TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 21


__ADS_3

Tikam Samurai - 21


Cindaku itu bergerak ke belakangnya. Dia tak memalingkan


kepala. Tidak. Untuk memalingkan kepala dia harus memakai sekian detik. Dan itu


merugikannya. Dia lalu memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi dan ”melihat”


melalui pendengarannya yang amat tajam.


Langkah Cindaku itu amat ringan. Di atas batu besar dimana kini mereka berada


langkah mahluk itu hampir-hampir tak terdengar. Namun dia sudah belasan purnama


berlatih. Dia tak khawatir, dengan memejamkan mata dia dapat mendengar dengan


jelas langkah Cindaku itu. Langkah terutama jadi jelas baginya karena gesekan


halus kuku Cindaku yang panjang itu dengan batu. Bagi orang biasa, gesekan itu


pasti takkan terdengar. Namun bagi si Bungsu, suara gesekan itu amat jelas


terdengar. Cindaku itu berhenti tepat di belakangnya. Sejajar dengan tulang


punggungnya dalam jarak sedepa. Itu berarti mahluk jadi-jadian itu bisa


menjangkau punggungnya dengan tangannya yang panjang.


Dia menanti, sementara suara dengus dan berebutan daging mentah di bawah sana


sudah berhenti. Dia yakin harimau-harimau itu kini menatap ke atas, ke arah


mereka. Si Bungsu tetap memejamkan mata. Dia mendengar nafas Cindaku itu


memburu. Dia yakin kini Cindaku itu bersiap untuk meyerang. Nafasnya yang


memburu itu sebagai tanda. Dan nafas memburu itu juga sebagai pertanda bahwa


Cindaku itu juga menaruh rasa gentar. Ya, sama saja seperti dia yang juga


merasa gentar. Nafasnya juga memburu.


Tiba-tiba dia rasakan angin bersuit. Itu pertanda Cindaku itu tengah menyerang!


Samurainya bergerak. Dia berputar sangat cepat menirukan berputarnya macan


kumbang. Kemudian samurainya berkelebat.


Cras! cras! cras!!

__ADS_1


Tiga kali sabetan cepat dan kuat, kemudian dia menikamkan samurai ke belakang.


Snap! Dia duduk di lutut kanan dan menekankan samurai itu ke belakang


kuat-kuat. Namun jadi-jadian di belakangnya masih bergerak. Dan tiba-tiba


sebuah hantaman menerpa  kepalanya! Dia terpekik dan terlempar ke batu.


Samurainya lepas! Kulit kepalanya di bahagian belakang terkelupas selebar


telapak tangan! Buat sesaat dia nanar.


Namun di antara rasa terkejutnya yang luar biasa, dia ingat bahwa dia harus


tetap hidup. Dia sadar bahwa dirinya kini dalam keadaan kritis. Loncat Tupai!


Gerak itu kembali dia lakukan. Berkali-kali gerakan tupai bergelut itu telah


menyelamatkan dirinya. Kini begitu tubuhnya menghantam batu, dia bergulingan


tiga kali ke kanan saat  Cindaku itu menerkam. Seringan tupai dia


bergulingan  dengan lambungan sehasta tiga kali ke kiri. Kemudian


berputar. Cindaku itu menerkam ke sana. Dia bersalto ke belakang! Tegak di atas


kedua kaki dengan lipatan lutut di bengkokkan.


di belakang kepalanya mengucurkan banyak darah. Berdenyut-denyut. Dia menatap


Cindaku itu. Ternyata apa yang dia khawatirkan benar adanya. Cindaku itu tidak


mempan oleh senjata tajam. Tidak mempan. Ilmu Cindaku kecil tadi rupanya belum


mencapai tingkat yang sempurna. Masih banyak kadar manusianya. Itulah sebabnya


dia termakan oleh senjata tajam. Tapi yang satu ini nampaknya sudah mencapai


tingkatan yang tinggi. Tak lagi dimakan besi.


Kini si Bungsu tidak lagi bersenjata selain sarung samurai. Samurainya sendiri


berada sedepa di depannya. Berarti senjata itu berada di antara dia dengan


Cindaku itu. Dia tak berani gegabah memungut senjata yang terletak sedepa di


depannya itu. Tidak, itu akan memudahkan Cindaku itu menerkamnya. Dia makin


lemah. Dan rasa takut yang luar biasa menjalarinya. Dia takut mati. Tapi takut

__ADS_1


tak bisa membalaskan dendam keluarganya.


Cindaku itu mulai lagi mempersiapkan diri untuk menyerang, Si Bungsu tetap


tegak di tempatnya. Ketika Cindaku itu menggeser tegak ke kiri, dia menggeser


tegaknya ke kanan. Jadi mereka bergerak searah. Dia bukannya tak tahu, bahwa


Cindaku itu kembali ingin menyerangnya dari sebelah kiri. Yaitu di bahagian


rusuknya yang luka.


Tapi dia sendiri juga punya maksud menggeser tegaknya ke kanan. Dia ingin


meletakkan samurai itu di bahagian kirinya. Dua langkah, tiga langkah, empat!.


Dan tiba-tiba Cindaku itu menyerang. Loncat tupai! Gerakan itu lagi-lagi


menyelamatkan dirinya. Tubuhnya berguling ke kiri dengan ringan dua kali


putaran, kali ketiga tangannya menyentuh hulu samurai. Gerakan keempat sambil


menggenggam samurai itu tubuhnya melentik setinggi setengah depa dan hep! Dia


tertegak di pinggir  batu. Geraman harimau terdengar di bawah!


Kini dia bisa bernafas lega. Samurai itu berada lagi di tangannya. Dia tahu,


bahwa senjata ini takkan mempan pada makhluk tersebut. Namun tanpa senjata. Dia


merasa dirinya seperti telanjang. Meskipun tak mempan, senjata ini memberinya


semacam sugesti. Dia tegak dengan diam. Melintangkan samurai itu di depan


dadanya. Memusatkan konsentrasi dan pendengaran. Jauh di bawah sana, dari


kampung di pinggang gunung itu dia mendengar suara tabuh.


Tabuh itu pastilah tabuh sembahyang Isa. Suaranya sayup-sayup. Tapi itu jelas


suara tabuh dari suara atau masjid. Telinga yang  amat tajam  dapat


mendengar suara tabuh itu. Suara tabuh itu jelas terdengar olehnya tiap hari


setiap dia memusatkan konsentrasi di gunung Sago ini. Barangkali tabuh itu berasal


dari masjid di kampung Manang Kadok atau kampung Sikabu-kabu. Yang tak


terdengar sampai kemari adalah suara azan muazinnya. Mungkin karena suara

__ADS_1


manusia jauh lebih pelan daripada suara tabuh.


__ADS_2