TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 12


__ADS_3

Saat itulah temannya yang seorang lagi sadar bahwa bahaya


tengah mengancam temannya, dia lalu diam-diam menyerang dari belakang. Namun


Datuk Berbangsa memutar Jepang yang masih dia piting itu. Jepang itu dia


jadikan sebagai perisaai. Sementara serdadu itu tak berdaya menggerakkan


samurainya, karena tangannya tengah dicengkam amat kuat.


 Si kurus tidak bisa berbuat banyak. Dia harus hati-hati agar serangannya


tak mengenai kawan sendiri. Mereka berputar-putar sejenak. Suatu saat


Jepang itu berputar dengan cepat. Karena tengah memiting lawan, Datuk Berbangsa


tidak dapat bergerak lincah. Dia kurang cepat berputar. Saat itulah serangan


Jepang itu datang dari belakang. Namun kembali suatu keajaiban terjadi. Datuk


Berbangsa kiranya sengaja memancing dengan membiarkan lawannya ke belakangnya.


Dan ketika angin serangan samurai itu datang, dia meluncurkan dirinya ke bawah.


Menjatuhkan diri dan bertekan di tanah dengan lutut kanan. Samurai lawannya


yang dia piting itu tiba-tiba berpindah ke tangannya. Dalam suatu gerakan yang


sempurna samurai di tangannya dia tikamkan ke belakang tanpa menoleh


sedikitpun. Tapi lawan di belakangnya bukan pula sembarang samurai.


Gerakannya ternyata amat cepat. Meski Datuk Berbangsa sempat selamat dari


bacokan yang fatal, namun tak urung punggungnya robek sehasta. Mulai dari bahu


kanan mereng ke lambung kiri. Darah membanjir. Dan saat itu pula Jepang yang


menyerang dari belakangnya itu terhenti dan terpekik. Samurai kawannya yang


berhasil dirampas dalam suatu gerakan yang disebut Piuh-pilin dari jurus


Kumango yang sempurna dan dihujamkan ke belakang oleh Datuk Berbangsa, kini


menancap hampir separohnya ke dada Jepang itu.


Samurai itu tembus dan menyembul keluar dari baju di punggungnya! Semua Jepang


yang ada di sana jadi tertegun kaget dan kagum akan kehebatan perkelahian itu.

__ADS_1


Belum pernah mereka melihat perkelahian antara pribumi memakai samurai


sedahsyat ini. Belum sekalipun! Datuk ini benar-benar memiliki ilmu silat yang


tangguh, pikir mereka. Jepang bertubuh kecil itu masih tertegak diam. Matanya


berputar. Dia tegak setengah hasta di belakang Datuk Berbangsa yang masih


memegang samurai itu dengan kuat. Lambat-lambat Jepang itu mengangkat samurai


di tangan. Dan menebaskannya ke leher Datuk Berbangsa yang masih tetap berlutut


membelakanginya. Namun gerakan Jepang itu hanya sampai mengangkat samurai saja.


Setelah itu gerakannya terhenti tiba-tiba. Dan tubuhnya rubuh ke belakang.


Mati! Semua orang terdiam.


Tapi isteri Datuk Berbangsa terpekik melihat darah di punggung suaminya. Dia


berlari menghambur ke tengah lingkaran. Tapi Kapten Saburo Matsuyama menganggap


sudah cukup memberi angin pada Datuk itu. Dalam marahnya yang luar biasa, dia


mencabut samurai, dan di saat isteri Datuk itu lewat di sampingnya, samurai itu


suaminya. Tubuhnya telah hoyong tatkala mencapai suaminya.


“Uda….perempuan itu rubuh ke pangkuan suaminya.


“Jahannam…….Jepang jahannaam!” Datuk Berbangsa memekik. Dan meletakkan


isterinya di tanah. Dengan punggung robek dia tegak menghadapi Kapten Saburo.


Saburo dengan mata yang nyalang menatapnya. Kini Datuk itu menyerang duluan.


Tetapi mungkin karena keahlian Saburo memang jauh lebih tinggi dari pada anak


buahnya, atau mungkin pula karena Datuk itu dalam keadaan luka, perkelahian


mereka kelihatan tak seimbang.


Datuk Berbangsa memegang samurai dengan menghadapkan ujungnya ke belakang, dia


menikamkannya ke arah Saburo. Sebuah tikaman ke belakang yang tadi telah


menghabisi nyawa serdadu yang menyerangnya dari belakang. Sabetannya yang


pertama, yang mengarah ke depan, membunuh serdadu yang tadi dia piting

__ADS_1


lehernya. Tapi tikaman samurai ke belakang itu tak mengenai sasaran. Saburo


menghayunkan samurai dalam tiga serangan berantai. Datuk Berbangsa


menangkisnya. Namun serangan tiga serangkai itu merupakan serangan tangguh.


Begitu dia menangkis sabetan samurai Saburo, dia merasakan tangannya kesemutan.


Tanpa dapat dia cegah, samurai di tangannya lepas. Bukan main hebatnya tehnik


dan tenaga Saburo.


Samurai itu melayang ke udara. Datuk Berbangsa tak mau menanti. Dia mengirim


sebuah tendangan. Dan tendangan itu tak diduga sedikitpun oleh Saburo. Kapten itu


terjajar ke belakang karena perutnya kena hajar tumit Datuk Berbangsa. Dia


jatuh berlutut. Dan saat itu samurai yang tadi terlambung meluncur turun ke


atas kepala Saburo.


Tapi perwira Jepang ini memang seorang samurai pilihan. Dia mendengar desiran


angin samurai    yang menghunjam ke arah kepalanya itu. Tanpa


menoleh ke atas, dia memutar samurai di atas kepalanya. Dan samurai itu kena


dipapas, dan dengan amat laju melayang ke arah Datuk Berbangsa. Datuk itu coba


mengelak, namun samurai tersebut terlalu cepat. Dan karena dia coba mengelak,


tubuhnya miring ke kiri. Dan crepp!! Samurai itu menancap separoh ke dada


kirinya. Menembus jantung! Tembus ke punggung! !


Datuk Berbangsa tertegak. Dia tak mengeluh sedikitpun. Si Bungsu terlonjak.


“Ayaaah” pekiknya, namun dia takut untuk bangkit.


Ayahnya tak menoleh ke arahnya. Lelaki tua perkasa dan keras seperti baja itu


lambat-lambat jatuh di atas kedua lututnya. Matanya masih menatap Saburo.


“Beginikah sikap satria seorang samurai yang dibanggakan itu? Membunuh seorang


perempuan dan menghantam orang yang luka?” Datuk Berbangsa bertanya dengan


tatapan mata yang membuat hati Saburo jadi ciut.

__ADS_1


__ADS_2