
Tikam Samurai - 84
“Secara hakikat, kalian telah menjadi suami isteri.”
Datuk Penghulu berkata perlahan. Si Bungsu menoleh padanya.
“Ya. Kalian telah sama-sama berikrar untuk jadi suami isteri. Ikrar yang suci
dan ikhlas itu saja sudah merupakan suatu ikatan. Meskipun belum disahkan oleh
kadi dan tak ada saksi. Namun pada mulanya, dahulu kala lembaga pernikahan
belum ada. Dia hanya ada setelah Islam atau agama dikenal manusia. Sebelum agama
turun ke muka bumi, sebelum lembaga pernikahan seperti sekarang dikenal
manusia, maka pernikahan dilangsungkan secara apa adanya, sementara yang jadi
saksi bisa manusia, bisa pula tak ada saksi. Tetapi yang jadi kadinya secara
hakikat adalah Tuhan”
Si Bungsu masih tetap diam mendengar ucapan Datuk Penghulu ini. Sementara itu,
di luar hari merangkak memasuki malam. Di langit guruh terdengar
menderam-deram. Angin bersuit-suit. Tanpa mereka sadari, Imam yang tadi akan
menikahkan si Bungsu dan Mei-mei sudah cukup lama berlalu.
Adalah si Bungsu yang pertama menegakkan kepala. Dalam geram guruh dan suitan
angin di luar surau, dalam kesepian yang kelam itu, dia merasakan sesuatu yang
ganjil. Mereka sebenarnya harus merasa aman dengan guruh dan angin ribut itu. Apalagi
kalau hujan sempat turun. Sebab dengan demikian Jepang yang mencari mereka
tentunya menarik diri ke posnya dan mereka dengan aman bisa menguburkan jenazah
Mei-mei.
Kemudian dengan aman pula bisa melarikan diri dari kepungan tentara-tentara
Jepang itu. Namun tidak demikian halnya dengan si Bungsu. Ada firasat lain yang
membuat hatinya tak enak dalam kesunyian di loteng surau kecil itu. Nalurinya
yang tajam, yang terbiasa mencium marabahaya, yang telah terlatih ketika hidup
__ADS_1
lebih dari setahun bersama binatang-binatang buas di belantara Gunung Sago,
kini mencium bahaya adanya yang tersembunyi.
“Ada apa?” Datuk Penghulu bertanya melihat perobahan air muka anak muda itu.
Si Bungsu tak segera menjawab. Dia masih tetap duduk di dekat mayat Mei-mei.
Namun matanya berkilat aneh. Wajahnya jadi tegang.
“Kita terperangkap. . . .,” katanya perlahan.
Datuk Penghulu menegakkan kepala.
“Perangkap ?” desisnya sambil coba menangkap suara-suara yang menyelingi suitan
angin dan gemuruh guruh di luar surau.
Namun dia tak menangkap suara apa-apa. Tapi dia percaya pada anak muda ini. Dia
sudah beberapa kali membuktikan bahwa indera dan naluri anak muda didepannya
itu amat tajam. Datuk itu segera teringat pada Imam yang turun tadi. Apakah
Imam itu mengkhianati mereka? Ternyata Jepang itu memang mengetahui
persembunyian mereka dari Imam tersebut.
yang telah lama jadi mata-mata Jepang, melihat mereka. Dia segera saja
melaporkannya kepada seorang Letnan yang berada tak jauh dari sana. Dan Letnan
itu menanti di rumah si Imam. Begitu Imam itu muncul di rumahnya, dia jadi
terkejut. Di ruang depan rumahnya sudah berkumpul dua anak gadisnya dan
istrinya. Mereka di kawal oleh enam orang Serdadu Jepang dengan bedil dan
bayonet terhunus.
“Nah, kini katakan cepat siapa yang ada di surau itu pak imam.?”
Letnan Jepang itu segera saja buka suara begitu dia masuk. Imam itu jadi pucat.
Namun rasa nasionalnya yang tebal menolak untuk membuka rahasia.
“Tak ada siapa-siapa. Di sana hanya seorang perempuan yang akan sembahyang…”
“Apakah tak ada orang lain?”
__ADS_1
“Tak ada. Boleh lihat kesana.”
Imam itu berkata pasti. Sebab dia tahu, loteng surau itu dari bawah
kelihatannya hanya terbuat dari bambu. Padahal loteng itu berlapis dua.
Bahagian atasnya terbuat dari papan. Garin serta penjaga mesjid lainnya tidur
disana. Jalan naik ke atas berada di bahagian belakang, tersembunyi dari
pandangan orang.
Letnan itu tak mengulangi pertanyaan, tapi tangannya langsung bekerja. Sebuah
tamparan mendarat di pipi si Imam. Demikian kuatnya tamparan itu, sehingga Imam
itu terpelanting dan mulutnya berdarah. Istri dan anak-anaknya terpekik dan
mulai menangis. Imam itu menatap dengan penuh kebencian pada Jepang-Jepang
tersebut.
“Jahanam. Kalian takkan selamat di tangan negeri ini . . .” desisnya.
Letnan itu menggerakkan kaki. Ujung sepatunya yang keras mendarat di dagu Imam
tersebut. Kembali Imam ini terpelanting. Kali ini giginya copot beberapa buah.
Istrinya memburu dan memeluknya. Ketika anak gadisnya juga mendekat. Letnan itu
menyambar tangannya. Gadis itu terpekik dan meronta. Tapi Letnan itu merenggut
pakaiannya hingga robek.
“Nah, Imam, bicaralah yang sebenarnya. Kalau tidak, anakmu ini akan kubawa ke
kamar ..”
Ujar Letnan itu menyeringai. Imam itu melompat bangkit ingin menghantam letnan
tersebut. Tapi sebuah tendangan kembali membuat dia terjajar.
“Hmm Baik. Kalau kau tak mau buka suara, saya akan menikmati anakmu ini.”
Si Letnan lalu menyeret gadis berusia enam belas tahun itu ke bilik, Akhirnya
Imam itu tak bisa berbuat lain dari pada harus mengaku. Dia berharap agar kedua
orang yang ada di loteng surau itu menyadari bahwa bahaya mengancam mereka. Dia
__ADS_1
berharap agar kedua mereka segera turun dan melarikan diri.