
Tikam Samurai - 35
Ketika mereka muncul di tangga rumah Gadang, si Bungsu yang
berada di antara kerumunan penduduk berlari ke depan sambil memanggil ayah dan
ibunya. Tapi seorang serdadu Jepang bertubuh kurus menghadangnya. Dia berhenti,
menatap pada serdadu kurus itu. Serdadu itu menyeringai. Dia tertegak ngeri di
tempatnya. Nah, serdadu itulah tadi yang membawa si hitam manis ke atas. Dia
tandai seringainya itu. Tadi dia lupa karena serdadu itu tubuhnya tidak lagi
kurus seperti belasan purnama yang lalu. Kini tubuhnya besar berdegap. Senang
nampaknya dia di Lima Puluh Kota ini.
”Kita masuk?” si cantik kuning itu gembira melihat dia tegak. Si Bungsu
menatapnya.
”Ya. Kita masuk..” katanya. Dengan gembira si kuning itu memegang tangannya.
Kemudian membimbingnya ke atas rumah di mana Kamura tadi juga masuk bersama
kawannya si hitam manis. Di dalam kamar, si kuning cantik itu mendudukkan anak
muda berwajah murung itu di tempat tidurnya yang beralaskan kain satin dan
berbau harum.
”Duduklah. Mau minum apa?” tanyanya dengan manja. Si Bungsu menatap perempuan
itu. Menatapnya diam-diam.
”Jangan memandang seperti itu Uda. Hatiku luluh uda buat….”, katanya manja
sambil memegang kedua belah pipi si Bungsu.
”Kulihat engkau mencari seseorang kemari…” perempuan itu berbisik. Si Bungsu
masih duduk diam. ”Kulihat engkau mengenali dan menaruh dendam pada Jepang yang
tadi membawa temanku si hitam itu….” perempuan itu berkata lagi perlahan.
__ADS_1
Si Bungsu mengagumi ketajaman penglihatan perempuan ini.
”Di balik matamu yang sayu, di balik wajahmu yang murung, tersimpan lahar
gunung berapi. Yang akan memusnahkan orang-orang yang kau benci. Sesuatu yang
sangat dahsyat dalam hidupmu pastilah telah terjadi. Sehingga engkau menyimpan demikian
besar gumpalan dendam di hatimu. Apakah keluargamu dilaknati oleh Jepang?”
Si Bungsu benar-benar terkejut mendengar ucapan perempuan ini. Dia menerkanya
seperti membaca halaman sebuah buku.
”Upik, siapa namamu?” tanyanya sambil menatap perempuan cantik itu.
”Tak perlu engkau ketahui. Setiap lelaki yang datang kemari menanyakan
namaku. Kemudian mereka akan melupakannya.”
”Katakanlah, siapa namamu!”
”Mariam…”
”Ya”
”Apakah itu namamu yang sebenarnya?”
”Tak ada yang harus kusembunyikan. Sedang kehormatan saja di sini diperjual
belikan. Apalah artinya menyembunyikan sebuah nama.”
”Maaf. Tapi engkau menerka diriku seperti sudah demikian engkau kenali…”
”Bagi orang lain mungkin sulit buat menebak siapa dirimu. Tapi tidak bagiku.
Aku kenal apa yang ada dalam hatimu, karena aku jaga mengalami hal yang sama…”
”Keluargamu dibunuh Jepang?”
”Tepatnya suamiku…”
”Suamimu?”
”Ya. Aku yatim piatu. Ibu dan ayah meninggal setelah aku menikah dan suamiku di
__ADS_1
bunuh Jepang karena tak mau ikut ke Logas.Kemudian diriku mereka nistai. Tak
cukup hanya demikian, aku mereka seret kemari. Pernah kucoba untuk melarikan
diri, tapi negeri ini tak cukup luas untuk lepas dari jangkauan tangan
Kempetai. Akhirnya aku diseret lagi kemari untuk memuaskan nafsu mereka. Di
sini aku…hidup dan menanti mati.”
Perempuan itu mulai terisak. Si Bungsu jadi luluh hatinya. Perempuan secantik
ini, yang barangkali sama cant iknya dengan Renobulan, bekas tunangannya dulu.
Atau dengan Saleha. Atau dengan Siti. Kini terdampar di Lundang ini. Penuh
noda. Dibenci orang kampungnya. Namun tahukah mereka apa penyebabnya maka dia
sampai kemari?
”Mariam. Dimana kampungmu…” tanyanya sambil memegang bahu perempuan itu.
Perempuan itu menghapus air mata. Berusaha menahan tangis.
”Saya berasal dari Pekan Selasa…”, jawabnya perlahan.
”Engkau kenal siapa yang menistai dirimu dan yang membunuh suamimu, Mariam?”
”Jepang yang tadi membawa teman saya, yang berkulit hitam manis itu salah
seorang di antara mereka….”
”Maksudmu Jepang yang tadi dipanggil dengan nama Kamura oleh temanmu itu?”
Mariam mengangguk.
”Jahanam. Dia jugalah yang dulu ikut membantai kedua orang tuak dan kakakku.
Dia yang menerjangku ketika aku lari ke arah ayahku…” desis si Bungsu.
”Siapa lagi yang kau kenal Mariam?”
”Saya tak ingat. Tapi komandannya adalah Saburo…”
Si Bungsu tersentak. ”Saburo?” katanya mendesis tajam.
__ADS_1