
Tikam Samurai - 82
“Jepang jahanam. Kubunuh kalian. Demi Allah, saya akan
membunuh kalian sebanyak yang bisa saya lakukan”
Habis berkata dia menyambar samurainya yang terletak di lantai. Kemudian
bergegas turun. Namun Datuk Penghulu mencegahnya.
“Jangan memperlihatkan diri saat ini Buyung. Dijalanan berkeliaran ratusan serdadu
Jepang..”
“Persetan . .saya akan membunuh mereka…”
Dia berbalik untuk turun. Tapi saat itu pula tangan Datuk Penghulu menghantam
tengkuknya. Anak muda itu terkulai, dia berusaha memutar wajah menatap Datuk
Penghulu, sinar matanya memancarkan rasa sakit dan heran, kenapa Datuk itu
sampai berbuat demikian. Kemudian dia jatuh pingsan. Imam yang ada di sana itu
juga menatap heran bercampur terkejut atas sikap Datuk Penghulu.
“Kenapa Datuk pukul dia?”
Datuk Penghulu menarik nafas panjang sebelum menjawab.
“Sudah terlalu banyak saya kehilangan Pak Imam. Malam tadi anak dan istri saya.
Sebentar ini gadis ini pula. Gadis yang telah saya anggap sebagai anak saya
sendiri. Kini, kalau saya biarkan dia mengamuk diluar sana, mungkin dia akan
bisa membunuh sepuluh atau dua puluh Jepang dengan kemahirannya mempergunakan
samurai. Tapi setelah itu, betapapun jua peluru jauh lebih unggul dan lebih
ampuh dari samurai di tangannnya. Bagaimana hebatnya sekalipun, Saya tak mau
kehilangan dirinya. Dia sudah banyak berjasa pada bangsanya. Telah banyak
membunuh Jepang yang merampok dan memperkosa rakyat. Meskipun dia tak menyadari
__ADS_1
jasanya itu, karena dia berbuat itu hanya untuk membela diri dan membalaskan
dendam keluarganya. Tapi Indonesia banyak berhutang padanya. Saya tak mau dia
mati terlalu cepat. Masih banyak hal-hal besar yang bisa dia lakukan daripada
harus mati cepat-cepat dia pelindung orang yang lemah…”
Saat itu Datuk Penghulu naik lagi dia bersama dengan seorang imam yang
ditemuinya surau ketika akan sembahyang Ashar. Mereka mendekat kepada kedua
anak muda itu. Mata Mei-mei terpejam.
“Mei-mei. …. .dengarlah. Ini pak Imam. Kita akan menikah disini. . .”
Si Bungsu berkata perlahan ke telinga gadis itu. Mei-mei tersenyum sebelum
matanya terbuka. Senyumnya senyum lelah. Senyumnya senyum yang amat letih dan
kalah. Dimatanya tergenang manik-manik air yang lambat-lambat meleleh turun.
“Benarkah . . .benarkah Uda mau mengambil saya jadi istri? Setulus hati
menikahi anak cina yang sepanjang hidupnya dilumuri dosa ini? Benarkah uda. . .
“Demi Allah yang kusembah, aku mencintaimu sayang. . . .”
“Uda . .. saya bahagia. . .engkau menjadi suamiku. Aku mengabdikan diriku
menjadi istrimu. . .”
Mata gadis itu terpejam. Si Bungsu menoleh pada Imam dan Datuk Penghulu,
kemudian mengangguk. Imam itu mengingsutkan duduknya.
“Jawab pertanyaan saya ini anak muda. Apakah engkau bersedia menerima Mei-mei
menjadi istrimu, menjaga dan membelanya dalam sakit dan senang. Akan
membahagiakannya dan tidak akan berbuat aniaya padanya. . . .?”
“Saya menerimanya dengan setulus hati saya.” Jawab si Bungsu.
Imam itu menoleh Mei-mei. Kemudian berkata :
__ADS_1
“Apakah engkau bersedia menerima pemuda ini menjadi suamimu dan berjanji akan
mengabdikan dirimu padanya, dalam sakit dan senang dan akan tabah menerima
setiap cobaan?” Gadis itu tak menjawab. Matanya masih terpejam. Si Bungsu
mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
“Jawablah sayang..” Mei-mei tak menjawab.
“Jawablah dengan mengangguk kalau engkau setuju, atau menggeleng kalau engkau
tak setuju..”
Imam itu berkata perlahan. Namun Mei-mei tak menjawab. Tak menggeleng. Tak pula
mengangguk. Datuk Penghulu berdetak hatinya. Dia mengulurkan tangan. Meraba
leher Mei-mei. Meraba nadi tangannya.
“Innalillahi wa Inalillahi rojiun”, desisnya perlahan.
Si Bungsu terpana. Terpaku. Kemudian suaranya seperti berbisik-bisik memanggil
nama Mei-mei.
“Mei-mei….. Mei-mei…”
Tapi gadis itu memang sudah berpulang ke Khaliknya. Seulas senyum masih
membayang di bibirnya. Datuk Penghulu menghapus air mata yang menggenang di
pelupuk matanya. Betapapun jua, dia sangat menyayangi gadis ini. Gadis yang
telah dianggap sebagai anak kandungnya. Yang sepermainan dan sayang menyayangi
dengan si Upik anaknya.
Malam tadi si Upik meninggal. Dia berharap Mei-mei lah tempat dia mencurahkan
saying, pengganti anaknya. Ada sedikit hartanya, dan itu semua akan dia
serahkan pada Mei-mei. Dia akan mengangkat gadis ini sebagai anaknya. Tapi
kini, Tuhan ternyata menentukan lain dari rencana yang dia buat. Air mata
__ADS_1
mengalir di pipinya yang tua. Si Bungsu masih termenung. Menatap wajah gadis
itu. Seperti masih terngiang di telinganya ucapan Mei-mei yang terakhir.