
Tikam Samurai - 50
Eraito menerima surat itu. Apa yang harus dia perbuat? Kedua
perwira itu telah mati beberapa bulan yang lalu di tempat pelacuran di Lundang.
Mati dibabat samurai orang tak dikenal. Akan datangkah dia ke Bukittinggi dengan
terlebih dahulu menggali kuburan kedua perwira itu dan membawa mayatnya yang
sudah busuk? Akhirnya dia membuka bungkusan kedua yang dikirim oleh Kolonel
Fujiyama. Bungkusan itu berwarna kuning. Di dalamnya ada benda panjang dua
jengkal berbungkus bendera Jepang bergambar matahari. Dia buka bungkusan
bendera itu. Benda sepanjang dua jengkal itu persis seperti yang dia duga,
samurai pendek! Dia mengangguk pada tiga orang Kapten yang membawa surat
perintah itu. Ketiga Kapten itu memberi hormat padanya.
Eraito melilitkan bendera itu kekepalanya. Kemudian memberi hormat kearah
matahari terbit. Ke arah kerajaan Kaisar Tenno Haika. Lalu dia duduk berlutut
di lantai. Ketiga Kapten yang dikirim dari Bukit Tinggi itu juga berlutut.
”Tai-I Sambu .. ” Eraito memanggil. Yang dipanggil, seorang ***-I (Kapten)
masuk memberi hormat. Dia terkejut melihat keempat orang yang berlutut. Ketika
matanya terpandang pada bendera yang melilit kepala komandannya, kemudian pada
samurai di depan Eraito, Kapten itu segera sadar apa yang akan terjadi. Dia
mengangguk memberi hormat. Kemudian duduk di hadapan komandannya.
”Setelah tugas saya selesai, serahkan seluruh berkas perkara kematian itu pada
mereka ..” Eraito berkata.
”Hai ..!!” perwira itu mengangguk dalam-dalam.
Kemudian Eraito mengambil samurai itu. Membukanya. Mulutnya komat kamit.
Kemudian menghujamkan samurai itu keperutnya. Dengan tekanan yang kukuh,
__ADS_1
samurai yang alangkah tajamnya itu, dia iriskan kekiri. Darah membersit. Dia
masih berlutut dengan nafas terengah. Kemudian jatuh. Kepalanya mencecah
lantai. Dia seperti orang Islam yang sujud kelantai. Dan perwira ini mati dalam
keadaan begitu. Dia telah melakukan Seppuku, yang juga disebut Harakiri.
Segera setelah dia mati, Kapten wakilnya itu menyerahkan laporan berkas kematian
perwira-perwira itu pada ketiga Kapten utusan Fujiyama. Berkas perkara itu
disampulnya. Tak seorangpun yang berhak membacanya, kecuali Kolonel Fujiyama.
Bahkan Letkol Fugirawa sendiripun, kendati jabatannya Kepala Intelijen, tetap
tak berhak membaca laporan itu. Berkas itu dibawa ke Bukittinggi. Fujiyama
membacanya dengan teliti. Laporan itu antara lain berisi:
”Ada seorang anak Minang yang berkeliaran dengan samurai maut di tangannya.
Anak muda ini entah dari siapa belajar samurai, ilmu samurainya meskipun
ngawur, namun amat tinggi. Diduga dia mencari seseorang untuk membalas dendam
sebagai Cho (Komandan Peleton) Kempetai di Payakumbuh. Saburo memang terkenal
terlalu ganas di Payakumbuh. Itulah sebabnya dahulu dia diusulkan untuk pindah
dari kota kecil ini. Kini ada yang menuntut balas kekejamannya. Diduga lebih
dari dua puluh orang tentara Jepang, perwira dan prajurit, telah mati dimakan
samurai anak Minang itu. Tapi rahasia ini dipegang teguh, penyelidikan tetap
dijalankan. Usaha mencari dan membekuk anak muda yang kabarnya bernama si
Bungsu (anak paling kecil) dari Dusun Situjuh Ladang laweh itu tetap diusahakan
dengan ketat. Namun sampai saat ini anak muda itu tak pernah bersua. Dia lenyap
seperti burung elang yang terbang ke kaki langit. Semoga dengan restu Tenno
Haika, demi kejayaannya, anak muda itu segera dapat ditangkap.”
Demikian bunyi dan akhir dari laporan Mayor Eraito yang berkedudukan sebagai Bu
__ADS_1
Tei Cho (Komandan Batalyon) balatentara Jepang di Payakumbuh. Dalam laporan itu
dilampirkan nama-nama yang diduga mati di tangan si Bungsu. Kolonel Fujuyama
menarik nafas dan menutup laporan itu. Eraito telah menjalankan tugasnya dengan
baik. Menutup rahasia itu rapat-rapat. Tapi dia memang harus mati, karena di
puncak hidungnya sendiri anak buahnya banyak yang mati. Mati bukan dalam
pertempuran. Hukuman bagi komandannya adalah tembak mati atau Harakiri. Eraito
memilih yang kedua.
Laporan itu dimasukkan ke dalam penyimpanan dokumen paling rahasia oleh Kolonel
Fujiyama. Kolonel Fujiyama terkenal sebagai seorang Perwira Senior yang kukuh
pada tradisi Militer Jepang yang amat konvensional. Baginya, seorang tentara
adalah seorang tentara. Seorang tentara berperang untuk negaranya. Bukan untuk
diri pribadi.
Seorang tentara hanya bermusuhan dengan tentara dari negara yang melawan negara
Jepang. Lawan tentara Jepang hanyalah tentara negara tersebut, atau mata-mata
dari tentara yang berasal dari orang sipil. Seorang tentara Kerajaan Tenno
Haika tak layak melakukan kekejaman pada rakyat sipil. Kolonel ini terkenal
sekali dengan sikap yang demikian. Dia adalah pemeluk agama Budha yang taat.
Sebagai Dai *** Cho, Komandan Divisi dan Komandan balatentara Jepang di Pulau
Sumatera, dia berhak mengambil putusan-putusan yang amat prinsipil. Dan itulah
yang dia lakukan. Yaitu dengan menyuruh Eraito, seorang mayor yang gagal untuk
Harakiri. Kini dia mengambil langkah kedua dalam urusan peristiwa si Bungsu
ini. Dia memerintahkan pada Saburo yang saat itu sudah berpangkat Syo Sha
(Mayor) dan menjabat sebagai Bu Tei Cho (Komandan Batalyon) di Batu Sangkar,
untuk datang menghadapnya di Markas Besar.
__ADS_1