
Tikam Samurai - 34
”Terima kasih Pak. Saya harus pergi sekarang.”
”Tapi hari hujan dan malam telah larut.”
”Tidak apa. Saya biasa berjalan dalam suasana bagaimanapun”
”Tapi bukankah engkau disuruh datang besok ke markas Kempetai?”
”Ah, saya kira biar Bapak saja. Katakan saya sudah pergi.”
”Engkau benar-benar tak ingin bermalam di sini agak semalam?”
”Terima kasih pak…”
Dia kemudian menoleh pada Siti yang masih duduk. Gadis itu menunduk.
”Terima kasih kopinya Siti. Engkau pandai membuatnya. Saya belum pernah minum
seenak itu….”
Siti melihat padanya. Ada air menggenang di pelupuk matanya
”Benar kopi itu enak?” tanya gadis itu perlahan-
”Benar…”
”Saya lupa memberinya gula,” karena ketakutan Gadis itu berkata sambil bibirnya
tersenyum malu.
”Ya, ya. Itulah justru kenapa kopinya jadi enak. Nah, selamat tinggal.”
Dia genggam tangan Siti sesaat. Kemudian melangkah keluar.
”Doa kami untukmu Nak…”
”Terima kasih Pak…”
”Kalau suatu hari kelak kau lewat di sini, singgahlah…”
”Pasti saya akan singgah..”
Dan dia lenyap ke dalam gelap yang basah di luar sana. Siti menangis ketika dia
pergi. Ayahnya menarik nafas panjang.
—o0o—
__ADS_1
Senja ini keduanya merasa perlu melayani anak muda itu. Soalnya belum pernah
mereka dikunjungi urang awak, gagah pula. Mereka bercerita perlahan hilir
mudik. Bercerita di bawah bayangan pohon cery. Minum teh manis dan makan pisang
goreng. Anak muda itu kelihatannya bukan dari golongan orang berada. Pakaiannya
sederhana saja. Pakai baju gunting Cina, celana Jawa dengan kain sarung
menyilang dari bahu kiri ke kanan. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu. Kalau
saja dia pakai Saluak, maka orang akan percaya bahwa pastilah dia seorang
penghulu. Gayanya memang mirip seorang kepala kaum.
”Nampaknya uda tengah menanti seseorang….”, perempuan yang bekulit hitam manis,
berhidung mancung dengan mata yang gemerlap dan menarik, berkata. Dia
memperhatikan anak muda itu beberapa kali melirik ke gerbang setiap ada orang
yang datang.
”Ada teman yang akan datang?” perempuan itu bertanya lagi.
”Ya, saya menanti seseorang.”
”Tidak, bukankah kalian sudah ada?”
”Ya. Tapi kenapa sejak tadi hanya duduk saja di sini? Ayolah ke rumah…”.
Perempuan yanng satu lagi, yang berkulit kuning dan dan bertubuh montok,
berkata sambil menarik tangan anak muda itu. Umur kedua perempuan itu
barangkali tak lebih dari 22 tahun. Masih terlalu muda.
”Tunggulah. Sebentar lagi mungkin dia datang. Tapi bagaimana saya akan ke
rumah, kalian berdua.”
”Tak jadi soal. Bisa gantian toh Uda?” ujar perempuan hitam manis itu sambil
mengerdipkan matanya yang indah. Muka anak muda itu jadi merah. Dia melirik ke
meja di seberang sana, pada beberapa serdadu dan opsir Jepang yang sedang
minum. Rasanya dia mengenal dua orang diantara mereka. Dia coba
__ADS_1
mengingat-ingat.
”Bagaimana? Ayolah ke rumah!” Perempuan cantik berkulit kuning itu merengek
lagi sambil menarik tangannya. Saat itulah salah seorang dari serdadu Jepang
yang duduk tak jauh darinya berdiri. Berjalan menuju meja di mana mereka duduk.
Tubuh Jepang itu berdegap. Dia menatap pada kedua perempuan yang ada di samping
anak muda itu.
”Hmmm…nona mari ikut aku…” katanya sambil memegang tangan si hitam manis.
Perempuan itu menyentak tangannya.
”Maaf Kamura, saya sedang ada tamu…”, ujarnya mengelak. Jepang yang bernama
Kamura dan berpangkat Gun Syo (Sersan Satu) itu menyeringai. Menatap pada tamu
yang disebutkan si hitam manis tersebut. Ketika yang dia lihat tamunya itu
hanyalah seorang lelaki tanggung, pribumi pula, dia tertawa. Memperlihatkan
seringai yang memuakkan.
”Ha, kalian orang ada berdua. Ada si hitam ada si kuning. Kamu jangan serakah
ya. Saya bawa yang hitam manis ini…” Jepang itu berkata sambil tetap menyeret
tangan si hitam manis. Tak ada daya perempuan itu selain menuruti kehendak
Kamura. Teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan. Sementara itu si cant ik
berkulit kuning segera merapatkan duduknya dan memegang lengan anak muda itu
erat-erat.
”Cepatlah kita ke bilik. Nanti datang yang lain membawa saya…”, perempuan itu
merengek lagi. Anak muda itu, yang tak lain dari pada si Bungsu tak mendengar
ucapan si cantik ini. Pikirannya tengah melayang. Dia coba mengingat seringai
buruk Gun Syo Kamura tadi. Dimana dia pernah melihatnya? Tiba-tiba kini dia
ingat. Bukankah Jepang itu yang menghadangnya ketika dia akan mendekati ayah,
ibu dan kakaknya sewaktu penyergapan di rumah mereka dulu? Dia ingat peristiwa
__ADS_1
itu. Ayah, kakak dan ibunya baru saja diperintahkan untuk keluar dari
persembuyian di atas loteng oleh Kapten Saburo.