
Tikam Samurai - 24
Dia tak akan turun sebelum dia merasa yakin akan mampu
menuntut balas dendam keluarganya. Dia takkan turun sebelum dia yakin akan bisa
menyaingi kemahiran Saburo Matsuyama mempergunaskan samurai dalam perkelahian.
Dia harus mampu!. Sebab ayahnya telah bersumpah untuk membalas dendam. Ayahnya
telah bersumpah untuk membunuh Saburo dengan samurai.
Sumpah ayahnya itu dia dengar nyata. Bukankah itu suatu isyarat padanya, agar
melaksanakan perintah ayah yang tak pernah dia patuhi suruhannya selama ayahnya
hidup? Dia harus melaksanakan niat ayahnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan
untuk menebus segala dosa yang pernah dia buat pada si ayah. Semasa dia hidup
dia tak pernah menyenangkan hati ayahnya. Kini setelah orang tua itu mati, dia
ingin melaksanakan niat ayahnya. Dia ingin berbuat baik padanya.
Dari pondoknya tak jauh di depannya dia lihat dua ekor tupai bergelut
bekejaran. Saling terkam, bergulingan. Lepas, terkam lagi, bergulingan lagi.
Lambat-lambat dia melangkah keluar. Kedua tupai itu masih berlarian. Masih
bergelut. Masih bergulingan. Meloncat. Melambung dan menerkam. Dia
memperhatikan kembali dengan seksama. Gerakan itu seperti sengaja diperlihatkan
kepadanya berulang-ulang. Dan gerakan itu telah dia tiru berkali-kali, sampai
mahir. Ya, gerakan yang telah menyelamatkan nyawanya dalam perkelahian dengan
Cindaku itu dia tiru dari gerakan dua tupai itu.
Suatu hari dia melihat keduanya berkelahi di cabang pohon. Berkelahi dengan
sengit. Saling loncat, saling terkam. Bergulung dan melambung di cabang pohon.
Namun tak seekorpun yang jatuh. Mereka nampaknya memiliki ilmu keseimbangan
yang sempurna. Kemudian dia menirukan gerakan itu. Mula-mula sudah tentu tak
__ADS_1
berkelincitan. Tubuhnya berkelukuran. Namun berbulan-bulan setelah itu dia jadi
bisa. Dan anehnya, tanpa dia sangka kedua tupai itu ternyata memperhatikan
setiap tingkah lakunya. Kemudian kedua tupai itu sering bergelut di batu layah
itu. Seperti memberikan petunjuk dan pelajaran baru padanya. Dan tentu saja dia
mengikutinya. Dan tupai-tupai itu kemudian menjadi ”sahabat dan guru”nya.
”Terima kasih, saya akan ingat selalu atas pelajaran yang kalian
berikan…” ujarnya suatu hari.
Kedua tupai itu menjilat kaki depan mereka. Kemudian meloncat pergi. Dia
melambai meskipun tupai itu tak melihat lagi padanya. Dia menatap pada
burung-burung yang bernyanyi di pohon. Menatap pada ikan-ikan kecil di
tebat alam di atas batu itu. Menatap dan mencium dengan segenap rasa
terima kasih bau harumnya hutan belantara itu. Ini adalah hari-hari terakhir
dia berada di gunung Sago itu.
lihat Jepang berkelahi mempergunakan samurai. Dia tiru gerakan itu. Dia lihat
ayahnya berkelahi menikamkan samurai. Dia tiru cara mrnikaman samurai itu. Dia
lihat tupai berkelahi dan bergulingan. Dia tiru gerakan itu. Tuhan menjadikan
alam ini untuk dipelajari. Dan dia belajar banyak sekali padanya. Banyak hikmah
tersembunyi di balik alam semesta ini. Hanya manusia yang tak mengetahui
isyarat-isyarat yang dijadikan Allah Yang Maha Pencipta itu.
—o0o—
Kampung itu telah ramai sekali. Kehidupan sudah berlangsung seperti biasa. Hari
itu hari Jumat, panasnya bukan main. Lelaki boleh dikatakan semuanya berkumpul
di masjid. Mereka sebahagian besar hampir tertidur tatkala khatib membaca
khotbah. Khotbah yang dibacakan berasal dari penguasa Jepang. Para khatib tidak
__ADS_1
lagi bebas berkhotbah seperti biasa. Mula-mula cara berkhotbah begitu terasa
menyakitkan hati umat islam. Tidak hanya di kampung itu, tapi juga di seluruh
Minangkabau.
Namun lama-lama hal itu menjadi biasa. Kehendak penguasa memang harus ditaati.
Masih untung yang mereka wajibkan hanya membaca khotbah yang sudah ditentukan.
Lagipula khotbah itu rasanya tak ada yang melanggar ajaran agama. Selain berisi
ayat-ayat Al Quran dan hadis seperti biasa, menyeru berbuat baik dan menjauhi
yang mungkar, kini ditambah dengan menyeru untuk mematuhi perintah yang datang
dari Jepang sebagai saudara tua.
Mematuhi perintahJepang berarti membantu mengamankan kampung halaman- juga
berarti membangun negeri. Nah, apa beratnya membaca khotbah seperti itu
bukan?jemaah sebenarnya ingin cepat khotbah itu berakhir. Namun tak seorangpun
yang berani meninggaikan masjid. Sebab mereka tahu, kalau mereka pergi berarti
tak suka pada khotbah. Dan tak suka pada khotbah di masjid berarti tak menyukai
seruanJepang si saudara tua. Nah, ini bisa mengundang kesusahan.
Daripada susah lebih baik di masjid. Meskipun ngantuk.
Akhirnya sembahyang Jumat yang dua rakaat itupun selesai. orang-orang
bersalaman untuk pulang. Seorang lelaki seporah baya yang duduk di saf paling
belakang disalami oleh orang yang duduk di sebelahnya. Dia menerima salam itu
dengan senyum. Namun tatkala dia melihat pada orang yang menyalaminya itu,
senyumnya lenyap tiba-tiba. Tangannya yang tengah bersalaman itu dia tarik
cepat-cepat. Dia seperti orang yang terpandang pada setan di siang hari. Lalu
tiba-tiba dia bangkit. Kemudian bergegas ke pintu. Dua orang lelaki yang akan
keluar tertabrak olehnya.
__ADS_1