TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 62


__ADS_3

Tikam Samurai - 62


“Biarkan dia tidur …” kata kusir itu sambil melangkah ke


luar kamar.


Dia minta istrinya untuk membuat kopi. Mei-mei duduk termenung di tepi


pembaringan dekat tubuh si Bungsu. Anak muda itu tergolek tak sadar diri. Gadis


itu meraba wajahnya. Terasa dingin dan berpeluh. Dia tegak dan berjalan


kepintu.


“Pak. dia berpeluh dan tubuhnya dingin …” katanya pada kusir yang kini tengah


membuka kekang kudanya.


“Biarkan saja. Dia takkan apa apa. Dia memiliki tubuh yang kuat. Sebentar lagi


dia akan sembuh. Nona istirahatlah di dalam …” kata kusir itu.


Suaranya terdengar berat tapi ramah dan bersahabat. Kekawatiran yang sejak tadi


bersarang di hati Mei-mei lenyap ketika mendengar suara kusir itu. Dia lalu


berbalik ke kamar. Duduk di sebuah bangku kecil dekat dinding. Menatap diam


diam pada si Bungsu yang masih saja tak sadar. Tak lama kemudian, terdengar


suara azan dari kejauhan. Kusir itu sembahyang subuh dengan istri dan gadis


kecilnya. Tak selang berapa lama setelah sembahyang subuh itu, Mei-mei


mendengar suara orang datang. Dia mendengar kusir itu berjalan ke luar.


Kemudian sepi. Tapi hanya sebentar. Tak lama antaranya, dia dengar suara tanah


berdentam dan suara seperti orang berkelahi.


Mei-mei tertegak. Takutnya muncul. Siapa orang yang baru datang itu ? Dia tegak


dan berjalan ketempat tidur di mana si Bungsu masih terbaring. Dia ingin


membangunkan anak muda itu. Tapi dia tak sampai hati. Anak muda itu tidak


tidur, melainkan tak sadar karena letih dikeroyok. Kini dia terbaring diam.

__ADS_1


Suara perkelahian di luar masih terdengar. Dengan perlahan Mei-mei berjalan


kejendela. Dia mengintip dari lobang kecil yang terdapat di pinggir jendela. Di


luar sana, dalam cahaya subuh, dia lihat orang tua yang jadi kusir bendi yang


mereka tumpangi tadi, sedang berkelahi dengan seorang anak muda.


Anak muda itu kelihatan amat gesit. Namun kusir itu juga gesit. Tubuh tuanya


yang malam tadi dibungkus dengan kain dan sebuah sebo, kini kelihatan terbuka.


Hanya memakai celana panjang hitam tanpa baju. Tubuhnya kelihatan biasa saja,


namun di balik tubuh yang biasa itu jelas terbaca tenaga yang tangguh.


“Sampai di sini dulu, Kini kau upik ..” kusir itu berkata menunjuk gadis kecil


yang dia temui malam tadi.


Dari lobang kecil itu dia melihat gadis kecil anak kusir itu maju ke tengah


lapangan kecil di belakang rumah itu. Gadis berusia dua belas tahun itu


berpakaian seperti lelaki. Bercelana dan berbaju longgar. Dari caranya bersiap.


Mei-mei segera menarik nafas lega. orang itu ternyata hanya latihan silat. Dia


serangan setelah memberi hormat.


“Jangan memukul ketika menarik nafas ..” kusir itu berkata memberi petunjuk.


Gadis itu menarik lagi pukulannya yang tengah dia lancarkan. Memulai lagi


langkah dari awal. Kemudian beruntun mengirimkan pukulan dan tendangan ke arah


ayahnya. Gerakan gadis itu cukup cepat. Namun dengan mudah kusir itu mengelak


dan memberi petunjuk terus. Tiba tiba lelaki tua itu berhenti, lalu menghadap


kepondoknya.


“Hei, Nona Jangan mengintip di situ. Kalau ingin belajar silat, datang


kemari..” Seru lelaki itu.


Mei-mei cepat cepat menarik kepalanya dari lobang yang tak sampai sebesar jari

__ADS_1


itu. Dia kaget pada ketajaman firasat kusir itu. Dia duduk kembali di


pembaringan dekat si Bungsu yang masih tertidur. Sesekali matanya memandang


juga ke lobang kecil di tepi jendela di mana tadi dia mengintip. Suara kusir


yang menyuruhnya keluar itu seperti memanggil manggilnya. Dia tatap wajah si


Bungsu, hatinya jadi lega. Sebab kini wajah anak muda itu tak lagi meringis


seperti tadi. Kini dia seperti benar benar tidur. Wajahnya tak lagi menahan


sakit.


Nampaknya dia memang tengah tertidur lelap. Mei-mei menarik nafas lega. Di luar


dia dengar lagi orang latihan bersilat. Lambat lambat dia melangkah keluar.


Berjalan ke belakang. Dan tiba di pinggir lapangan berpasir yang luasnya tak


sampai lima depa persegi. Di tengah lapangan Upik anak kusir itu tengah


bersilat dengan lelaki muda yang tadi dia lihat bersilat dengan kusir. Kusir


itu tengah tegak dengan kaki terpentang menatap ke tengah sasaran.


Mei-mei duduk di bangku bambu yang terletak di pinggir sasaran. Tak lama


kemudian kedua orang itu selesai berlatih. Si Upik dengan tersenyum ramah


mendekati Mei-mei. Gadis kecil itu mengulurkan tangan bersalaman. Mei-mei ikut


tersenyum melihat keramahannya dan menyambut uluran tangannya.


“Nama saya Upik. Siapa nama kakak ?” tanyanya dengan suara bersahabat.


Mei-mei terharu, jarang sekali sikap bersahabat begini datang dari orang Melayu


terhadap orang Tionghoa. Biasanya dia merasa diasingkan di tengah orang orang


Melayu. Tapi gadis kecil ini, demikian juga ayahnya yang kusir itu, seperti


telah mengenalnya dengan baik selama bertahun tahun. Sebenarnya jarak usia


kedua gadis itu hanya sekitar lima tahun. Suatujarak yang tak seberapa jauh. Si


Upik benar benar gadis desa yang polos dan manja. Sementara Mei-mei adalah

__ADS_1


gadis muda yang dalam usianya yang belum seberapa itu, telah menapaki kehidupan


manusia dewasa yang alangkah pahitnya dan alangkah hitamnya.


__ADS_2