
Tikam Samurai - 48
Hampir saja mengenai jantung. Namun dengan menggertakkan
gigi, anak muda ini melompat dan menghujamkan samurainya kebelakang. Dia merasa
samurainya mengenai sesuatu. Kemudian dia menyentak samurai itu kembali. Lalu
berputar. Di luar terdengar Kempetai berteriak dan memukul-mukul pintu. Si
Bungsu membabatkan samurainya. Si Babah gendut yang telah tertusuk dadanya itu,
coba menangkis dengan pisau pendek itu. Namun tangannya putus hingga
pergelangan. Dia terpekik.
”Kubunuh kau mata-mata laknat!!”
Desis si Bungsu sambil sekali lagi membabatkan samurainya. Babah itu mencoba
mundur, tangannya yang pontong itu terangkat seperti akan menangkis. Namun
tangannya itu dimakan samurai. Putus hingga siku, Babah itu untuk kedua kalinya
terpekik.
Perempuan-perempuan sudah sejak tadi lenyap lewat pintu belakang. Babah itu
hoyong. Samurai si Bungsu bekerja lagi. Kaki si Babah putus di batas lutut.
Kini si Babah tergolek. Si Bungsu memenuhi sumpahnya belum lama berselang. Bahwa
dia akan mencencang perut buncit Cina ini atas penghianatannya. Enam kali
samurainya bekerja. Membuat perut Babah Cina itu robek-robek seperti perut
kerbau usai dipesiangi di rumah bantai. Darah bersemburan. Tubuh si Bungsu
sendiri dipenuhi darah.
Darah dirinya dan darah si Babah! Kempetai di luar mulai menembaki pintu. Namun
dengan bedil panjang mereka, pintu kukuh itu tetap tak dapat dijebol. Peluru
bedil mereka hanya mampu menembus sedikit saja papan pintu itu, namun tidak
tembus. Babah gepuk itu memang membuat rumahnya sebagai benteng. Dia amat
__ADS_1
khawatir kalau suatu saat rahasianya sebagai mata-mata Belanda dan mata-mata
Jepang diketahui orang. Karena itu, dia membangun rumahnya sebagai pos yang
sulit untuk ditembus.
Siapa sangka, hari ini dia sendiri yang membawa pembunuhnya masuk. Dan dia
terbunuh di dalam benteng yang dia buat. Sementara orang yang ingin membantunya
terkurung di luar. Dihambat oleh pintu besar yang amat kukuh. Di dalam ruangan
itu masih ada dua orang perwira Jepang teman Ichi yang mula pertama main judi
tadi. Mereka memang datang kesana atas permintaan si Babah. Si Babah melaporkan
bahwa ada mata-mata yang ditangkap. Tapi kini, melihat makan tangan orang yang
disebut mata-mata itu, tubuh mereka jadi lumpuh. Mereka seperti tak berdaya
untuk bergerak.
Ternyata tak semua perwira Jepang berhati baja. Ternyata mereka juga manusia
biasa. Ada yang berhati baja, ada yang berhati seperti kerupuk jangek, amat
rapuh. Mereka sebenarnya punya kesempatan yang banyak untuk balas menyerang.
menembakkannya ketika anak muda itu bertarung melawan si Babah. Namun mereka
seperti disihir. Terdiam tak berkutik. Ada dua hal yang menyebabkan mereka
begitu. Pertama rasa takut melihat sepak terjang anak muda itu. Amat cepat dan
amat mengerikan. Dan yang kedua adalah perasaan takjub mereka. Betapa mereka
takkan takjub, sebagai perwira-perwira, mereka termasuk mahir mempergunakan
samurai.
Namun melihat cara anak muda ini mempergunakan samurai, mereka benar-benar
terpukau. Caranya nampak sangat sembarangan. Tidak menurut aturan sebagaimana
pesilat-pesilat samurai seperti mereka. Meski demikian, meski dengan metode
yang tak benar, gerakan anak muda ini amat terlalu cepat. Ayunan dan tebasan samurainya
__ADS_1
amat kukuh, mantap dan secepat kilat. Mereka yakin, kalaupun mereka disuruh
bertanding melawan anak muda ini, maka bagi mereka takkan ada harapan untuk
menang sedikitpun! Kini, ketika si Bungsu mencencang tubuh si Babah, tanpa
dapat mereka tahan kedua perwira ini terpancar kencingnya. Mereka bukannya
ngeri melihat tubuh si Babah yang cabik-cabik, tapi mereka membayangkan bahwa
setelah ini tubuh merekalah yang akan menerima nasib seperti itu.
Si Bungsu melangkah mendekati mereka. Salah seorang mencabut pistol dengan
tangan menggigil. Samurai si Bungsu bekerja. Keduanya rubuh tanpa dapat melawan
sedikitpun. Rumah itu berkuah darah. Potongan tubuh kelihatan tergeletak di
sana sini. Ini benar-benar sebuah pembataian!
Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain dari pada seperti itu. Dia dihadapkan
pada dua pilihan. Dibunuh atau membunuh. Maka dia memilih yang kedua. Betapapun
jahatnya suatu pembunuhan, namun jauh lebih baik hidup sebagai pembunuh dari
pada mati sebagai orang yang dibunuh. Apa lagi kalau yang dibunuh itu adalah
musuh bangsa! Cukup lama waktu berlalu ketika pintu besar itu berhasil didobrak
oleh Kempetai. Yaitu setelah mendatangkan sebuah truk reok untuk menghantam
pintu itu sampai jebol. Begitu jebol, Kempetai berlompatan masuk. Begitu berada
di dalam, mereka pada berseru kaget. Bulu tengkuk mereka merinding tatkala
melihat sisa penjagalan yang terjadi dalam rumah itu.
Mereka segera memeriksa set iap sudut rumah. Mencari anak muda yang dilaporkan
sebagai mata-mata yang masuk perangkap di rumah ini. Namun si Bungsu lenyap
entah kemana. Mereka memeriksa semua bilik. Termasuk bilik enam perempuan yang
tinggal di rumah itu. Termasuk juga bilik si Amoy semok anak si Babah yang baru
berumur tujuh belas tahun itu. Tapi si Bungsu tak ada. Dan semua perempuan
__ADS_1
itupun benar-benar tak mengetahui kemana anak muda itu pergi. Dia lenyap
seperti hantu dalam cahaya bulan.