
Tikam Samurai - 25
”Hei, bergegas kelihatannya. Akan kemana Datuk?” orang
yang ditabrak dipintu mesjid itu bertanya.
Lelaki seporah baya yang dipanggil dengan sebutan Datuk itu mula-mula akan
terus keluar.
Namun dia berbalik dan berbisik pada kedua lelaki yang ditabrak itu. Kedua
lelaki itu tak percaya. Mereka surut kembali ke tengah masjid. Menatap orang
yang bersalaman dengan Datuk itu. Yang kini masih duduk menunduk. Kedua orang
ini juga tersurut. Kemudian cepat-cepat berlalu. Sudah tentu sikap ini menarik
perhatian yang lain. Dan beberapa orang, meniru perbuatannya pula. Berbalik ke
tengah masjid dan melihat pada orang yang masih duduk menunduk itu. Kemudian
juga mereka seperti melihat setan. Lalu keluar cepat-cepat.
Dalam waktu yang singkat, hampir semua lelaki di kampung itu, yang datang
sembahyang Jumat ke masjid, mengetahui bahwa si bungsu laknat anak Datuk
Berbangsa itu ternyata masih hidup, Dan kini dia kembali ke kampung ini. Ada
perasaan tak sedap dan tak aman di hati hampir seluruh lelaki kampung atas
kehadiran si Bungsu. Anak muda itu masih duduk di tengah masjid. Duduk dengan
kepala menunduk. Dia tahu tadi orang memperhatikannya. Dia tahu orang berbisik
membencinya. Dan itulah kini yang dia renungkan. Dia menyangka dengan masuknya
rumah Allah ini perasaannya akan tentram. Dia menyangka bahwa di rumah Allah
ini semua insan sama. Bukankah setiap kaum muslim itu bersaudara? Dan bukankah
masjid ini adalah lambang dari persaudaraan orang Islam? Mengapa kebencian di
luar sana harus dibawa ke rumah suci ini? Atau di rumah Allah inipun manusia
sebenarnya tak bisa melepaskan dirinya dari sikap manusia yang hewani. Saling
membenci, saling dengki, saling atas mengatasi, saling himpit menghimpit? Atau
barangkali dia tak dianggap sebagai seorang Muslim?
__ADS_1
”Engkau itu Bungsu?”
Tiba-tiba suara lembut menyapa. Menyadarkan dirinya dari lamunan- Dia
mengangkat kepala. Dan matanya tertatap pada imam yang barusan menyapa. Imam
itu masih duduk di depan, di dekat mihrab.
”Benar. Saya inilah pak Haji…” dia berkata sambil kembali menunduk.
”Sudah lama kau tiba di kampung ini?”
Aneh. Suara imam itu tetap lembut. Tak ada nada permusuhan sedikitpun.
”Saya tiba malam tadi pak….” katanya masih tetap menunduk.
„Angkat kepalamu Bungsu. ini rumah Allah. Di sini setiap manusia sama nilainya.
Mereka hanya berbeda amalnya di sisi Allah.” Imam itu seperti bisa membaca yang
tersirat di hatinya. Dia mengangkat kepala. Menatap imam itu dengan heran.
”Disenangi. Dibenci. Dipuja. Disanjung. Dilupakan. Dicaci maki, atau tak
diacuhkan. Itulah yang dinamakan kehidupan Bungsu. Manusia harus berjuang di
antara kemungkinan-kemungkinan itu. orang takkan mulia karena pujian.
Si bungsu termenung. Dalam masjid itu tak ada orang lain. Hanya dia dan imam
itu saja.
”Dimana engkau malam tadi?” Imam itu bertanya lagi.
”Di surau lama di hilir kampung ini pak Haji….”
”Hmm. Masih senang main koa atau dadu?“
Dia menggeleng, kepalanya kembali menunduk.
”Kenapa tak terus ke rumahmu?”
Kini dia mengangkat kepala. Menatap pada haji itu.
”Saya sudah sampai di sana pak Haji. Tapi saya lihat ada orang yang menunggu.
Saya tak berani membangunkan mereka. Saya tak tahu siapa yang telah menghuni…”
”Yang menghuni adalah Sutan Lembang. Menantu mamakmu Datuk Sati. Semua orang di
kampung ini menyangka engkau telah mati.Jadi seluruh pusaka keluargamu menurut
__ADS_1
adat jatuh pada kakak lelaki ibumu. Dia punya rumah banyak. Karena itu rumah
ibumu disuruh tunggunya pada anak perempuannya. Isteri Sultan Lembang.”
”Ada yang ingin saya tanyakan pada pak Imam…”
”Tentang kuburan ayah, ibu dan kakakmu yang di tengah laman rumah itu?”
Si bungsu kaget. Alangkah tajamnya firasat Imam ini. Dia memang akan menanyakan
kuburan itu. Malam tadi dalam cahaya rembulan, kuburan itu tak dia lihat lagi
di tengah halaman itu. Padahal dulu di sanalah dia menguburkan ayah, ibu dan
kakaknya. Benar. Saya ingin tahu dimana kini kuburan mereka akhirnya dia
berkata juga.
”Dahulu mereka kau kuburkan di tengah halaman bukan? Dan kakakmu dekat jenjang.
Kembali dia terkejut mendengar ketepatan terkaan Haji ini. ”Benar pak Haji…”
”Dan seorang Benar begitu?.” Anak yang kau kubur dekat pohon gajus di sebelah
sekolah. Dua orang perempuan di bawah batang manggis. Tiga orang lelaki dekat
kandang kerbau. Begitu bukan Bungsu?”
”Apakah pak Haji ada waktu saya menguburkan mereka?”
Si bungsu bertanya di antara rasa kaget dan herannya. Haji itu menarik nafas
panjang. Kemudian berkata perlahan :
”Allah Maha Besar. Hari ini Allah membuktikan apa yang kuduga selama ini.
Terima kasih Bungsu. Engkau telah menyelenggarakan mayat-mayat itu dengan baik.
Salah satu lelaki yang kau kubur itu adalah adikku. Dan anak itu adalah
ponakanku. Terima kasih. Saya sudah menduga sejak semula. Bahwa kaulah yang
menguburkan mereka. Sebab saat itu semua kami sudah melarikan diri. Kami lihat
kau kena hantam samurai. Ketika kami kembali sebulan kemudian,kuburan itu kami
gali kembali. Kami pindahkan ke pekuburan kaum. Ternyata mayatmu tak
kamijumpai. Semua orang menyangka mayatmu diseret binatang ke kaki gunung dan
memamahnya di sana.
__ADS_1