
Tikam Samurai - 103
Sebelum si Bungsu sadar apa yang akan terjadi Jepang itu
menjepit telunjuk si Bungsu dengan tangnya. Letnan itu mengangguk. Dan si
Bungsu kali ini tak bisa menahan pekik kesakitannya. Tak bisa! Betapa dia akan
mampu menahan rasa sakit, kalau tulang telunjuknya itu dipatahkan dengan
jepitan tang?
“ Mengakulah . .!”
si Bungsu hanya mengerang kecil. Dan kali ini jari tengahnya dapat giliran
dipatahkan. Dan kembali dia memekik.
“Mengakulah . .!”
Si Bungsu hanya mengeluh dan mengerang. Air matanya membasahi pipinya. Dan jari
manisnya mendapat giliran. Dia kembali memekik. Pada pekik yang ketiga ini.
Kari Basa mengangkat kepala. Dan dia melihat betapa tubuh anak muda itu
berlumur darah. Pakaian dan sebahagian dagingnya robek-robek. Persis kerbau yang
selesai dikerjakan di rumah jagal.
“Mengakulah..!”
Si Bungsu tetap bungkam. Dan kembali kelingkingnya dipatahkan. si Bungsu
memekik. Namun dia tetap diam, tak mau membuka rahasia.
“Tahan . .” tiba-tiba ada suara. Dan yang bersuara tak lain daripada Kari Basa.
Letnan itu menoleh padanya.
“Kau mau mengaku?”
“Baik saya mengaku, tapi lepaskan anak muda itu. Dia tak bersalah . . .”
“Ooo. Kau kenal padanya ya … ?”
“Justru karena saya tak kenallah makanya dia harus dibebaskan. Dia tak ada
__ADS_1
sangkut pautnya dengan perjuangan kami. Kami tak mengenalnya.” Si Bungsu
menatap Kari Basa. Apakah ini semacam penyingkirannya dari kalangan
pejuang-pejuang ini? Apakah Kari Basa berkata begitu karena si Bungsu juga
pernah berkata begitu ketika rapat di Birugo dahulu?
Ketika pertanyaan begitu berkecamuk dalam fikiran si Bungsu, Kari Basa sekilas
menatap padanya. Dan dari cahaya mata lelaki tua itu, dia dapat menangkap.
Bahwa Kari Basa hanya membuat siasat.
Namun kelegaan hatinya segera lenyap ketika letnan itu berkata :
“He..he tak ada sangkut paut kalian? Kalian saling tak mengenal? He. .he
Bukankah kalian sama-sama hadir ketika rapat di Birugo dahulu? Bukankah kau
punya hubungan dengan Datuk Penghulu? Nah, dari situ dapat ditarik kesimpulan
bahwa kalian punya hubungan. Jangan kami pula hendak kalian bohongi.” Dan kali
ini penyiksaan dilakukan berbarengan.
serdadu sadis ini lihai dalam pekerjaannya. Meskipun korbannya sudah remuk
redam, sudah cabik-cabik tapi mereka jaga agar si korban tak segera mati.
Mereka amat ahli dalam hal ini. Bagaimana menyiksa tawanan sampai separoh
******, bahkan terkadang sampai tiga perempat ******, tapi tetap saja tak
sampai ******. Dan itulah penderitaan yang ditanggung oleh kedua orang itu.
Si Bungsu sudah hampir ****** ketika dia dengar suara letusan.
Letusan sekali. Dua kali. Tiga kali!
Dia merasa dirinya amat luluh. Dirinyakah yang kena tembak? Kari Basa kah? Dia
tak merasakan sakit karena seluruh tubuhnya adalah sakit itu sendiri. Dia tak
merasa menderita karena tembakan itu karena dirinya adalah puncak dari
penderitaan itu sendiri.
__ADS_1
Dan diapun terkulai. Sampai disini ajalku…..bisiknya. Dan dia juga yakin, bahwa
bersama ajalnya, orang tua yang bernama Kari Basa itupun tamat pulalah riwayat
hidupnya.
Namun tak demikian terjadi.
Teman-teman Datuk Penghulu dan Kari Basa mengetahui penangkapan terhadap kedua
orang itu. Perintah langsung dari Engku Syafei menyuruh membebaskan mereka.
Sebuah “pasukan khusus” yang beruniform beranggotakan sebelas orang segera
diberangkatkan. Mereka mempergunakan beberapa bedil dan pistol yang selama ini
secara dia,-diam dicuri atau dibeli dengan sangat rahasia. Bahkan ada beberapa
bedil peninggalan Belanda.
Tugas untuk mengetahui dimana kedua orang ini ditahan dierahkan pada ***-I
(Kapten) Dakhlan Djambek. Namun untuk menemui Kapten ini bukan main sulitnya.
Jepang memang telah mencium adanya gerakan pribumi yang akan menentang
penjajahan.
Karena itu setiap Anggota Gyugun, mulai dari prajurit sampai para perwira
diawasi dengan ketat. Hanya dengan sangat susah payahlah ***-I Dakhlan Djambek
bisa berhubungan dengan teman-temannya. Namun setelah dua hari berusaha,
Dakhlan Djambek masih belum berhasil mengetahui dimana kedua orang itu ditawan.
Para pimpinan tentara Jepang nampaknya memang telah waspada sejak semula
pertama menjejakkan kakinya di Indonesia. Mereka sudah menduga bahwa lambat
laun perlawanan dari penduduk-penduduk setempat kepada para penjajah pastilah
akan timbul.
Karena itu para Gyugun yang berasal dari pemuda-pemudi Indonesia tak pernah
ditugaskan di proyek-proyek militer yang vital. Dan di Bukittinggi mereka tak
__ADS_1
pernah ditugaskan di bawah kota yang sedang digali itu.