TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 99


__ADS_3

Tikam Samurai - 99


Namun tak seorang pun di antara romusha itu yang sempat


berada di luar terowongan- setiap romusha yang masuk terowongan itu tak pernah diketahui


ada yang keluar. Tak pernah. Mereka dimasukkan ke terowongan itu di malam buta.


Tapi tak seorang pun yang melihat mereka keluar hidup ataupun mati Si Bungsu


telah mendengar cerita itu semua. Semuanya. Termasuk cerita yang mengatakan


bahwa gua itu dibuat Jepang untuk melawan ekspansi balatentara Sekutu yang akan


menuntut balas atas kekalahan mereka di Pilipina dan di Samudera pasifik, Di


Pearl Harbour, di daratan cina, di Malaysia, dan di Indonesia Kini ketiga


Kempetai itu melangkah masuk ke ruangan dimana mereka tertahan.


“Hmmm, kamu orang sudah sadar he Bungsu ?”


Seorang dari mereka yang berpangkat Syo-I (Letda) bersuara. si Bungsu


menatapnya dengan diam. Syo-I menyeringai menatapnya. Kemudian mereka berbicara


dalam bahasa mereka sesamanya.


Lalu menatap kepada Kari Basa yang masih terikat. Yang berpangkat prajurit


segera mengambil air dari sebuah tong besar yang terletak di sudut ruangan.


Tempat dia ditahan nampaknya merupakan sebuah kamar penyiksaan. Sebab beberapa


alat pemukul, bedil, samurai dan alat-alat penyiksa bergantungan di sebuah kayu


yang dipakukan ke dinding.


Air itu disiramkan ke muka Kari Basa. Kari Basa tetap saja pura-pura pingsan.


Yang seorang lagi, yang berpangkat Kopral, tiba-tiba dengan sebuah pekik


panjang melambung. Lalu kakinya mendarat diperut Kari Basa. Itu adalah sebuah


serangan karate bernama Mae Tubigeri.


Sebuah tendangan yang dihunjamkan melompat, dan amat tangguh. Kari Basa segera

__ADS_1


saja melenguh dan muntah. Ketiga Kempetai itu menyengir. Lambat-lambat, wajah


si Bungsu menegang melihat penyiksaan tersebut.


“Nah, Kari, atau siapapun namamu. Sebelum pagi datang, kau harus sudah


mengatakan dimana saja markas kalian. Kemudian siapa-siapa saja yang melibatkan


diri dalam gerakan melawan Balatentara Teno Haika. Baik dari kalangan penduduk


maupun dari kalangan Gyugun. Jangan kalian kira bahwa kami tak tahu, bahwa di


antara Gyugun ada yang terlibat. Hehe. Beberapa orang diantara mereka telah


kami tangkap. Kini kami inginkan kepastian. Nah, katakanlah. . . Bicaralah.


Lebih baik bicara sebelum disakiti, daripada terlanjur disakiti dan akhirnya


bicara juga. . .”


Syo-i itu bicara perlahan dari atas kursi kayu tua yang dia pergunakan sebagai


tempat duduk. Namun Kari Basa tak membuka mata sedikit pun. Syo-i itu memberi


isyarat kepada si kopral yang tadi melancarkan tendangan Mae Tubigeri. Kopral


Bungsu, dia melangkah ke dinding.


Mengambil sebuah kayu sebesar lengan orang dewasa dan panjangnya dua depa. Dia


tegak sedepa dari Kari Basa. Kemudian dengan sebuah ayunan kuat sekali, kayu


itu dihantamkan keperut Kari Basa. Tubuh Kari Basa seperti akan terlipat dua.


Tapi ikatan pada tangan dan kakinya membuat tubuhnya terguncang kuat. Dan


sekali lagi . . .


Kari Basa melenguh. Ludahnya berbuih di mulut. Seluruh bulu tengkuk si Bungsu


merinding melihat hal ini.


“Nah, Kari. Kini jawab pertanyaanku. Kau kenal anak muda ini bukan ?”


Letnan dua itu bertanya sambil menunjuk pada si Bungsu. Kari Basa berusaha


mengangkat kepala. Menatap Letnan itu. Namun kepalanya terkulai lagi, tapi

__ADS_1


kemudian perlahan dia menggeleng.


“Tak Kenal, ya?”


Seiring pertanyaan itu, letnan tersebut memberi isyarat pada si Kopral. Kayu


sebesar lengan itu kembali dihantamkan keperut Kari Basa. Kari Basa itu tak


menjerit. Hanya suara lenguhannya terdengar menyayat hati si Bungsu.


“Jawablah, kau kenal padanya bukan?”


Kari Basa dalam keadaan terkulai kembali menggeleng perlahan. Letnan itu


menyumpah-nyumpah dalam bahasa nenek moyangnya.


“Baiklah…baiklah. Kalau kau tak kenal dengan mereka. Kini kau cukup mengangguk


saja. Akan kubacakan beberapa nama anggota Gyugun yang kami ketahui terlibat


dalam gerakkan kalian ini. Kalau ada di antara mereka yang kau kenali, kau


cukup mengangguk saja. Jika ada satu orang saja yang kau kenali, maka malam ini


juga kau kami bebaskan.”


Usai bicara si letnan lalu memberi isyarat pada si Kopral. Kopral tersebut


membuka ransel. Mengeluarkan sebuah buku hitam. Mengambil sehelai kertas dan


memberikannya pada si Letnan.


“Nah, Kari Basa dengarkanlah baik-baik. Saya akan mulai dari yang berpangkat


Nito Hei (Prajurit Dua)” ujarnya.


Lalu dia mulai membaca daftar yang terdiri dari tak kurang enam puluh nama


dengan mengeja perlahan. Namun sampai akhir enam puluh nama itu dibacakan


kepala Kari Basa tetap menggeleng. Muka Letnan yang sejak tadi tersenyum-senyum


dan nyengir-nyengir kuda, kini berobah jadi keras. Dia memberi isyarat pada si


kopral. Kopral itu berjalan ke dinding. Dari sana dia mengambil sebuah sebuah


tang.

__ADS_1


__ADS_2