TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 20


__ADS_3

Tikam Samurai - 20


”Jahanam kubunuh kau!!” desisnya dengan sepenuh rasa benci.


Dan samurainya bekerja! Dua kali tebasan ke muka. Pada tebasan pertama, dada


Cindaku yang sedang melayang ke arahnya kena dia tebas. Pada tebasan berbalik


yang kedua, leher Cindaku itu  hampir putus. Dan anak muda ini berputar ke


belakang. Tubuh Cindaku itu turut tertegak setengah depa di belakangnya. Dan


saat itu dia menirukan gerak yang dipergunakan ayahnya dahulu. Menikamkan


samurai di tangannya ke belakang sambil menjatuhkan diri di lutut kanan!


Crep! Plasss!!


Samurai itu menembus dada kiri jadi-jadian itu. Terdengar raungannya memecah


senja. Merobek ketenangan hutan. Suara ribut hewan gunung terdengar tatkala


hewan-hewan itu berlarian dari semak ke semak mencari perlindungan. Kera


berlompatan dari pohon ke pohon. Raungan itu amat dahsyat. Harimau-harimau yang


berada di bawah pada terlompat mundur saking kagetnya.


Si Bungsu menarik samurainya, dan snapp!! Samurai itu kembali masuk ke


sarungnya dengan amat cepat. Dia tegak membelakangi tubuh Cindaku yang


terkapar  tak bernyawa itu. Menghadap pada Cindaku besar yang


tertegun  kaget di ujung batu sana. Mereka saling menatap. Wajah si Bungsu


yang biasanya murung  dan sinar matanya yang kuyu, kini berobah. Wajahnya


jadi keras dan penuh kebencian. Matanya bersinar penuh amarah.


    Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Harimau-harimau yang


ada di bawah sana mengaum hampir bersamaan. Mengaum dan menganga menghadapkan


moncong mereka ke bulan yang kelihatan seperti sabit di langit yang tinggi.


Pertanda apa pula ini? Pikir si Bungsu. Dia ingin tahu untuk apa kehadiran

__ADS_1


harimau-harimau itu. Dengan tetap tak melepaskan pandangan matanya dari Cindaku


besar di depannya, dia mundur tiga langkah.


Lalu dia tendang bangkai Cindaku mati itu ke bawah. Terdegar suara kaki menjauh


dan auman panjang. Lalu suara berkrosak. Suara saling rebut. Cindaku besar yang


masih hidup di depannya mendengus dan menggeram. Nyata sekali dia jadi murka.


Lalu tiba-tiba dia menyerang dengan loncatan panjang ke arah si Bungsu. Si


Bungsu kembali menyentak Samurai dan menghayunkan dalam empat kali tebasan.


Namun dengan terkejut dia melihat Cindaku itu melambung dan kembali tegak di


tempatnya semula!


Luar biasa! Dalam terkamannya tadi dia rupanya bisa melihat kilatan samurai


yang demikian cepat. Tidak hanya mampu melihat, tapi sekaligus juga mengelakkannya!


Tak segorespun dia kena. Samurai itu sudah berada kembali di dalam sarungnya.


Kini samurai bersarung itu dia pegang  dengan tangan kiri. Mereka


bertatapan. Tiba-tiba Cindaku itu menyerang lagi. Tapi kali ini menyerang


dari atas tebing.


Si Bungsu melompat ke kiri dan mencabut samurainya. Cres, cres, cres! Dari kiri


dia mengirimkan tiga sabetan cepat ke tubuh Cindaku itu. Lalu samurai itu


kembali masuk ke sarangnya. Namun kembali dia lihat Cindaku itu tegak tiga depa


di depannya. Tak kurang satu apapun. Luar biasa. Dia yakin benar tadi, bahwa


sabetannya mengenai tubuh Cindaku ini. Apakah tubuh Cindaku besar ini tak


mempan oleh senjata tajam?


Bulu tengkuknya merinding. Kalau hal itu benar, maka itu berarti tamatlah


riwayatnya di sini. Dia tak memiliki ilmu batin seperti pesilat-pesilat


lainnya. Dia hanya mempunyai kepandaian memainkan samurai dan meloncat seperti

__ADS_1


tupai atau kera yang dia pelajari selama di gunung ini. Bukan ilmu silat. Bukan


Kumango seperti yang dimiliki ayahnya. Bukan pula silat Lintau seperti yang


dimiliki Datuk Maruhun, ayah Renobulan. Apakah di sini ajalnya?


Tidak!. Dia tak mau mati sekarang. Alangkah akan sia-sianya dia menahan segala


derita selama belasan purnama kalau hanya akan mati di sini. Dia teringat pada


sumpah ayahnya sewaktu akan meninggal. Bahwa ayahnya akan menuntut balas.


Bukankah itu suatu isyarat, bahwa dialah yang akan dipergunakan ayahnya untuk


menuntut balas atas dendam keluarganya itu? Tangan siapa lagi yang akan dipakai


ayahnya untuk membalas kekejaman Saburo dan ptajuritnya kalau tidak tangannya


sendiri?


Tidak. Dia tak boleh mati sekarang. Kalau dia mati sekarang, maka dendam


ayahnya takkan pernah berbalas. Kematian keluarganya dan kematian orang


kampungnya takkan pernah ada yang membalaskan. Kalau dia mati sekarang, maka


sia-sialah segala usahanya selama ini. Tidak. Dia tak mau mati sekarang.


Apalagi kematian di mulut seekor Cindaku. Seekor harimau jadi-jadian.


Tapi, sampai bila dia mampu bertahan? Sementara punggungnya luka parah. Luka


itu terasa amat mengganggu. Sangat pedih. Kata orang, konon kuku dan gigi


Cindaku mengandung bisa. Nah, kini punggungnya telah terluka. Berapa lamakah


dia bisa bertahan?


Dia lihat Cindaku di depannya merendah. Dia tegak dengan melebarkan kaki dan


membungkukkan lipatan lutut. Kemudian meletakkan samurai itu melintang di depan


dadanya. Dia menanti gerakan Cindaku itu berikutnya.


Jadi-jadian itu mulai melangkah  memutar ke kanan. Dia tetap dalam


posisinya. Langkah Cindaku itu dia ikuti dengan sudut mata. Cindaku itu kini

__ADS_1


berada di sebelah kirinya. Berarti berada tentang ujung samurai. Dia masih


tegak menanti. Wajah lurus ke depan dan sudut mata menikam ke arah Cindaku itu.


__ADS_2