
Saat itu Datuk Berbangsa tengah melihat betapa tangan kanan
Jepang itu mulai bergetar dan secara perlahan pula, hampir-hampir tak
kelihatan, bergerak mili demi mili mendekati gagang samurainya. Ini adalah
gerakan pendahuluan. Tiba-tiba tangan itu bergerak cepat. Dan saat itu pula
Datuk Berbangsa melompat ke kiri kemudian berguling di tanah dan tumitnya
menghantam siku kanan Jepang itu. Sungguh sulit untuk diceritakan. Kejadiannya
demikian cepat. Demikian fantastis. Hampir-hampir tak bisa dipercaya. Gerakan
Samurai yang terkenal cepat itu terhenti tatkala samurainya baru keluar
separoh.
Siku si tinggi besar itu kena dihantam tumit Datuk Berbangsa. Terdengar suara
berderak. Jepang itu terpekik. Sikunya patah! Dia mencabut samurainya dengan
tangan kiri. Tapi gerakan ini juga terlambat. Guru Silat Kumango itu telah
mengirimkan sebuah tendangan lagi ke selangkangnya. Tubuh Jepang itu terangkat
sejengkal, kemudian tertegak lagi di tanah. Mula-mula hanya agak hoyong. Masih
berusaha untuk tetap tegak. Tapi Datuk Berbangsa telah tegak dan mengirimkan
sebuah pukulan dengan sisi tangan kanannya ke leher Jepang itu.
Itu adalah sebuah serangan yang disebut ”Tatak Pungguang Ladiang” dari jurus
Kumango yang terkenal ampuh. Tetakan dengan sisi tangan itu mendarat di leher
Jepang tersebut. Begitu suara berderak terdengar, begitu nyawa Jepang itu
berangkat ke lahat. Tubuhnya rubuh ke tanah tanpa nyawa! Hanya dalam sekali
gebrak, serdadu Jepang itu mati! Beberapa saat suasana jadi sepi. Benar-benar
sepi.
Keenam serdadu yang membuat lingkaran besar itu ternganga. Kapten Saburo
sendiri hampir-hampir tak mempercayai matanya. Lelaki pribumi ini telah
__ADS_1
membunuh seorang samurai dari Jepang hanya dengan tangan kosong. Mungkinkah
ini? Apakah ini tidak semacam sihir? Tapi ini memang kejadian. Dia tak melihat
lelaki itu mempergunakan sihir sedikitpun. Serangan itu benar-benar sebuah
serangan silat yang telak dan tangguh dari silat aliran Kumango!
Kini Datuk Berbangsa tegak dengan kaki dipentang. Tegak dengan gagah menatap
kepada Kapten Saburo. Kapten itu memberi aba-aba dalam bahasa Jepang. Dua orang
serdadu maju ke depan. Kedua mereka juga menyisipkan samurai di pinggang.
Mereka kembali saling memberi hormat. Ini adalah perkelahian kaum satria. Salah
satu dari Jepang yang maju ini bertubuh pendek dan kurus. Gerakannya gesit
sekali. Yang satu lagi agak tinggi dengan tubuh sedang. Begitu habis memberi
hormat, begitu dengan cepat sekali mereka menghunus samurai dan menyerang!
Datuk itu berbarengan diserang dari muka dan belakang. Saburo dengan
jelas sekali melihat kedua prajuritnya masing-masing mengirim serangan tiga
jurus. Berarti Datuk itu diserang enam jurus dalam gebrakan pertama saja. Enam
dengan diam sambil memegang samurainya, Datuk itu juga tegak tiga depa dari
mereka dengan diam dan tak kurang satu apapun! Luar biasa!!. Tanpa dapat
ditahan, dan diluar sadar, beberapa serdadu Jepang yang menyaksikan pada
bertepuk tangan.
Saburo harus mengakui, bahwa Datuk itu memang patut mendapat tepuk tangan dari
serdadu. Tatkala kedua serdadu itu tadi menyerang, Datuk Berbangsa segera bergulingan
ke tanah. Dua kali bergulingan dia berhasil menghindarkan dua bacokan. Kemudian
seperti kucing dia melompat bangun dengan gerakan seenteng kapas. Lompatannya
tinggi dengan kaki dilipat. Dengan gerakan yang diperhitungkan ini, empat
bacokan berhasil pula dia elakkan. Gerakan selanjutnya dia melompat dan
__ADS_1
menunduk sambil memutar. Gebrakan pertama berakhir.
Kini mereka saling menatap. Yang bertubuh agak sedang lambat-lambat mengingsut
tegaknya. Telapak kakinya beringsut di pasir mili demi mili. Kedua tangannya
dengan kukuh memegang hulu samurai. Kini jarak mereka hanya tinggal sedepa.
Datuk Berbangsa memiringkan tubuh dengan jari kanan lurus di depan dada dan
sudut mata memandang pada mata Jepang itu. Mereka tegak bertatapan. Tiba-tiba
dengan sebuah pekik Bushido, sejenis pekik khas para pesilat Samurai, serdadu
itu membuka serangan.
Namun ternyata Datuk Berbangsa lebih cepat lagi. Dia ternyata cepat menangkap
jurus-jurus Samurai. Setiap samurai pasti mengawali gerakannya dengan membawa
samurai itu agak ke kanan atau ke kiri sedikit. Gerakan ini diperlukan untuk
memberi kekuatan hayun bagi samurai itu bila dibacokkan.
Hanya saja, makin tinggi kepandaian seorang samurai, makin tak kelihatan gerak
mengambil ancang-ancang itu. Dan makin cepat dan halus pula gerakannya. Jepang
ini gerakannya cukup cepat. Namun tak begitu cepat di mata Datuk yang guru
silat Kumango ini. Sebagaimana jamaknya pesilat-pesilat tangguh, dia tidak
melihat pada gerakan senjata lawan. Dia menatap langsung ke mata serdadu itu.
Di sana pesilat-pesilat tangguh dapat membaca kemana gerakan tangan dan kaki
setiap lawan. Itulah yang dilakukan oleh Datuk Berbangsa. Begitu tangan Jepang
itu bergerak, dia segera mengetahui bahwa tangan Jepang ini akan bergerak
sedikit ke kanan.
Dan kesempatan yang sedikit itulah yang dinantinya. Sebelum gerakan itu
sempurna, dengan kecepatan loncatan seekor harimau tutul, dia melesat ke arah
Jepang itu. Dan sebelum Jepang itu sadar apa yang terjadi, Datuk Berbangsa
__ADS_1
telah memiting leher Jepang tersebut. Kemudian dengan gerakan yang sempurna dia
meremas kedua tangan si Jepang yang memegang Samurai. Jepang itu terpekik