TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 40


__ADS_3

Tikam Samurai - 40


Si Bungsu semula seperti ragu dan takut. Tapi karena


tangannya ditarik oleh Baribeh, akhirnya dia menuruti juga. Padahal dia telah


menunggu kesempatan ini sejak lama.


Bukankah dulu, saat dia sadar dari pingsannya setelah dilanyau Baribeh dan dua


temannya, setelah semua uangnya mereka sikat di surau bekas itu dia, bersumpah


akan menuntut balas? Kini kesempatan itu datang. Dia melangkah perlahan


mengikuti Baribeh. Di belakangnya berjalan si Juling. Mereka memasuki rumah


Babah gemuk itu. Babah yang kini tengah asyik bermain dadu dengan dua orang


tentara Jepang yang anak gadisnya tengah dilanyau oleh tentara Jepang berpangkat


Chu – i itu. Mereka melangkah terus ke dalam. Baribeh dan si Jul nampaknya


sudah terlalu biasa di rumah ini. Mereka mengenal set iap penghuni dan sudut


rumah itu. Ketika mereka muncul ditempat orang yang tengah berjudi dadu itu, si


Babah berbisik pada salah seorang perwira Jepang didepannya :


” Ini mereka datang,” kemudian dia berseru pada Baribeh


” Hai Baribeh. Lama tak datang lagi. Mana saja ente pigi ?”


”We pigi jauh. We ada bawa kabar baik, dan ada bawa kawan baik. Ini kawan mau


main dadu sama babah ”.


Baribeh menjawab sambil menirukan gaya bicara babah gemuk itu. Babah gemuk itu


menatap pada si Bungsu. Demikian pula kedua serdadu Jepang itu. Kedua Jepang


itu menatapnya dengan seksama.


Sementara Babah gemuk itu hanya menatap sebentar. Namun si Bungsu, yang nyaris


tiga tahun hidup di pinggang gunung Sago, bergaul dan mempelajari kehidupan


mahluk yang ada di sana, terutama hewan buas agar tak mati dilapahnya, dapat

__ADS_1


menangkap pandangan yang ganjil maknanya dari tatapan mata si Babah yang


sekejab itu. Dia tak dapat mengetahui dengan pasti, apa yang harus dia curigai


dari tatapan si gemuk itu. Namun firasatnya yang tajam, yang dia bawa dari


pengalaman hidup sekitar dua tahun di gunung Sago, memperingatkan bahwa kalau


terjadi apa – apa, maka yang berbahaya dan harus diawasi adalah Babah gemuk


yang kelihatan loyo itu.


Dengan pesan naluri demikian, dia lalu mengangguk kepada mereka. Kemudian duduk


agak berjarak dari kedua Jepang tadi. Baribeh dan temannya si Juling itu juga


mengambil tempat duduk menghadapi si Babah. Ketiga mereka yang baru datang itu


belum segera bertaruh. Mereka hanya duduk memperhatikan permainan yang sedang


berlangsung.


Si Baribeh merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah bungkusan. Kemudian


mengeluarkan semacam tembakau, tapi agak kasar. Menggulungnya besar – besar,


kemudian menghirupnya seperti mengisap cerutu. Kedua perwira Jepang yang tengah


Baribeh.


” Hmm. Candu. Candu nomor satu ” ujar yang seorang Salah seorang diantara mereka


lalu meraih bungkusan si Baribeh. Menggulungnya besar–besar. Dan menghisapnya.


Temannya juga ikut meniru. Kemudian si Juling. Mereka menghisap candu itu


dengan ni’matnya.


”Siap ..?”


Babah gemuk itu bertanya pada kedua Jepang yang tengah kesedapan itu sambil


mengangkat bambu di tangannya.


”Ayo kita main” ujar seorang Jepang pada Baribeh yang kemudian menggamit si Jul


dan Bungsu untuk ikut memasang taruhan

__ADS_1


”Mulailah ..”


Jepang yang berkepala botak dan bertubuh kurus berkata sambil tetap menghisap


candunya. Si Bungsu melihat Babah gemuk itu mengambil tiga buah dadu dari


piring yang tertelentang di tikar. Kemudian memasukkan kedalam bambu yang


panjangnya lebih dari sejengkal itu.


Si Bungsu memperhatikan jari – jari tangan Babah. Aneh, Cina itu bertubuh gemuk


dengan perut buncit. Namun jari – jari tangannya tidak selaras dengan tubuhnya


yang subur itu.


Biasanya orang – orang gemuk jari jemarinya pastilah bulat – bulat gemuk pula.


Tapi jari-jari Babah ini kelihatan langsing dan panjang – panjang. Berbeda dengan


Cina – Cina tua lainnya, yang biasanya membiarkan kukunya tak terawat, kuku


Babah ini kelihatan dipepat bersih.


Kini dia tengah mengguncang bambu yang berisi dadu itu. Terdengar bunyi dadu


saling berputar dan beradu dalam bambu tersebut. Empat kali putaran cepat, tiba


– tiba bambu itu ditelungkupkannya di atas piring. Dalam waktu yang sangat


singkat, terdengar ketiga buah dadu itu jatuh ke piring. Babah itu melepaskan


tangannya dari bambu. Dan bambu itu tertegak di atas piring menutupi ketiga


butir dadu di dalamnya.


Baribeh memasang taruhannya pada angka – angka dua, tiga dan empat. Dia memang


bertaruh begitu. Main tebak dibanyak nomor. Biasanya salah satu pasti kena.


Sementara si Bungsu hanya memasang disatu nomor.


Dan dalam empat kali meletakkan taruhan tadi, dia tetap bertahan memasang


disatu nomor saja. Kinipun dia bermaksud begitu, mengambil uang dari


kantongnya.

__ADS_1


Kemudian meletakkan di angka satu. Si Juling memasang dinomor empat, yaitu


diangka pasangan Baribeh. Babah gemuk itu mengangkat bambu yang menutupi dadu.


__ADS_2