TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 46


__ADS_3

Tikam Samurai - 46


Tapi entah kenapa tiba-tiba dia jadi ragu. Karenanya dia


memberi isyarat dengan mata pada si Baribeh. Baribeh mengerti isyarat itu.


Lelaki itu lalu bicara untuk mengalihkan perhatian si Bungsu.


”Bungsu, jangan berbuat kekacauan di sini. Engkau tak akan bisa lolos lihatlah,


rumah ini telah dikepung ..”


Dan waktu itulah pistol Ichi keluar dari sarungnya. Pistol itu sudah akan dia


angkat. Malang dia tak mengetahui bahwa anak muda ini tidak sama dengan


kebanyakan anak muda Melayu lainnya. Anak muda yang satu ini telah melatih


indranya di gunung selama dua tahun lebih. Dia telah lolos dari kehidupan liar


yang membutuhkan perjuangan keras untuk bisa tetap bertahan. Dia mampu bertahan


hidup di tengah ganasnya belantara yang amat liar. Hidup di tengah hukum rimba.


Dimana hanya yang kuat yang berhak untuk hidup. Yang lemah harus mau menjadi


tumbal untuk kelangsungan hidupnya yang kuat.


Dalam kehidupan di rimba belantara itu, kekuatan saja tidak menjadi jaminan


untuk bisa memperpanjang nyawa. Kuat tanpa kecerdikan bisa konyol. Kuat dan


cerdik saja juga belum tentu bisa selamat. Kewaspadaan dan ketajaman firasat


serta pendengaran sangat dibutuhkan. Bagaimana caranya mengetahui seekor ular


yang bergerak tanpa suara itu akan menyerang kita?


Bagaimana caranya mengetahui seekor harimau yang akan menerkam mangsanya, yang


bergerak seringan kapas tanpa dilihat dan tanpa terdengar oleh mangsa yang akan


diterkam. Makhluk di rimba raya memerlukan ketajaman firasat dan pendengarannya


untuk bisa bertahan hidup. Inilah yang terpenting, bukan hanya kekuatan semata.


Burung, tupai atau kancil, adalah makhluk yang lemah tanpa daya. Namun mereka

__ADS_1


bisa hidup berkembang dan tak punah dalam belantara yang dipenuhi kebuasan itu


berkat pendengaran dan firasat mereka yang tajam. Itu pulalah yang dipelajari


si Bungsu selama mengasingkan diri selama dua tahun di gunung Sago. Dia


bertekad  untuk tetap hidup sekurang-kurangnya sampai dendam keluarganya


terbalaskan. Kalau burung atau kancil saja bisa hidup, kenapa dia sebagai


manusia yang berakal tidak? Kalau mereka mempunyai ketajaman pendengaran,


kenapa dia tak bisa menirunya? Maka hiduplah dia di rimba itu sambil menimba


banyak sekali kearifan hidup dari hewan yang purbani.


Ternyata dia keluar sebagai pemenang. Tetap hidup sampai saat ini. Itu pula


yang terjadi di rumah babah gendut itu. Disaat Ichi menarik pistolnya, telinga


si Bungsu yang mampu mendengar daun jatuh sekalipun saat di gunung sana, juga


mendengar benda keras yang dicabut dari sarangnya. Firasatnya segera bekerja.


Benda itu kalau tidak pisau pastilah pistol. Dalam waktu yang singkat sekali,


bergulung keatas. Saat itu pistol meledak. Namun pelurunya menerpa tempat


kosong. Dengan dua kali bergulingan amat cepat, si Bungsu melewati perempuan


yang tegak di depan Ichi.


Perwira itu terkejut melihat anak muda itu tiba-tiba saja sudah berada di


depannya. Pistol dia arahkan padanya. Namun samurai si Bungsu berkelebat. Tak


ada pekikan. Perwira Jepang itu rubuh dengan bahu di dekat pangkal lehernya


belah dua sampai ke dada. Bukan main. Benar-benar satu gerakan yang terlalu


cepat untuk diikuti mata.


Seorang serdadu yang tegak di sisi Ichi justru ternganga menatap tubuh


perwiranya yang jatuh tergolek dengan tubuh hampir terbelah dua. Tapi nasibnya


juga sial. Tengkuknya disambar samurai si Bungsu. Kepalanya mengelinding ke

__ADS_1


bawah sebelum tubuhnya mencapai lantai. Mati.


Perempuan-perempuan pada terpekik. Si Bungsu tegak menghadap pada Babah gemuk


itu. Si Babah terkejut melihat kecepatannya. Sementara si Baribeh dan si Juling


tegak merapat kedinding belakang si Babah.Muka mereka pucat ketakutan. Tak


pernah mereka bayangkan sedikitpun, bahwa anak muda yang pernah mereka lanyau


di Surau ketika mereka kalah judi dahulu akan menjadi begini hebatnya.


”Hmm, lu jangan banyak lagag di depan we. Lu we bikin ayam potong”. Ujar Si


Babah sambil menyeringai buruk. Si bungsu memandangnya tak berkedip. Matanya


yang biasa bersinar lembut kini membersitkan api amarah yang dahsyat.


Samurainya membelintang di depan dada. Dia tegak dengan sikap gagah. Kemudian


terdengar suarasuaranya bergema, dingin dan datar.


”Gendut, engkau telah hidup di negeriku ini sebelum aku dilahirkan. Bahkan


mungkin kalian hidup sejak dari moyang kalian di sini. Di sini kalian hidup dan


mencari nafkah. Pernah kalian diganggu anak negeri ini? Pernah kalian dihalangi


untuk mencari nafkah? Tak pernah, kan? Bahkan kami menganggap kalian sebagian


dari masyarakat kami. Kita sama-sama berhak hidup dan mencari kehidupan di


negeri ini. Tapi apa kini yang kau perbuat untuk membalas kebaikan anak negeri


ini? Yang telah berbaik hati menerima kalian hidup beberapa keturunan dengan


damai di negeri ini?”


Dia berhenti sebentar, lalu:


”Ternyata kau khianati negeri ini pada Jepang. Engkau menjadi musuh dalam


selimut bagi anak negeri yang telah puluhan tahun hidup bersamamu. Benar-benar


sikap jahanam yang laknat. Demi uang engkau sudi berbuat apa saja. Tapi demi


Tuhan, engkau harus mati malam ini. Harus, Gendut!”

__ADS_1


__ADS_2