
Tikam Samurai - 21
Cindaku itu bergerak ke belakangnya. Dia tak memalingkan
kepala. Tidak. Untuk memalingkan kepala dia harus memakai sekian detik. Dan itu
merugikannya. Dia lalu memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi dan ”melihat”
melalui pendengarannya yang amat tajam.
Langkah Cindaku itu amat ringan. Di atas batu besar dimana kini mereka berada
langkah mahluk itu hampir-hampir tak terdengar. Namun dia sudah belasan purnama
berlatih. Dia tak khawatir, dengan memejamkan mata dia dapat mendengar dengan
jelas langkah Cindaku itu. Langkah terutama jadi jelas baginya karena gesekan
halus kuku Cindaku yang panjang itu dengan batu. Bagi orang biasa, gesekan itu
pasti takkan terdengar. Namun bagi si Bungsu, suara gesekan itu amat jelas
terdengar. Cindaku itu berhenti tepat di belakangnya. Sejajar dengan tulang
punggungnya dalam jarak sedepa. Itu berarti mahluk jadi-jadian itu bisa
menjangkau punggungnya dengan tangannya yang panjang.
Dia menanti, sementara suara dengus dan berebutan daging mentah di bawah sana
sudah berhenti. Dia yakin harimau-harimau itu kini menatap ke atas, ke arah
mereka. Si Bungsu tetap memejamkan mata. Dia mendengar nafas Cindaku itu
memburu. Dia yakin kini Cindaku itu bersiap untuk meyerang. Nafasnya yang
memburu itu sebagai tanda. Dan nafas memburu itu juga sebagai pertanda bahwa
Cindaku itu juga menaruh rasa gentar. Ya, sama saja seperti dia yang juga
merasa gentar. Nafasnya juga memburu.
Tiba-tiba dia rasakan angin bersuit. Itu pertanda Cindaku itu tengah menyerang!
Samurainya bergerak. Dia berputar sangat cepat menirukan berputarnya macan
kumbang. Kemudian samurainya berkelebat.
Cras! cras! cras!!
__ADS_1
Tiga kali sabetan cepat dan kuat, kemudian dia menikamkan samurai ke belakang.
Snap! Dia duduk di lutut kanan dan menekankan samurai itu ke belakang
kuat-kuat. Namun jadi-jadian di belakangnya masih bergerak. Dan tiba-tiba
sebuah hantaman menerpa kepalanya! Dia terpekik dan terlempar ke batu.
Samurainya lepas! Kulit kepalanya di bahagian belakang terkelupas selebar
telapak tangan! Buat sesaat dia nanar.
Namun di antara rasa terkejutnya yang luar biasa, dia ingat bahwa dia harus
tetap hidup. Dia sadar bahwa dirinya kini dalam keadaan kritis. Loncat Tupai!
Gerak itu kembali dia lakukan. Berkali-kali gerakan tupai bergelut itu telah
menyelamatkan dirinya. Kini begitu tubuhnya menghantam batu, dia bergulingan
tiga kali ke kanan saat Cindaku itu menerkam. Seringan tupai dia
bergulingan dengan lambungan sehasta tiga kali ke kiri. Kemudian
berputar. Cindaku itu menerkam ke sana. Dia bersalto ke belakang! Tegak di atas
kedua kaki dengan lipatan lutut di bengkokkan.
di belakang kepalanya mengucurkan banyak darah. Berdenyut-denyut. Dia menatap
Cindaku itu. Ternyata apa yang dia khawatirkan benar adanya. Cindaku itu tidak
mempan oleh senjata tajam. Tidak mempan. Ilmu Cindaku kecil tadi rupanya belum
mencapai tingkat yang sempurna. Masih banyak kadar manusianya. Itulah sebabnya
dia termakan oleh senjata tajam. Tapi yang satu ini nampaknya sudah mencapai
tingkatan yang tinggi. Tak lagi dimakan besi.
Kini si Bungsu tidak lagi bersenjata selain sarung samurai. Samurainya sendiri
berada sedepa di depannya. Berarti senjata itu berada di antara dia dengan
Cindaku itu. Dia tak berani gegabah memungut senjata yang terletak sedepa di
depannya itu. Tidak, itu akan memudahkan Cindaku itu menerkamnya. Dia makin
lemah. Dan rasa takut yang luar biasa menjalarinya. Dia takut mati. Tapi takut
__ADS_1
tak bisa membalaskan dendam keluarganya.
Cindaku itu mulai lagi mempersiapkan diri untuk menyerang, Si Bungsu tetap
tegak di tempatnya. Ketika Cindaku itu menggeser tegak ke kiri, dia menggeser
tegaknya ke kanan. Jadi mereka bergerak searah. Dia bukannya tak tahu, bahwa
Cindaku itu kembali ingin menyerangnya dari sebelah kiri. Yaitu di bahagian
rusuknya yang luka.
Tapi dia sendiri juga punya maksud menggeser tegaknya ke kanan. Dia ingin
meletakkan samurai itu di bahagian kirinya. Dua langkah, tiga langkah, empat!.
Dan tiba-tiba Cindaku itu menyerang. Loncat tupai! Gerakan itu lagi-lagi
menyelamatkan dirinya. Tubuhnya berguling ke kiri dengan ringan dua kali
putaran, kali ketiga tangannya menyentuh hulu samurai. Gerakan keempat sambil
menggenggam samurai itu tubuhnya melentik setinggi setengah depa dan hep! Dia
tertegak di pinggir batu. Geraman harimau terdengar di bawah!
Kini dia bisa bernafas lega. Samurai itu berada lagi di tangannya. Dia tahu,
bahwa senjata ini takkan mempan pada makhluk tersebut. Namun tanpa senjata. Dia
merasa dirinya seperti telanjang. Meskipun tak mempan, senjata ini memberinya
semacam sugesti. Dia tegak dengan diam. Melintangkan samurai itu di depan
dadanya. Memusatkan konsentrasi dan pendengaran. Jauh di bawah sana, dari
kampung di pinggang gunung itu dia mendengar suara tabuh.
Tabuh itu pastilah tabuh sembahyang Isa. Suaranya sayup-sayup. Tapi itu jelas
suara tabuh dari suara atau masjid. Telinga yang amat tajam dapat
mendengar suara tabuh itu. Suara tabuh itu jelas terdengar olehnya tiap hari
setiap dia memusatkan konsentrasi di gunung Sago ini. Barangkali tabuh itu berasal
dari masjid di kampung Manang Kadok atau kampung Sikabu-kabu. Yang tak
terdengar sampai kemari adalah suara azan muazinnya. Mungkin karena suara
__ADS_1
manusia jauh lebih pelan daripada suara tabuh.