TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 114


__ADS_3

Tikam Samurai - 114


“Lapan buah?” si Bungsu kini balik bertanya dengan heran.


“Ya, delapan buah. Masa tak tahu..”.


“Saya hanya merasa ada enam buah..”


“Ya, saya lihat hanya enam kali tebas. Tapi dengan enam kali tebas itu


kedelapannya kena. Barangkali ada yang sekali tebas dua buah…” Salma berkata


perlahan. Matanya menatap ketempat si Bungsu sejak tadi. Dan disana, terdapat


belahan-belahan putik jambu. Berserakan memenuhi halaman belakang rumah itu.


“sudah merasa lega kini?” tanya Salma. Si Bungsu menatap dalam-dalam kemata


gadis itu. Aneh, ada suatu perasaan yang membuat hatinya jadi buncah dan tak


tenteram. Perasaan yang membuat hatinya berdebar.


“Terimakasih Salma. Engkau telah bersusah payah. Merawat diriku, membantu


mengembalikan kepercayaan pada diriku. Membantu melatihku…. Terimakasih, aku


takkan melupakan budimu…” katanya perlahan. Salma tersenyum, mukanya bersemu


merah.


“Hari sudah sore. Tidak lapar?” tanyanya pda si Bungsu. Si Bungsu sudah akan


mengangguk, ketika gelang-gelangnya berbunyi. Dia tersenyum malu, Salma juga


tersenyum. Dan sore itu dia makan dengan lahap. Makannya bertambuh-tambuh.


Hubungan antara keduanya berjalan makin akrab. Salma tak banyak bicara, namun


tatapan matanya yang gemerlap lebih banyak berucap. Dan suatu hari, dia


menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin dia tanyakan pada si Bungsu. Sesuatu


yang membuat hatunya sebagai gadis yang pertama kalin jatuh cinta jadi luluh.

__ADS_1


Yaitu tentang perempuan lain, yang namanya selalu disebut si Bungsu dalam


igauannya ketika sakit dulu.


“abang berkali-kali memanggil namanya…Mei-Mei!…tentulah dia seorang gadis yang


cantik…” kata Salma hari itu, sambil tangannya meneruskan sulamannya.


Si Bungsu tak segera menjawab. Salma menanti dengan berdebar. Sebagai


perempuan, dia tak mau ada perempuan lain dalam lelaki yang dia cintai. Tapi


sebaliknya, dia tak pula mau merebut lelaki yang telah jadi milik orang lain.


“Ya… dia seorang yang cantik dan amat berbudi..” akhirnya si Bungsu menjawab


pelan. Salma merasa jantungnya ditikam. Penjahit ditangnnya terguncang, ibu


jarinya tertusuk. Sakitnya bukan main, namun lebih sakit lagi jantungnya.


“Dia ada dikota ini…?’ tanyanya dengan suara nyaris gemetar.


“Ada…” jawab si Bungsu pelan.


Tapi dia kuatkan hatinya.’


“kenapa tak uda bawa dia jalan-jalan kemari…” tambahanya. Dan dia jadi heran,


kenapa mulutnya bisa bicara begitu. Padahal hatinya menjerit luka.


“Dia tak mungkin datang kemari. Tapi saya ingin ketempatnya sore ini, kalau


engkau mau aku ingin membawamu kesana. Kau mau bukan…?”


Dan Salma mengangguk. Meskipun setelah itu dia ingin memotong kepalanya yang


sudi saja mengangguk. Padahal dia ingin menggeleng dengan keras agak sepuluh


atau dua puluh kali.


Dan soere itu, mereka memang pergi ke sana. Ke “tempat” perempuan bernama


Mei-Mei itu.  Salam jadi heran ketika si Bungsu membawanya ke sebuah

__ADS_1


pemakaman kaum di Tarok. Pekuburan itu terletak dalam paluhan hutan bambu.


Dan… disebuah pusara, si Bungsu berhenti. Salma tegak disisinya.


“Mengapa kita kemari….?” Tanyanya pelan sambil menutupi kepalanya dengan


kerudung.


“Engkau ingin mengenal Mei-mei bukan? Disinilah dia. Dalam pusara ini. Dia


meninggal setelah diperkosa bergantian oleh selusin tentara Jepang…”


Salma merasa tubuhnya menggigil. Dia berpegang ke tangan si Bungsu. Dan si


Bungsu menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Mei-mei. Bagaimana penderitaan


gadis itu semasa hidupnya. Dan dengan jujur juga menceritakan bahwa mereka


telah berniat menikah, namun maut lebih duluan menjangkaukan tangannya.


Salma menangis terisak-isak. Si Bungsu menunjukan pula tiga pusara lainnya.


Masing-masing pusara Datuk Penghulu, kusir bendi yang ternyata intel Republik


itu. Kemudian pusara isteri Datuk itu dan pusara si Upik, anak gadisnya yang


meninggal malam itu ditangan kebiadaban tentara Jepang.


Lama mereka terdiam. Kemudian Salma membersihkan ke empat pusara itu bersama si


Bungsu. Gadis itu mencari sepohin bunga kemboja. Mematahkan dahannya yang


berbunga lebat, menancapkannya dipusara Mei-mei.


“Terimakasih Salma. Kau baik sekali…” kata si Bungsu.


Salma menghapus air matanya. Si Bungsu memeluknya dalam tiupna angin sore yang


semilir. Tak ada ucapan yang keluar.Namun Salma merasakan pelukan itu alangkah


membahagiakan. Kukuh dan tenteram. Dia ingin berada disana, dalam pelukan yang


membuat hatinya berbunga itu untuk selama hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2