TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 82


__ADS_3

Tikam Samurai - 82


“Jepang jahanam. Kubunuh kalian. Demi Allah, saya akan


membunuh kalian sebanyak yang bisa saya lakukan”


Habis berkata dia menyambar samurainya yang terletak di lantai. Kemudian


bergegas turun. Namun Datuk Penghulu mencegahnya.


“Jangan memperlihatkan diri saat ini Buyung. Dijalanan berkeliaran ratusan serdadu


Jepang..”


“Persetan . .saya akan membunuh mereka…”


Dia berbalik untuk turun. Tapi saat itu pula tangan Datuk Penghulu menghantam


tengkuknya. Anak muda itu terkulai, dia berusaha memutar wajah menatap Datuk


Penghulu, sinar matanya memancarkan rasa sakit dan heran, kenapa Datuk itu


sampai berbuat demikian. Kemudian dia jatuh pingsan. Imam yang ada di sana itu


juga menatap heran bercampur terkejut atas sikap Datuk Penghulu.


“Kenapa Datuk pukul dia?”


Datuk Penghulu menarik nafas panjang sebelum menjawab.


“Sudah terlalu banyak saya kehilangan Pak Imam. Malam tadi anak dan istri saya.


Sebentar ini gadis ini pula. Gadis yang telah saya anggap sebagai anak saya


sendiri. Kini, kalau saya biarkan dia mengamuk diluar sana, mungkin dia akan


bisa membunuh sepuluh atau dua puluh Jepang dengan kemahirannya mempergunakan


samurai. Tapi setelah itu, betapapun jua peluru jauh lebih unggul dan lebih


ampuh dari samurai di tangannnya. Bagaimana hebatnya sekalipun, Saya tak mau


kehilangan dirinya. Dia sudah banyak berjasa pada bangsanya. Telah banyak


membunuh Jepang yang merampok dan memperkosa rakyat. Meskipun dia tak menyadari

__ADS_1


jasanya itu, karena dia berbuat itu hanya untuk membela diri dan membalaskan


dendam keluarganya. Tapi Indonesia banyak berhutang padanya. Saya tak mau dia


mati terlalu cepat. Masih banyak hal-hal besar yang bisa dia lakukan daripada


harus mati cepat-cepat dia pelindung orang yang lemah…”


Saat itu Datuk Penghulu naik lagi dia bersama dengan seorang imam yang


ditemuinya surau ketika akan sembahyang Ashar. Mereka mendekat kepada kedua


anak muda itu. Mata Mei-mei terpejam.


“Mei-mei. …. .dengarlah. Ini pak Imam. Kita akan menikah disini. . .”


Si Bungsu berkata perlahan ke telinga gadis itu. Mei-mei tersenyum sebelum


matanya terbuka. Senyumnya senyum lelah. Senyumnya senyum yang amat letih dan


kalah. Dimatanya tergenang manik-manik air yang lambat-lambat meleleh turun.


“Benarkah . . .benarkah Uda mau mengambil saya jadi istri? Setulus hati


menikahi anak cina yang sepanjang hidupnya dilumuri dosa ini? Benarkah uda. . .


“Demi Allah yang kusembah, aku mencintaimu sayang. . . .”


“Uda . .. saya bahagia. . .engkau menjadi suamiku. Aku mengabdikan diriku


menjadi istrimu. . .”


Mata gadis itu terpejam. Si Bungsu menoleh pada Imam dan Datuk Penghulu,


kemudian mengangguk. Imam itu mengingsutkan duduknya.


“Jawab pertanyaan saya ini anak muda. Apakah engkau bersedia menerima Mei-mei


menjadi istrimu, menjaga dan membelanya dalam sakit dan senang. Akan


membahagiakannya dan tidak akan berbuat aniaya padanya. . . .?”


“Saya menerimanya dengan setulus hati saya.” Jawab si Bungsu.


Imam itu menoleh Mei-mei. Kemudian berkata :

__ADS_1


“Apakah engkau bersedia menerima pemuda ini menjadi suamimu dan berjanji akan


mengabdikan dirimu padanya, dalam sakit dan senang dan akan tabah menerima


setiap cobaan?” Gadis itu tak menjawab. Matanya masih terpejam. Si Bungsu


mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.


“Jawablah sayang..” Mei-mei tak menjawab.


“Jawablah dengan mengangguk kalau engkau setuju, atau menggeleng kalau engkau


tak setuju..”


Imam itu berkata perlahan. Namun Mei-mei tak menjawab. Tak menggeleng. Tak pula


mengangguk. Datuk Penghulu berdetak hatinya. Dia mengulurkan tangan. Meraba


leher Mei-mei. Meraba nadi tangannya.


“Innalillahi wa Inalillahi rojiun”, desisnya perlahan.


Si Bungsu terpana. Terpaku. Kemudian suaranya seperti berbisik-bisik memanggil


nama Mei-mei.


“Mei-mei….. Mei-mei…”


Tapi gadis itu memang sudah berpulang ke Khaliknya. Seulas senyum masih


membayang di bibirnya. Datuk Penghulu menghapus air mata yang menggenang di


pelupuk matanya. Betapapun jua, dia sangat menyayangi gadis ini. Gadis yang


telah dianggap sebagai anak kandungnya. Yang sepermainan dan sayang menyayangi


dengan si Upik anaknya.


Malam tadi si Upik meninggal. Dia berharap Mei-mei lah tempat dia mencurahkan


saying, pengganti anaknya. Ada sedikit hartanya, dan itu semua akan dia


serahkan pada Mei-mei. Dia akan mengangkat gadis ini sebagai anaknya. Tapi


kini, Tuhan ternyata menentukan lain dari rencana yang dia buat. Air mata

__ADS_1


mengalir di pipinya yang tua. Si Bungsu masih termenung. Menatap wajah gadis


itu. Seperti masih terngiang di telinganya ucapan Mei-mei yang terakhir.


__ADS_2