
Tikam Samurai - 70
Tiba tiba etek Ani mendengar suara halus. Dia mengangkat
kepala. Suara itu seperti dari luar.
“Upik … , Etek …”
Suara itu terdengar lagi. Seperti suara Mei-mei. Istri Datuk itu tegak. Dia
seperti mendengar suara itu dari luar. Kenapa dari luar ?
“Etek .. tolong saya. Saya di luar ..” Ujar suara itu periahan, seperti orang
kehabisan tenaga. Si Upik mendengar pula suara itu. ibunya mengambil lampu
dinding. Kemudian perlahan membuka pintu Melangkah kesamping pintu. Mereka
tertegak kaku melihat tiga tubuh Kempetai yang telah jadi mayat. Lalu mereka
melihat tubuh Mei-mei tersandar di dinding rumah. Dari bahu kirinya darah mengalir.
Kepala gadis itu terkulai. Dan matanya menatap sayu.
“Mei-mei…”
“Etek …” himbau gadis itu lirih.
Upik menangis memeluk uninya itu. Istri Datuk berusaha menolong Mei-mei untuk
bangkit dan memapahnya ke dalam. Tapi gadis itu menolak.
“Mayat mayat ini harus disembunyikan etek. Komandan mereka yang menugaskan
mencari pak Datuk kemari pasti akan curiga kalau mereka tak kembali pada
waktunya. Mereka akan mengirimkan pasukan lagi kemari. Bukankah di belakang
rumah ada lobang besar tempat membakar sampah ? Seretlah mayat ini kesana.
Nampaknya etek terpaksa bekerja dengan upik. Saya tak dapat membantu. Bahu saya
tertembak. Di dalam kamar masih ada dua mayat lagi. Seretlah etek… kemudian
timbun dengan apa saja. Asal mayat mereka tak kelihatan”
__ADS_1
Istri Datuk itu memang tak melihat jalan lain yang lebih baik selain mengikuti
petunjuk Mei-mei. Dengan mengerahkan semua tenaganya, dengan bantuan si Upik,
dia menyeret kelima mayat Kempetai itu ke lobang pembakaran sampah di belakang
rumah. Mei-mei hanya mampu melihat dari tempatnya bersandar. cukup lama
pekerjaan itu mereka lakukan. Setelah selesai istri Datuk itu berniat membawa
Mei-mei masuk. Namun Mei-mei menggeleng.
“Tidak etek. Berbahaya kalau saya masuk kerumah.
Kalau Kempetai datang dan ternyata teman temannya tak ada, mereka akan memaksa
kita. Barangkali mereka juga berniat memperkosa saya. Dan mereka akan melihat
dan mengetahui luka saya ini adalah luka bekas tembakan. Mereka akan curiga.
Kematian kelima teman mereka akan segera mereka ketahui. Sembunyikan saja saya
ke tempat lain. Bawa saya kepondok kecil di tengah rumpun bambu di samping
sana. Biarlah saya di sana menjelang koko pulang …”
“Tidak Upik. Upik harus tetap bersama etek di rumah. Tolong ambilkan obat di
kamar uni. obat ramuan yang dulu diberikan koko kepada kita. Ingat ?”
Upik mengangguk. Kemudian cepat masuk. Mengambil obat, kain dan beberapa potong
kue yang mereka beli siang tadi. Kemudian sebuah bantal dan tikar. Dengan suluh
mereka segera menuju kepondok kecil di tengah hutan bambu itu. Pondok itu
dibuat oleh si Bungsu untuk istirahat jika selesai latihan. Sesampai d i pondok
Mei-mei minta tolong menaburkan obat ramuan itu di lukanya.
Peluru bedil Kempetai itu ternyata menembus bahunya dari depan tembus ke
belakang. Luka di belakang tiga kali selebar luka yang di depan. Gadis itu
sudah sangat pucat karena darah banyak keluar. Setelah ramuan obat yang dibawa
__ADS_1
si Bungsu dari gunung Sago itu ditebarkan dilukanya, dia kelihatan sedikit
tenang.
“Pulanglah etek, Upik. Kalau koko datang, katakan aku di sini …”
“Tidak. Upik tidak pulang. Upik di sini mengawani uni …”
Si Upik tak tahan untuk tak menangis melihat penderitaan Mei-mei. Mei-mei jadi
terharu. Dia belai kepala adiknya itu.
“Tidak Upik. Upik harus menemani amak di rumah.
Bagaimana kalau Jepang datang, dan dia menganggu amak …?”
“Amak juga di sini. Amak jangan pulang. Kita di sini saja bersama uni ya mak?”
si Upik membujuk ibunya diantara tangisnya.
“Tidak Upik. Kalau Upik dan amak di sini, Jepang pasti curiga. Mereka akan
membakar rumah dan mencari kita sampai dapat. upik dan amak harus di rumah.
Menjawab pertanyaan Jepang yang datang.
Mei-mei berusaha meyakinkan gadis kecil itu. Akhirnya Upik pulang juga bersama
ibunya. Mei-mei tinggal sendiri. Dia tak berani menghidupkan lampu togok yang
ada di pondok itu. Tidak juga menghidupkan api unggun untuk menghalau nyamuk.
Dia khawatir kalau api yang dia pasang akan kelihatan oleh Jepang. Gadis ini
memang mempunyai firasat yang tajam. Sebab tak lama setelah Upik dan ibunya
sampai di rumah, sepasukan tentara Jepang sampai pula di sana.
Sementara itu, di sebuah kedai kopi di pasar atas, si Bungsu telah menantikan
kedatangan seorang lelaki. Bendinya tegak tak jauh dari kedai kopi. Kegiatan
Jepang nampaknya makin sibuk menjelang awal Agustus itu. Perang melawan Sekutu
di Samudra Pasifik mengirimkan berita tak menyenangkan Jepang ke seluruh tanah
__ADS_1
jajahannya. Tiba tiba si Bungsu melihat lelaki yang dia nanti itu muncul dari
arah Jam Gadang.