TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 11


__ADS_3

Saat itu Datuk Berbangsa tengah melihat betapa tangan kanan


Jepang itu mulai bergetar dan secara perlahan pula, hampir-hampir tak


kelihatan, bergerak mili demi mili mendekati gagang samurainya. Ini adalah


gerakan pendahuluan. Tiba-tiba tangan itu bergerak cepat. Dan saat itu pula


Datuk Berbangsa melompat ke kiri kemudian berguling di tanah dan tumitnya


menghantam siku kanan Jepang itu. Sungguh sulit untuk diceritakan. Kejadiannya


demikian cepat. Demikian fantastis. Hampir-hampir tak bisa dipercaya. Gerakan


Samurai yang terkenal cepat itu terhenti tatkala samurainya baru keluar


separoh.


Siku si tinggi besar itu kena dihantam tumit Datuk Berbangsa. Terdengar suara


berderak. Jepang itu terpekik. Sikunya patah! Dia mencabut samurainya dengan


tangan kiri. Tapi gerakan ini juga terlambat. Guru Silat Kumango itu telah


mengirimkan sebuah tendangan lagi ke selangkangnya. Tubuh Jepang itu terangkat


sejengkal, kemudian tertegak lagi di tanah. Mula-mula hanya agak hoyong. Masih


berusaha untuk tetap tegak. Tapi Datuk Berbangsa telah tegak dan mengirimkan


sebuah pukulan dengan sisi tangan kanannya ke leher Jepang itu.


Itu adalah sebuah serangan yang disebut ”Tatak Pungguang Ladiang” dari jurus


Kumango yang terkenal ampuh. Tetakan dengan sisi tangan itu mendarat di leher


Jepang tersebut. Begitu suara berderak terdengar, begitu nyawa Jepang itu


berangkat ke lahat. Tubuhnya rubuh ke tanah tanpa nyawa! Hanya dalam sekali


gebrak, serdadu Jepang itu mati! Beberapa saat suasana jadi sepi. Benar-benar


sepi.


Keenam serdadu yang membuat lingkaran besar itu ternganga. Kapten Saburo


sendiri hampir-hampir tak mempercayai matanya. Lelaki pribumi ini telah

__ADS_1


membunuh seorang samurai dari Jepang hanya dengan tangan kosong. Mungkinkah


ini? Apakah ini tidak semacam sihir? Tapi ini memang kejadian. Dia tak melihat


lelaki itu mempergunakan sihir sedikitpun. Serangan itu benar-benar sebuah


serangan silat yang telak dan tangguh dari silat aliran Kumango!


Kini Datuk Berbangsa tegak dengan kaki dipentang. Tegak dengan gagah menatap


kepada Kapten Saburo. Kapten itu memberi aba-aba dalam bahasa Jepang. Dua orang


serdadu maju ke depan. Kedua mereka juga menyisipkan samurai di pinggang.


Mereka kembali saling memberi hormat. Ini adalah perkelahian kaum satria. Salah


satu dari Jepang yang maju ini bertubuh pendek dan kurus. Gerakannya gesit


sekali. Yang satu lagi agak tinggi dengan tubuh sedang. Begitu habis memberi


hormat, begitu dengan cepat sekali mereka menghunus samurai dan menyerang!


 Datuk itu berbarengan diserang dari muka dan belakang. Saburo dengan


jelas sekali melihat kedua prajuritnya masing-masing mengirim serangan tiga


jurus. Berarti Datuk itu diserang enam jurus dalam gebrakan pertama saja. Enam


dengan diam sambil memegang samurainya, Datuk itu juga tegak tiga depa dari


mereka dengan diam dan tak kurang satu apapun! Luar biasa!!. Tanpa dapat


ditahan, dan diluar sadar, beberapa serdadu Jepang yang menyaksikan pada


bertepuk tangan.


Saburo harus mengakui, bahwa Datuk itu memang patut mendapat tepuk tangan dari


serdadu. Tatkala kedua serdadu itu tadi menyerang, Datuk Berbangsa segera bergulingan


ke tanah. Dua kali bergulingan dia berhasil menghindarkan dua bacokan. Kemudian


seperti kucing dia melompat bangun dengan gerakan seenteng kapas. Lompatannya


tinggi dengan kaki dilipat. Dengan gerakan yang diperhitungkan ini, empat


bacokan berhasil pula dia elakkan. Gerakan selanjutnya dia melompat dan

__ADS_1


menunduk sambil memutar. Gebrakan pertama berakhir.


Kini mereka saling menatap. Yang bertubuh agak sedang lambat-lambat mengingsut


tegaknya. Telapak kakinya beringsut di pasir mili demi mili. Kedua tangannya


dengan kukuh memegang hulu samurai. Kini jarak mereka hanya tinggal sedepa.


Datuk Berbangsa memiringkan tubuh dengan jari kanan lurus di depan dada dan


sudut mata memandang pada mata Jepang itu. Mereka tegak bertatapan. Tiba-tiba


dengan sebuah pekik Bushido, sejenis pekik khas para pesilat Samurai, serdadu


itu membuka serangan.


Namun ternyata Datuk Berbangsa lebih cepat lagi. Dia ternyata cepat menangkap


jurus-jurus Samurai. Setiap samurai pasti mengawali gerakannya dengan membawa


samurai itu agak ke kanan atau ke kiri sedikit. Gerakan ini diperlukan untuk


memberi kekuatan hayun bagi samurai itu bila dibacokkan.


Hanya saja, makin tinggi kepandaian seorang samurai, makin tak kelihatan gerak


mengambil ancang-ancang itu. Dan makin cepat dan halus pula gerakannya. Jepang


ini gerakannya cukup cepat. Namun tak begitu cepat di mata Datuk yang guru


silat Kumango ini. Sebagaimana jamaknya pesilat-pesilat tangguh, dia tidak


melihat pada gerakan senjata lawan. Dia menatap langsung ke mata serdadu itu.


Di sana pesilat-pesilat tangguh dapat membaca kemana gerakan tangan dan kaki


setiap lawan. Itulah yang dilakukan oleh Datuk Berbangsa. Begitu tangan Jepang


itu bergerak, dia segera mengetahui bahwa tangan Jepang ini akan bergerak


sedikit ke kanan.


Dan kesempatan yang sedikit itulah yang dinantinya. Sebelum gerakan itu


sempurna, dengan kecepatan loncatan seekor harimau tutul, dia melesat ke arah


Jepang itu. Dan sebelum Jepang itu sadar apa yang terjadi, Datuk Berbangsa

__ADS_1


telah memiting leher Jepang tersebut. Kemudian dengan gerakan yang sempurna dia


meremas kedua tangan si Jepang yang memegang Samurai. Jepang itu terpekik


__ADS_2