
Tikam Samurai - 20
”Jahanam kubunuh kau!!” desisnya dengan sepenuh rasa benci.
Dan samurainya bekerja! Dua kali tebasan ke muka. Pada tebasan pertama, dada
Cindaku yang sedang melayang ke arahnya kena dia tebas. Pada tebasan berbalik
yang kedua, leher Cindaku itu hampir putus. Dan anak muda ini berputar ke
belakang. Tubuh Cindaku itu turut tertegak setengah depa di belakangnya. Dan
saat itu dia menirukan gerak yang dipergunakan ayahnya dahulu. Menikamkan
samurai di tangannya ke belakang sambil menjatuhkan diri di lutut kanan!
Crep! Plasss!!
Samurai itu menembus dada kiri jadi-jadian itu. Terdengar raungannya memecah
senja. Merobek ketenangan hutan. Suara ribut hewan gunung terdengar tatkala
hewan-hewan itu berlarian dari semak ke semak mencari perlindungan. Kera
berlompatan dari pohon ke pohon. Raungan itu amat dahsyat. Harimau-harimau yang
berada di bawah pada terlompat mundur saking kagetnya.
Si Bungsu menarik samurainya, dan snapp!! Samurai itu kembali masuk ke
sarungnya dengan amat cepat. Dia tegak membelakangi tubuh Cindaku yang
terkapar tak bernyawa itu. Menghadap pada Cindaku besar yang
tertegun kaget di ujung batu sana. Mereka saling menatap. Wajah si Bungsu
yang biasanya murung dan sinar matanya yang kuyu, kini berobah. Wajahnya
jadi keras dan penuh kebencian. Matanya bersinar penuh amarah.
Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Harimau-harimau yang
ada di bawah sana mengaum hampir bersamaan. Mengaum dan menganga menghadapkan
moncong mereka ke bulan yang kelihatan seperti sabit di langit yang tinggi.
Pertanda apa pula ini? Pikir si Bungsu. Dia ingin tahu untuk apa kehadiran
__ADS_1
harimau-harimau itu. Dengan tetap tak melepaskan pandangan matanya dari Cindaku
besar di depannya, dia mundur tiga langkah.
Lalu dia tendang bangkai Cindaku mati itu ke bawah. Terdegar suara kaki menjauh
dan auman panjang. Lalu suara berkrosak. Suara saling rebut. Cindaku besar yang
masih hidup di depannya mendengus dan menggeram. Nyata sekali dia jadi murka.
Lalu tiba-tiba dia menyerang dengan loncatan panjang ke arah si Bungsu. Si
Bungsu kembali menyentak Samurai dan menghayunkan dalam empat kali tebasan.
Namun dengan terkejut dia melihat Cindaku itu melambung dan kembali tegak di
tempatnya semula!
Luar biasa! Dalam terkamannya tadi dia rupanya bisa melihat kilatan samurai
yang demikian cepat. Tidak hanya mampu melihat, tapi sekaligus juga mengelakkannya!
Tak segorespun dia kena. Samurai itu sudah berada kembali di dalam sarungnya.
Kini samurai bersarung itu dia pegang dengan tangan kiri. Mereka
bertatapan. Tiba-tiba Cindaku itu menyerang lagi. Tapi kali ini menyerang
dari atas tebing.
Si Bungsu melompat ke kiri dan mencabut samurainya. Cres, cres, cres! Dari kiri
dia mengirimkan tiga sabetan cepat ke tubuh Cindaku itu. Lalu samurai itu
kembali masuk ke sarangnya. Namun kembali dia lihat Cindaku itu tegak tiga depa
di depannya. Tak kurang satu apapun. Luar biasa. Dia yakin benar tadi, bahwa
sabetannya mengenai tubuh Cindaku ini. Apakah tubuh Cindaku besar ini tak
mempan oleh senjata tajam?
Bulu tengkuknya merinding. Kalau hal itu benar, maka itu berarti tamatlah
riwayatnya di sini. Dia tak memiliki ilmu batin seperti pesilat-pesilat
lainnya. Dia hanya mempunyai kepandaian memainkan samurai dan meloncat seperti
__ADS_1
tupai atau kera yang dia pelajari selama di gunung ini. Bukan ilmu silat. Bukan
Kumango seperti yang dimiliki ayahnya. Bukan pula silat Lintau seperti yang
dimiliki Datuk Maruhun, ayah Renobulan. Apakah di sini ajalnya?
Tidak!. Dia tak mau mati sekarang. Alangkah akan sia-sianya dia menahan segala
derita selama belasan purnama kalau hanya akan mati di sini. Dia teringat pada
sumpah ayahnya sewaktu akan meninggal. Bahwa ayahnya akan menuntut balas.
Bukankah itu suatu isyarat, bahwa dialah yang akan dipergunakan ayahnya untuk
menuntut balas atas dendam keluarganya itu? Tangan siapa lagi yang akan dipakai
ayahnya untuk membalas kekejaman Saburo dan ptajuritnya kalau tidak tangannya
sendiri?
Tidak. Dia tak boleh mati sekarang. Kalau dia mati sekarang, maka dendam
ayahnya takkan pernah berbalas. Kematian keluarganya dan kematian orang
kampungnya takkan pernah ada yang membalaskan. Kalau dia mati sekarang, maka
sia-sialah segala usahanya selama ini. Tidak. Dia tak mau mati sekarang.
Apalagi kematian di mulut seekor Cindaku. Seekor harimau jadi-jadian.
Tapi, sampai bila dia mampu bertahan? Sementara punggungnya luka parah. Luka
itu terasa amat mengganggu. Sangat pedih. Kata orang, konon kuku dan gigi
Cindaku mengandung bisa. Nah, kini punggungnya telah terluka. Berapa lamakah
dia bisa bertahan?
Dia lihat Cindaku di depannya merendah. Dia tegak dengan melebarkan kaki dan
membungkukkan lipatan lutut. Kemudian meletakkan samurai itu melintang di depan
dadanya. Dia menanti gerakan Cindaku itu berikutnya.
Jadi-jadian itu mulai melangkah memutar ke kanan. Dia tetap dalam
posisinya. Langkah Cindaku itu dia ikuti dengan sudut mata. Cindaku itu kini
__ADS_1
berada di sebelah kirinya. Berarti berada tentang ujung samurai. Dia masih
tegak menanti. Wajah lurus ke depan dan sudut mata menikam ke arah Cindaku itu.