
Tikam Samurai - 40
Si Bungsu semula seperti ragu dan takut. Tapi karena
tangannya ditarik oleh Baribeh, akhirnya dia menuruti juga. Padahal dia telah
menunggu kesempatan ini sejak lama.
Bukankah dulu, saat dia sadar dari pingsannya setelah dilanyau Baribeh dan dua
temannya, setelah semua uangnya mereka sikat di surau bekas itu dia, bersumpah
akan menuntut balas? Kini kesempatan itu datang. Dia melangkah perlahan
mengikuti Baribeh. Di belakangnya berjalan si Juling. Mereka memasuki rumah
Babah gemuk itu. Babah yang kini tengah asyik bermain dadu dengan dua orang
tentara Jepang yang anak gadisnya tengah dilanyau oleh tentara Jepang berpangkat
Chu – i itu. Mereka melangkah terus ke dalam. Baribeh dan si Jul nampaknya
sudah terlalu biasa di rumah ini. Mereka mengenal set iap penghuni dan sudut
rumah itu. Ketika mereka muncul ditempat orang yang tengah berjudi dadu itu, si
Babah berbisik pada salah seorang perwira Jepang didepannya :
” Ini mereka datang,” kemudian dia berseru pada Baribeh
” Hai Baribeh. Lama tak datang lagi. Mana saja ente pigi ?”
”We pigi jauh. We ada bawa kabar baik, dan ada bawa kawan baik. Ini kawan mau
main dadu sama babah ”.
Baribeh menjawab sambil menirukan gaya bicara babah gemuk itu. Babah gemuk itu
menatap pada si Bungsu. Demikian pula kedua serdadu Jepang itu. Kedua Jepang
itu menatapnya dengan seksama.
Sementara Babah gemuk itu hanya menatap sebentar. Namun si Bungsu, yang nyaris
tiga tahun hidup di pinggang gunung Sago, bergaul dan mempelajari kehidupan
mahluk yang ada di sana, terutama hewan buas agar tak mati dilapahnya, dapat
__ADS_1
menangkap pandangan yang ganjil maknanya dari tatapan mata si Babah yang
sekejab itu. Dia tak dapat mengetahui dengan pasti, apa yang harus dia curigai
dari tatapan si gemuk itu. Namun firasatnya yang tajam, yang dia bawa dari
pengalaman hidup sekitar dua tahun di gunung Sago, memperingatkan bahwa kalau
terjadi apa – apa, maka yang berbahaya dan harus diawasi adalah Babah gemuk
yang kelihatan loyo itu.
Dengan pesan naluri demikian, dia lalu mengangguk kepada mereka. Kemudian duduk
agak berjarak dari kedua Jepang tadi. Baribeh dan temannya si Juling itu juga
mengambil tempat duduk menghadapi si Babah. Ketiga mereka yang baru datang itu
belum segera bertaruh. Mereka hanya duduk memperhatikan permainan yang sedang
berlangsung.
Si Baribeh merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah bungkusan. Kemudian
mengeluarkan semacam tembakau, tapi agak kasar. Menggulungnya besar – besar,
kemudian menghirupnya seperti mengisap cerutu. Kedua perwira Jepang yang tengah
Baribeh.
” Hmm. Candu. Candu nomor satu ” ujar yang seorang Salah seorang diantara mereka
lalu meraih bungkusan si Baribeh. Menggulungnya besar–besar. Dan menghisapnya.
Temannya juga ikut meniru. Kemudian si Juling. Mereka menghisap candu itu
dengan ni’matnya.
”Siap ..?”
Babah gemuk itu bertanya pada kedua Jepang yang tengah kesedapan itu sambil
mengangkat bambu di tangannya.
”Ayo kita main” ujar seorang Jepang pada Baribeh yang kemudian menggamit si Jul
dan Bungsu untuk ikut memasang taruhan
__ADS_1
”Mulailah ..”
Jepang yang berkepala botak dan bertubuh kurus berkata sambil tetap menghisap
candunya. Si Bungsu melihat Babah gemuk itu mengambil tiga buah dadu dari
piring yang tertelentang di tikar. Kemudian memasukkan kedalam bambu yang
panjangnya lebih dari sejengkal itu.
Si Bungsu memperhatikan jari – jari tangan Babah. Aneh, Cina itu bertubuh gemuk
dengan perut buncit. Namun jari – jari tangannya tidak selaras dengan tubuhnya
yang subur itu.
Biasanya orang – orang gemuk jari jemarinya pastilah bulat – bulat gemuk pula.
Tapi jari-jari Babah ini kelihatan langsing dan panjang – panjang. Berbeda dengan
Cina – Cina tua lainnya, yang biasanya membiarkan kukunya tak terawat, kuku
Babah ini kelihatan dipepat bersih.
Kini dia tengah mengguncang bambu yang berisi dadu itu. Terdengar bunyi dadu
saling berputar dan beradu dalam bambu tersebut. Empat kali putaran cepat, tiba
– tiba bambu itu ditelungkupkannya di atas piring. Dalam waktu yang sangat
singkat, terdengar ketiga buah dadu itu jatuh ke piring. Babah itu melepaskan
tangannya dari bambu. Dan bambu itu tertegak di atas piring menutupi ketiga
butir dadu di dalamnya.
Baribeh memasang taruhannya pada angka – angka dua, tiga dan empat. Dia memang
bertaruh begitu. Main tebak dibanyak nomor. Biasanya salah satu pasti kena.
Sementara si Bungsu hanya memasang disatu nomor.
Dan dalam empat kali meletakkan taruhan tadi, dia tetap bertahan memasang
disatu nomor saja. Kinipun dia bermaksud begitu, mengambil uang dari
kantongnya.
__ADS_1
Kemudian meletakkan di angka satu. Si Juling memasang dinomor empat, yaitu
diangka pasangan Baribeh. Babah gemuk itu mengangkat bambu yang menutupi dadu.