TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 96


__ADS_3

Tikam Samurai - 96


“Jangan melongo” saja Mayor itu membentak. Si Kapten segera


sadar.


“Saya diperintahkan untuk mencari pak Mayor. Sejak siang tadi dinanti di markas


besar. Kami kira mendapat kesulitan. . .”


“Tak ada kira-kira. Kau pikir kami sedang lomba renang di sini?” Mayor itu


membentak lagi sambil bergegas naik ke atas jeep. Pasukan yang lain melompat


keatas truk. Dan kendaraan itu bergerak menuju ke Panorama. Malam itu juga


dikerahkan tak benar dua kurang dari seratus tentara Jepang untuk mencari jejak


pejuang-pejuang tersebut. Dan benar juga dugaan penduduk Birugo Puhun. Semua


rumah digeledah sepanjang malam itu. Hampir seribu penduduk diinterogasi.


Beberapa orang ditangkap. Jepang tak peduli, bahwa rumah yang dipergunakan


untuk rapat itu sebenarnya rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Pemiliknya


sudah pindah ke Bandung sejak lima tahun yang lalu. Jepang tak perduli itu.


Yang jelas perusuh-perusuh itu rapat di wilayah Birugo Puhun. Tentu penduduk


kampung itu merestui pertemuan itu. Maka penghuni lima buah rumah yang


berdekatan dengan rumah tempat rapat itu ditangkap.


Diinterogasi di markas besar. Begitu selalu nasib penduduk sipil. Namun bagi


penduduk. nasib demikian nampaknya sudah mereka terima dengan tabah. Keganasan


suatu rezim justru menimbulkan kebencian pada rezim itu. Tak ada yang bisa


dicapai dengan kekerasan. Penduduk justru makin mengharapkan agar


pejuang-pejuang itu makin kuat.


Meski dari luar mereka terlihat pasrah menerima nasib atas perlakuan rezim yang


menjajah negeri mereka. Sebab, apakah lagi yang bisa mereka perbuat, jika

__ADS_1


kepada mereka yamg lemah ditodongkan ujung sangkur dan moncong bedil. Apalagi


bisa diperbuat selain dari pasrah. Namun, dari dalam tahanan para penduduk


tetap berdoa semoga perang segera meletus. Mereka berdoa dan berharap. agar


kemerdekaan segera tercipta bagi negara mereka.


Siang itu si Bungsu sedang berada di rumah seorang tabib, untuk mengobati luka


di bahunya akibat perkelahian dengan Syo-I Atto di Birugo tempo hari. Saat


menunggu tabib meramu obat itulah tiba-tiba saja rumah itu telah dikepung oleh


dua puluh tentara Jepang. Dia sudah dianggap demikian berbahayanya. Sehingga


Jepang mengerahkan hampir seluruh intelejennya yang ada di Sumatera Barat untuk


mencium jejak pelariannya.


Tiga hari sebelumnya, mata-mata mereka mengetahui bahwa si Bungsu bersembunyi


di sebuah rumah di kaki gunung Merapi. Diketahui pula bahwa lukanya akan


diobati di rumah seorang tabib obat di Koto Baru. Begitulah, saat dia tengah


menanti obat diramu, satuan-satuan tentara Jepang yang telah disiapkan segera


Mayor yang dia suruh berendam ke dalam tebat dalam keadaan telanjang di Birugo


dulu. Si Mayor yang telah tegak di depan rumah tabib tersebut terdengar


berseru:


“Bungsu, keluarlah. Rumah ini telah dikepung. Kalau kalian tak keluar dalam


lima hitungan, rumah ini akan saya ledakkan dengan dinamit”


Dia seperti mengulangi lagi kalimat berbentuk ancaman yang dia ucapkan saat dia


dan pasukannya mengepung rumah tempat para pejuang rapat di Birugo Puhun, sepekan


yang lalu. Kali ini kemujuran serta nasib baik nampaknya tidak berpihak pada si


Bungsu. Luka di dadanya mengalami infeksi. Ramuan obat yang dia ramu saat di


Gunung Sago dan selalu dia bawa kemanapun pergi, telah habis.

__ADS_1


Ketika dia ingin kembali meramu obat-obatan itu, dia terbentur pada ketiadaan


beberapa jenis tumbuhan untuk bahan pembuatnya. Ada empat macam jenis akar,


kulit, daun dan bunga kayu yang mengandung bisa dan tiga jenis rerumputan


menjalar yang bergetah yang dia pakai sebagai ramuan. Di kaki gunung Merapi,


dimana dia bersembunyi, tak semua jenis kayu dan rerumputan itu dia peroleh.


Kendati sudah empat lima orang mencarinya selama beberapa hari. Karena lukanya


semakin berinfeksi, akhirnya dia menurut ketika disarankan berobat ke seorang


tabib di Koto Baru.


Mereka sebelumnya memang telah khawatir bahwa akan diketahui intelijen Jepang.


Kini kekhawatiran itu terbukti. Datuk Penghulu yang selalui berada bersama si


Bungsu tertegun. Dia menatap pada si tabib. Si Bungsu perlahan duduk dari


pembaringannya. Tubuhnya amat lemah, wajahnya pucat karen sudah dua hari demam


dengan panas amat tinggi. Di luar sana terdengan suara si mayor mulai


menghitung. Tabib yang ditatap Datuk Penghulu itu sendiri jadi pucat.


“Saya tidak mengkhianati tuan-tuan. Demi Allah, saya tidak mengkhianati


tuan-tuan” ujar tabib itu. Datuk Penghulu masih menatapnya. Demikian pula si


Bungsu.


“Tidak. Kami tahu bapak tidak mengkhianati kami. Mereka memang telah menyebar


ratusan intelejen. . .jangan takut ….” si Bungsu berkata sambil melangkah


turun.


Bersama Datuk Penghulu dia membuka pintu tatkala hitungan mencapai empat. Semua


tentara Jepang yang mengepung rumah itu mengacungkan bedil mereka. Mayor itu


sendiri tegak dengan pistol di tangan. Nampaknya dia tak mau menanggung resiko.


Pengalaman di Birugo Puhun dulu menyebabkan dia amat berhati-hati.

__ADS_1


“Lemparkan samuraimu Bungsu. Lemparkan ke tanah. Kemudian kalian berdua


berjalan kemari dengan tangan ke atas dan bergerak mundur. cepat. . . .”


__ADS_2