghajar.


Melainkan melakukan pembalasan yang luar biasa.


Tak pernah terbayangkan. Tak pernah terfikirkan. Istri imam itu bangkit menuju


kamar, melihat anak gadisnya yang sudah diselimuti dengan kain panjang.


Sementara di lantai terbujur mayat Letnan yang tadi akan melaknati tubuh


anaknya itu.


“Anakmu selamat pak imam. . . .” Datuk Penghulu berkata perlahan. imam itu

__ADS_1


tiba-tiba bangkit. Dia teringat sesuatu.


“Di luar masih ada tiga orang Kempetai lagi. . . . ,”katanya perlahan dengan


wajah cemas.


“Jangan khawatir, mereka telah diselesaikan. . .” Imam itu menarik nafas.


Kemudian perlahan dia berkata.


“Maafkan saya Datuk. Bungsu. Saya telah mengkhianati kalian, sayalah yang


mengatakan pada mereka tempat persembunyian kalian ……”


“Jangan dipikirkan pak Imam. Pak Imam tak pernah mengkhianati kami. Kami dapat


menerka apa yang terjadi. Mereka pasti sudah di rumah ini ketika pak Imam baru


keluar dari surau itu. Dan peristiwa selanjutnya dapat diterka. Mereka memaksa


Pak Imam untuk membuka rahasia, kalau tidak anak istri pak Imam akan mereka


nodai. Kami bisa menerka hal itu, karena memang demikian watak tentara


pendudukan, dimanapun. Nah, kini kami harus pergi. Saya rasa pak Imam tak usah


takut, nantikan saja Kempetai yang ke surau itu disini. Kalau mereka kembali,


mencari mereka. . . ..”


“Tapi . . . .apakah mereka takkan mempersusah kami.. . .?”


“Mereka akan sibuk mencari yang membunuh tentara mereka daripada sekedar


mempersusah Bapak..”


Ujar si Bungsu sambil mengangguk pada imam itu, kemudian pada istrinya. Dan


ketika akan melangkah dia teringat sesuatu.


“Pak imam, mayat Mei-mei kami tinggalkan di surau. Kalau tidak akan menyusahkan


Bapak. mohon Bapak selenggarakan mayat itu. Kami harus segera berlalu dari sini.


. . .”


“Saya akan mengurusnya Bungsu. Saya akan mengurusnya. Percayalah. Terima kasih


atas bantuanmu menyelamatkan keluarga saya. . ..”

__ADS_1


Kedua orang itu segera lenyap ke dalam hujan yang telah menggantikan gerimis.


Tak lama setelah mereka pergi, kedelapan Serdadu Jepang yang dikirim untuk


menangkap mereka di surau itu juga tiba di sana. Mereka menjadi menggigil


melihat tubuh teman-teman mereka kena cencang. Mereka segera melaporkan ke


markas. Kemudian imam itu serta anak istrinya juga di bawa ke markas besar


Jepang di Panorama. Untung bagi imam ini, di markas itu dia ditanya langsung


oleh syo-sho (Mayor Jenderal) Fujiyama *** cho (Komandan Divisi) dan Panglima


Tertinggi pasukan Jepang di sumatera. Dia baru saja naik pangkat dari *** Sha


(Kolonel) ke Mayor Jenderal.


Imam itu beruntung karena Fujiyama terkenal sebagai tentara sejati. Dialah yang


telah menekan Syo Sha (Mayor) Saburo Matsuyama untuk pensiun karena telah


membunuh banyak pribumi di Situjuh Ladang Laweh, diantaranya orang tua si


Bungsu. Dan setelah Saburo meminta pensiun dalam usia yang belum pantas untuk


pensiun, Fujiyama kembali menekannya untuk kembali ke Jepang. Fujiyama tak


senang pada tentara yang menindas rakyat. Dia datang memang untuk menjajah.


Tetapi penajajahan dalam arti kemiliteran yang dianut Fujiyama adalah


penjajahan di bidang politik, ekonomi dan pertahanan. Menurut doktrin tentara,


rakyat negara yang terjajah, tetap saja sebagai manusia yang harus dihormati.


Kalau ada permusuhan, maka yang bermusuhan adalah tentara dan pemimpin kedua


negara. Bukan tentara dengan rakyat. Kecuali rakyat yang mengorganisir


perlawanan. Kalau hanya rakyat biasa, maka hak mereka harus dihormati. Inilah


perbedaan yang sangat menyolok antara komandan divisi yang berkedudukan di


Bukitinggi ini dengan sebagian besar perwiranya.


Kini dialah yang menanyai langsung Imam itu. Imam itu menceritakan seluruh


peristiwa itu. Dimulai dari dimintanya dia untuk menikahkan Mei-mei dengan si

__ADS_1


Bungsu. Kemudian diceritakannya pula bahwa gadis itu meninggal sesaat sebelum


membacakan ijab kabul.


__ADS_2