Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 11 Let's Talk


__ADS_3

Bangunan rumah keluarga Arya tidak banyak berubah sejak terakhir kali Dimas kesini. Di sekitar jalan sebelum masuk rumah keluarga Arya terdapat tanaman rambat yang membuat jalanan menjadi terlihat sejuk dan asri.


Waktu Dimas tiba dan turun dari mobilnya, ia di sambut oleh Bik Sima, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk keluarga Arya sejak Arya masih kecil.


"Apa kabar den Dimas? Sudah lama banget ga kesini, bibik jadi kangen. Tambah ganteng dan gagah aja keliatannya sekarang!"


"Ah, bibik bisa aja! Alhamdulillah kabar Dimas baik, bik. Arya lagi ada dimana, bik?"


"Lagi di belakang den, ngurusin si Momo. Hari ini tumben banget den Arya lagi ga kemana-mana, den..."


"Gitu ya... Bapak sama Ibu ada di rumah ga bik?"


"Ga ada nak, lagi keluar ada acara"


"Ooo... " Syukurlah, ucap Dimas dalam hati.


"Eh iya, den Dimas mau minum apa nih nanti bibik buatkan?"


"Apa aja, bik. Dimas ke belakang dulu ya!"


"Iya, nak"


Dimas melihat Arya sedang memasukan Momo ke kandangnya. Setelah itu ia menoleh dan melihat Dimas sedang menghampirinya.


"Hei Dims, sampai juga akhirnya. Tumben, udah lama kan ga kesini. Ada apa, Dims? Interviewnya tadi lancar kan?"


"Iya lancar"


Dimas tumben ga banyak bicara. Tapi setelah melihat ekspresi mukanya, Arya langsung mengerti.


"O oh... Mati aku..." Batin Arya.


Di antara trio tangguh, Dimas sifatnya paling ramah dan terbuka. Tetapi kalau sedang marah, ia paling keliatan seram di antara mereka bertiga.


"Sepertinya kamu tau aku kesini mau ngomong apa. Bukan begitu, kak Arya?"


"Tentang Elena ya?" Ujar Arya sambil tersenyum masam.


"Iya. Kenapa kamu bohongi dia? Kerja di bengkel? Yang benar aja kamu ya'!"

__ADS_1


"Tunggu...tunggu... Jangan emosi dulu! Kasih aku kesempatan untuk jelasin!"


"Iya, jelasin deh. Aku punya banyak waktu sekarang kok untuk dengerin, makanya aku kesini. Kamu juga belum sempat cerita kan ke aku gimana kamu bisa ketemu sama Elena?"


"Iya, aku emang belum sempet cerita, Dims. Aku ga sengaja ketemu Elena ketika lagi naik bus. Waktu itu aku lagi cari spare part buat Oggy karena di bengkel pak Bagas waktu itu lagi ramai jadi semua karyawan sibuk dan ga ada yang sempat beli spare part itu. Momo juga terlibat disini, karena waktu itu aku bawa Momo."


"Kok bisa?"


"Aku ga tau kenapa hari itu Momo ribet banget pengen nempel ke aku."


Lalu Arya bercerita bagaimana ia bisa bertemu dengan Elena di bus sampai mereka akhirnya di turunkan dengan paksa di tengah jalan karena Momo membuat kegaduhan di bus. Dimas sempat tertawa, tetapi setelah itu mukanya kembali serius.


"Sebenarnya waktu itu aku menawarkan untuk mengantarkan Elena pulang dengan meminjam mobil yang ada di bengkel karena Oggy masih belum selesai di kerjakan. Kamu tau sendiri kan walau sudah ada spare partnya ga bisa langsung selesai hari itu juga. Tapi, aku belum cerita soal Oggy, Elena sudah mengambil kesimpulan sendiri kalau aku kerja di bengkel"


"Dan saat itu kamu ga menyangkal kalau kamu anak seorang konglomerat bernama Harja Himawan yang juga bekerja sebagai wakil direktur di perusahaan aku?"


"Yaa... Mungkin karena outfit aku yang seadanya di hari itu mendukung jadi aku ga menyangkal. Aku tau aku salah, Dims...." Arya mengakui kesalahannya.


"Kamu tau kan kalau sekali kamu berbohong akan ada kebohongan lainnya untuk saling menutupi?"


