
Tikam Samurai - 46
Tapi entah kenapa tiba-tiba dia jadi ragu. Karenanya dia
memberi isyarat dengan mata pada si Baribeh. Baribeh mengerti isyarat itu.
Lelaki itu lalu bicara untuk mengalihkan perhatian si Bungsu.
”Bungsu, jangan berbuat kekacauan di sini. Engkau tak akan bisa lolos lihatlah,
rumah ini telah dikepung ..”
Dan waktu itulah pistol Ichi keluar dari sarungnya. Pistol itu sudah akan dia
angkat. Malang dia tak mengetahui bahwa anak muda ini tidak sama dengan
kebanyakan anak muda Melayu lainnya. Anak muda yang satu ini telah melatih
indranya di gunung selama dua tahun lebih. Dia telah lolos dari kehidupan liar
yang membutuhkan perjuangan keras untuk bisa tetap bertahan. Dia mampu bertahan
hidup di tengah ganasnya belantara yang amat liar. Hidup di tengah hukum rimba.
Dimana hanya yang kuat yang berhak untuk hidup. Yang lemah harus mau menjadi
tumbal untuk kelangsungan hidupnya yang kuat.
Dalam kehidupan di rimba belantara itu, kekuatan saja tidak menjadi jaminan
untuk bisa memperpanjang nyawa. Kuat tanpa kecerdikan bisa konyol. Kuat dan
cerdik saja juga belum tentu bisa selamat. Kewaspadaan dan ketajaman firasat
serta pendengaran sangat dibutuhkan. Bagaimana caranya mengetahui seekor ular
yang bergerak tanpa suara itu akan menyerang kita?
Bagaimana caranya mengetahui seekor harimau yang akan menerkam mangsanya, yang
bergerak seringan kapas tanpa dilihat dan tanpa terdengar oleh mangsa yang akan
diterkam. Makhluk di rimba raya memerlukan ketajaman firasat dan pendengarannya
untuk bisa bertahan hidup. Inilah yang terpenting, bukan hanya kekuatan semata.
Burung, tupai atau kancil, adalah makhluk yang lemah tanpa daya. Namun mereka
__ADS_1
bisa hidup berkembang dan tak punah dalam belantara yang dipenuhi kebuasan itu
berkat pendengaran dan firasat mereka yang tajam. Itu pulalah yang dipelajari
si Bungsu selama mengasingkan diri selama dua tahun di gunung Sago. Dia
bertekad untuk tetap hidup sekurang-kurangnya sampai dendam keluarganya
terbalaskan. Kalau burung atau kancil saja bisa hidup, kenapa dia sebagai
manusia yang berakal tidak? Kalau mereka mempunyai ketajaman pendengaran,
kenapa dia tak bisa menirunya? Maka hiduplah dia di rimba itu sambil menimba
banyak sekali kearifan hidup dari hewan yang purbani.
Ternyata dia keluar sebagai pemenang. Tetap hidup sampai saat ini. Itu pula
yang terjadi di rumah babah gendut itu. Disaat Ichi menarik pistolnya, telinga
si Bungsu yang mampu mendengar daun jatuh sekalipun saat di gunung sana, juga
mendengar benda keras yang dicabut dari sarangnya. Firasatnya segera bekerja.
Benda itu kalau tidak pisau pastilah pistol. Dalam waktu yang singkat sekali,
bergulung keatas. Saat itu pistol meledak. Namun pelurunya menerpa tempat
kosong. Dengan dua kali bergulingan amat cepat, si Bungsu melewati perempuan
yang tegak di depan Ichi.
Perwira itu terkejut melihat anak muda itu tiba-tiba saja sudah berada di
depannya. Pistol dia arahkan padanya. Namun samurai si Bungsu berkelebat. Tak
ada pekikan. Perwira Jepang itu rubuh dengan bahu di dekat pangkal lehernya
belah dua sampai ke dada. Bukan main. Benar-benar satu gerakan yang terlalu
cepat untuk diikuti mata.
Seorang serdadu yang tegak di sisi Ichi justru ternganga menatap tubuh
perwiranya yang jatuh tergolek dengan tubuh hampir terbelah dua. Tapi nasibnya
juga sial. Tengkuknya disambar samurai si Bungsu. Kepalanya mengelinding ke
__ADS_1
bawah sebelum tubuhnya mencapai lantai. Mati.
Perempuan-perempuan pada terpekik. Si Bungsu tegak menghadap pada Babah gemuk
itu. Si Babah terkejut melihat kecepatannya. Sementara si Baribeh dan si Juling
tegak merapat kedinding belakang si Babah.Muka mereka pucat ketakutan. Tak
pernah mereka bayangkan sedikitpun, bahwa anak muda yang pernah mereka lanyau
di Surau ketika mereka kalah judi dahulu akan menjadi begini hebatnya.
”Hmm, lu jangan banyak lagag di depan we. Lu we bikin ayam potong”. Ujar Si
Babah sambil menyeringai buruk. Si bungsu memandangnya tak berkedip. Matanya
yang biasa bersinar lembut kini membersitkan api amarah yang dahsyat.
Samurainya membelintang di depan dada. Dia tegak dengan sikap gagah. Kemudian
terdengar suarasuaranya bergema, dingin dan datar.
”Gendut, engkau telah hidup di negeriku ini sebelum aku dilahirkan. Bahkan
mungkin kalian hidup sejak dari moyang kalian di sini. Di sini kalian hidup dan
mencari nafkah. Pernah kalian diganggu anak negeri ini? Pernah kalian dihalangi
untuk mencari nafkah? Tak pernah, kan? Bahkan kami menganggap kalian sebagian
dari masyarakat kami. Kita sama-sama berhak hidup dan mencari kehidupan di
negeri ini. Tapi apa kini yang kau perbuat untuk membalas kebaikan anak negeri
ini? Yang telah berbaik hati menerima kalian hidup beberapa keturunan dengan
damai di negeri ini?”
Dia berhenti sebentar, lalu:
”Ternyata kau khianati negeri ini pada Jepang. Engkau menjadi musuh dalam
selimut bagi anak negeri yang telah puluhan tahun hidup bersamamu. Benar-benar
sikap jahanam yang laknat. Demi uang engkau sudi berbuat apa saja. Tapi demi
Tuhan, engkau harus mati malam ini. Harus, Gendut!”
__ADS_1