TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 106


__ADS_3

Tikam Samurai - 106


Malam itu dia justru bertugas disalah satu markas Kempetai


bersama enam orang tentara Jepang asli lainnya. Dan keenam tentara Jepang yang


sama-sama bertugas malam itu dengannya menerangkan bahwa ***-I itu tak pernah


meninggalkan markas malam itu.


Lalu bagaimana Dakhlan Djambek sampai bisa hadir dan justru membunuh sersan itu


dihadapan para pejuang malam itu? Ceritanya sangat sederhana. Peristiwa dia


membunuh sersan itu dengan samurai hanya berjarak sejangkau tangan dari markas


Kempetai itu. Tepatnya, rumah tempat si sersan dibunuh terletak persis di


belakang markas Kempetai itu. Dan antara markas dengan rumah itu hanya dibatasi


dengan sebuah pagar batu setinggi pinggang.


Rumah itu sebuah rumah batu yang sudah lam ditinggal penghuninya. Pemiliknyu


merantau ke Jawa. Tapi kuncinya ada pada seorang adiknya di Mandiangin. Nah


rumah inilah yang dipilih Dakhlan Djambek untuk menanyai sersan.


Keputusan itu memang berbahaya. Tapi tak ada jalan lain, justru jalan itu pulan


paling aman. Kempetai pasti takkan pernah mencurigai kalau rumah di belakang


markas mereka itu justru dipergunakan oleh pihak pejuang. Disamping tak


mencurigai, Dakhlan Djambek bisa hadir disana tanpa menimbulkan kecurigaan.


Tinggal kini waktu diperhitungan dengan cermat. Harus pas waktunya antara


dibekuknya si sersan di hotel dengan tibanya di di rumah tersebut. Setelah si


sersan dibekuk lalu dibawa ke rumah itu dengan truk. Dakhlan Djambek yang tegak


di depan melihat mereka lewat.


Dia masih tegak di depan beberapa saat. Lalu masuk ke markas. Memrintahkan pada


tiga orang Gyugun asal Indonesia untuk mengadakan patroli sekeliling


markas.  Ketiga Gyugun itu keluar setelah memberi hormat. Kemudian Dakhlan

__ADS_1


Djambek duduk di depan Komandan Piket malam itu. Yaitu seorang Jepang


berpangkat Mayor.


Tiba-tiba dia bangkit.


“Sakit perut….” Katanya menyeringai.


“Ha…banyak makan duren sore tadi. Bisa mencret ***-i…” Si Mayor berkata sambil


tertawa.


Dakhlan Djambek juga ikut tertawa. Empat orang Kempetai yang ada dalam ruangan


itu juga tertawa. Srebab mereka giliran piket setiap 24 jam. Dan mereka telah


mulai piket sejak tadi pagi. Dan sore tadi ada yang mentraktir makan durian.


Mereka membeli durian lima belas buah. Lalu mereka makan bersama di kantin


disebelah kantor.


Dakhlan Djambek dengan memegang perut lalu berlari ke belakang. Menutup pintu


kakus. Menguncinya. Dan kakus ini juga sudah dia perhitungkan. Kakus ini


mempunyai jendela besar di belakangnya.


empat langkah, tiba di pagar. Meloncati pagar itu. Duduk dibaliknya. Dia


bersiul menirukan bunyi burung malam. Erdengar sahutan. Dia bergegas tegak dan


melangkah memasuki rumah itu dari belakang.


Tiga orang Gyugun yang tadi dia perintahkan untuk patroli menantinya di pintu.


Dan mereka masuk. Kisah bagaimana si sersan mati, sudah diuraikan terdahulu.


Dakhlan Djambek memberi kesempatan kepada sersan itu untuk membela diri.


Sebenarnya dia bisa saja membunuih sersan itu tanpa perlawanan. Tapi sebagai


seorang pejuang, seperti umumnya pejuang-pejuang Indonesia, dia tak mau


membunuh lawan yang tak berdaya. Apalagi dia seorang perwira.


Makanya dia memberi kesempatan kepada sersan itu untuk membela diri. Sebenarnya


bisa saja keadaan berbalik jadi berbahaya. Yaitu kalau si sersan justru yang

__ADS_1


menang dalam perkelahian itu. Mungkin si sersan bisa juga dibunuh oleh


pejuang-pejuang yang ada dalam ruangan itu. Namun kalau sudah jatuh korban,


apalagi korban itu seorang Dakhlan Djambek, perwira Gyugun yang diandalkan


untuk memimpin anggotanya kelak dalam revolusi, bukankah akan sia-sia jadinya?


Namun Dakhlan Djambek tetap pada sikap satrianya. Disamping juga dia punya


keyakinan pada dirinya, dan terutama pada Tuhannya. Setelah sersan itu mati,


jejak perkelahian di ruangan belakang rumah itu dilenyapkan. Dan Dakhlan


Djambek kembali melompati jendela kakus. Kemudian pura-pura batuk dalam kakus.


Pura-pura menyiramkan air. Lalu keluar dari kakus setelah yakin jejaknya tak


ada di dinding. Dengan pura-pura melekatkan celana dan merapikan baju, dia


membuka pintu.


Masuk kembali keruangan dimana si Mayor tengah mendengarkan siaran radio yang


dipancarkan oleh Markas Besar tentara Jepang. Dengan menarik nafas lega, dia


duduk. Seperti orang yang baru saja lepas dari siksaan.


“Hmmm, keluar semua?” Mayor itu bertanya sambil tersenyum.


“Tidak. Ususku masih tinggal di dalam……….’” Jawab Dakhlan Djambek. Mayor itu


dan keempat Kempetai tertawa terkekeh. Waktu yang terpakai baginya untuk “buang


air” itu tidak lebih dari sepuluh menit. Benar-benar perhitungan seorang


militer yang teliti.


Dan ketika interogasi, seluruh prajurit dan sang Mayor yang piket malam itu


jadi saksi, bahwa dia tidak pernah keluar sesaatpun pada malam lenyapnya si


sersan. Dan Kempetai tak pula pernah menyelidiki rumah kosong yang telah lama


tak dihuni yang terletak persis dibelakang markas mereka. Kekhilafan-kekhilafan


kecil begini biasanya memang terjadi satu dalam seribu peristiwa penting


dipihak kemiliteran.

__ADS_1


Dan kekhilafan kecil itulah yang menyelamatkan Dakhlan Djambek serta para


Gyugun yang tugas di Bukittinggi malam itu dari pembantaian Kempetai.


__ADS_2