"Iya, aku tau... "


"Sebenarnya waktu aku interview dia ngewakilin kamu kemarin, aku ingin jujur sama dia, tapi aku benar-benar ga punya kesempatan karena lagi-lagi dia menyimpulkan kalau kamu begitu baik karena mau berteman sama aku yang cuma bekerja di bengkel"


"Iya, dia juga tadi bilang begitu ke aku. Bayangin gimana kagetnya aku tadi pas dia ngomong kayak gitu" Dimas tersenyum membayangkan interview tadi. Arya juga jadi ikut tersenyum mendengarnya.


"Sebenarnya ada bagian di diri aku sih yang enggan untuk jujur ke Elena, karena sepertinya Elena lebih nyaman sama Arya yang kerja di bengkel, punya peliharaan hamster yang di kira tikus, baju dan gaya serampangan, di banding dengan Arya yang sebenarnya."


"Ya aku tau sih kadang aku sendiri juga suka sedih kalau ada perempuan yang suka insecure kalau lagi berada dekat kita. Lebih kesal lagi kalau ada yang menganggap kita sempurna, padahal mana ada orang yang sempurna sekali pun orang itu kaya raya."


"Bener banget, Dims..."


"Sebenarnya tadi Elena sempat marah sama aku"


"Kok bisa? Emang kamu ngomong apaan?"


"Aku ga sengaja bilang kalau dia hanya lulusan dari universitas kecil yang kurang terkenal walau CV-nya cukup mengesankan"


"Wah kamu tuh yaaa... Terang aja dia tersinggung... Trus dia bilang apa?"

__ADS_1


"Ya dia protes katanya walau dari Universitas ga terkenal kan yang penting kualitas dari lulusannya. Dia benar juga sih, kesannya aku arogan ya ngomong kayak gitu?"


"Ya jelaslah... Kamu pikir aja sendiri, coba kalau situasinya terbalik. Kamu yang jadi dia juga pasti akan tersinggung kan?"


"Iya sih. Tapi ekspresi mukanya lucu dan bikin gemas kalau lagi marah. Mungkin aku akan pertimbangkan untuk terima dia jadi sekretaris gantiin bu Astri."


"Kamu akan nerima dia karena dia keliatan ngegemesin kalau lagi marah? Come on, Dims, profesional dong kamu harus terima dia jangan dari tampilan fisik aja tapi karena dia mampu dan berkualitas"


"Iya enggak juga sih, Arya Kamandanu! Aku juga liat dari kualifikasi dia juga nanti!"


"Heh sejak kapan namaku ganti jadi Arya Kamandanu? Sembarangan, harus bikin bubur merah putih dulu tuh buat ganti nama!"


"Ya udah tinggal bikin bubur merah putih aja susah amat! Merahnya pakai stoberi, putihnya pake susu! Hahaha... "


"Mana bisa begitu? Ketauan nih ga pernah bantuin ibu ke dapur jadinya ga tau cara bikin bubur merah putih!"


"Bodo amat! Terserah aku dong!" Ledek Dimas sambil menjulurkan lidahnya.


Setelah itu mereka lari berkejaran dan bergulat seperti remaja belasan tahun.


Tak lama kemudian, bik Sima datang sambil membawa minuman dan makanan ringan.


"Loh, den Arya sama den Dimas lagi ngapain? Kok guling-gulingan di lantai kayak lagi latihan gulat?"


"Iya bik, kita mau jadi atlit gulat jadi harus sering-sering latihan kayak gini!" Ujar Arya sambil pura-pura memelintir lengan Dimas. Tapi Dimas langsung bisa melepaskan diri dan gantian dia yang memelintir kaki Arya.


"Udah ah den, bibik ngeri liatnya! Mending minum dulu keburu dingin nanti tehnya!"


"Iya Bik!"


Arya dan Dimas menjawab berbarengan setelah itu tertawa sambil meminum teh bikinan Bik Sima.


"Aku serius ya' kamu harus segera jujur sama Elena. Apalagi kalau nanti aku jadi terima Elena buat gantiin Bu Astri, kamu akan lebih sering ketemu sama dia"


"Iya, aku akan segera cari waktu untuk ngomong sama Elena, Dims.


" Harus dari mulut kamu sendiri ya', bukan dari aku apalagi orang lain. Sementara aku simpan rahasia kamu. Aku ga akan ngomong ke siapapun termasuk Tev, kecuali kalau kamu ga keberatan"


"Jangan kasih tau Tev dulu, Dims. Lagipula kayaknya dia emang belum kenal sama Elena. Aku berharap aku udah jujur sama Elena saat dia nanti ketemu Tev"

__ADS_1


"Iya, Mudah-mudahan aja begitu... "


__ADS_2