TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 72


__ADS_3

Tikam Samurai - 72


Daripada menyerah dalam tahanan, menyerah dengan menyebutkan


rahasia teman teman, lelaki itu merasa lebih baik mati dalam perlawanan. Dan


dia telah membuktikan hal itu di hadapan mata si Bungsu.


Tanpa dapat ditahan, air mata meleleh di pipi anak muda itu. Dia teringat pada


ayahnya. Pada pejuang pejuang yang telah mengorbankan nyawa mereka demi


mengusir penjajah. Dan dia juga teringat pada si Baribeh dan siJuling yang


sampai hati berkhianat. Dia juga teringat lelaki yang jadi tukang tunjuk tadi.


Dia yakin lelaki itu pastilah orang Minang jug a. Dia melihat hal itu pada gaya


dan pakaiannya. Kedua Kempetai dan lelaki tukang tunjuk itu berhenti tiga depa


di belakangnya. Dia dengar suara bedil dikokang. Lalu sebuah suara serak.


“Hei, kamu pemilik lepau dan yang pakai baju hitam, kemari cepat. Kemari dengan


mengangkat tanganmu tinggi-tinggi . . .”


Pemilik lepau itu menatap dengan tenang pada si Bungsu. Si Bungsu heran melihat


ketenangan lelaki itu. Lambat lambat tangan lelaki itu mendekati meja di


depannya. Dan sekali pandang, si Bungsu melihat keris di atas meja yang


dipenuhi pisang itu. Segera saja si Bungsu dapat menebak, lelaki ini pastilah


salah seorang kurir atau mata mata pihak pejuang Indonesia. Sebab kalau tidak,


takkan mungkin Datuk Penghulu menyuruh dia menanti kurir yang telah mati itu di


lepau ini. Si Bungsu juga segera menyadari bahaya besar kalau sampai pemilik


lepau ini mengambil kerisnya.


Dia berada di bawah bayangan lampu, gerakannya pasti kelihatan oleh Kempetai


yang sudah siap dengan bedil terkokang. Lelaki itu akan mati sebelum dia sempat


berbuat apa apa. Tapi dia tak bisa memberi ingat, lelaki itu sudah menjamah

__ADS_1


kerisnya. Saat itulah si Bungsu melemparkan gelas berisi kopi di tangannya


kebelakang, ke arah Kempetai itu.


Serentak dengan itu tangannya menyambar samurai di pahanya. Tubuhnya d ia


jatuhkan ke belakang. Tiga kali bergulingan cepat, lalu samurainya bekerja.


Kedua Kempetai itu semula menatap dengan bengis melihat gerak tangan lelaki itu


mengambil kerisnya.


Mereka sudah siap menarik pelatuk bedil begitu keris diangkat. Tapi mereka jadi


kaget ketika tiba-tiba sebuah gelas berisi kopi panas melayang ke wajah mereka.


Mereka lalu menghindar sebisanya, namun tetap saja wajah mereka terpercik kopi


panas itu. Mereka tahu siapa melemparkan gelas kopi ini. Pasti orang yang duduk


si sebelah kurir yang telah mati itu. Namun begitu mereka bersiap. begitu si


Bungsu sampai di dekat mereka dengan cara bergulingan di tanah. Dan …


Sret … sret .. snap!!


Kedua Kempetai itu mati di tempat. Bedil di tangan kedua Jepang itu tak pernah


menyalak. Tapi orang orang sudah berkerumun di kejauhan. Pemilik lepau itu


tertegun. Keris di tangannya, belum sempat dia cabut dari sarungnya, kini masih


terpegang di tangannya. Dia masih belum beranjak setapakpun dari tempatnya. Dia


ingin mengadakan perlawanan, tapi musuh yang akan dilawannya itu sudah mati


keduanya. Demikian cepat anak muda itu bertindak.


Lelaki yang tadi jadi tukang tunjuk melihat gelagat tak baik itu segera lari.


Namun pemilik lepau itu melihatnya, demikian pula si Bungsu. Pemilik lepau itu


dengan menggeretakkan gigi menghayunkan tangan. Kerisnya melayang memburu


lelaki yang akan lari itu. Demikian pula si Bungsu. Dia menjadi benci separo


mati pada si Minang yang sampai hati menghianati bangsanya.

__ADS_1


Tangannya bergerak pula. Samurai panjangnya melesat dalam kegelapan malam.


Lelaki itu tiba tiba terhenti larinya. Matanya mendelik, lalu rubuh. Dalam


cahaya listrik yang remang remang, orang melihat sebuah keris menancap hampir


seluruhnya di tengkuk lelaki itu. Sementara sebuah samurai tegak di


punggungnya. Persis di bahagian jantung. Menembus sampai ke dada. Lelaki itu


tertelungkup.


Jam Gadang yang tak jauh dari tempat lelaki itu rubuh berdentang sebelas kali.


orang orang di pasar atas yang telah dewasa saat itu pasti takkan pernah


melupakan peristiwa ini. Pada Kamis malam Jumat diakhir bulan Juli tahun 1945


itu adalah malam malam kematian bagi banyak Serdadu Jepang di Bukittinggi. Kota


dimana Markas Besar Balatentara Jepang se Sumatera berkedudukan.


“Kemari, ikuti saya …” tiba tiba si Bungsu mendengar suara.


Dia lihat lelaki pemilik lepau itu mencabut keris dari tengkuk si lelaki. Dan


berlari arah ke arah Pasar Teleng. Si Bungsu menuruti lelaki tersebut mencabut


samurainya dari tubuh penghianat itu. Kemudian memangku tubuh kurir yang tadi


menyampaikan berita tentang Saburo. Dan dengan cepat dia mengikuti lelaki


pemilik lepau itu. Dari kejauhan mereka mendengar suara peluit dan bentakkan


tentara Jepang. Suara derap sepatu terdengar memburu. Namun saat itu mereka


telah aman. Sebuah toko terbuka ketika lelaki pemilik lepau itu lewat. Lelaki


itu masuk kesana dan si Bungsu ikut.


Pemilik toko itu menutupkan pintu dengan cepat. Mengunci dengan sebuah balok


besar. Tak lama setelah itu derap sepatu berlarian di luar. Derap sepatu


Kempetai. Tentara Jepang itu seperti mencari hantu yang hilang dalam gelap.


Sementara pemilik toko di Pasar Teleng itu membawa mereka keruang bawah

__ADS_1


tokonya.


__ADS_2