Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
S2. 92. Pengagum Misterius


__ADS_3

Elena datang ke kantor keesokan harinya dengan kondisi yang lebih baik dari kemarin.


Baru saja ia akan menghampiri meja kerjanya ketika ia mendapati sebuah buket bunga Edelweis di atas mejanya.


'Dari siapa ya? Apakah ini benar-benar untukku?' batin Elena. Ia mencari-cari petunjuk tentang si pemberi bunga. Kemudian ia menemukan kartu kecil terselip di antara bunga tersebut.


Tulisan di kartu itu hanya berbunyi :


Berbahagialah, Elena.


Penyebutan namanya di kartu itu menunjukkan bunga itu memang untuk dirinya. Tapi tidak ada nama pengirimnya sama sekali. Kata berbahagialah mengingatkan Elena pada tulisan Steven ketika memberi Elena rumah boneka Barbie. Tapi tak mungkin ini dari Steven karena ia telah tiada. Elena kemudian mencium bunga itu sambil membayangkan Steven. Tak sadar jika air mata mulai menetes di pipinya.


Arya masuk ke ruangan sebelum Cindy dan Redi datang. Hari ini ia tidak berangkat bersama Dimas. Tapi ia membawa mobil menuju kantor dan berangkat lebih pagi dari biasanya.


Arya mendapati Elena sedang memeluk bunga tersebut sambil menangis.


"Selamat pagi, Elena" Ujar Arya


"Eh... Selamat pagi, Pak Ksatria" Elena yang kaget melihat Arya langsung menghapus air matanya.


"Kamu baik-baik saja?"


"Iya, saya baik-baik saja"


"Bunga yang bagus. Dari siapa?"


"Entahlah. Tidak ada nama pengirimnya di sini" Elena menunjukkan kartu kecil dari bunga itu kepada Arya.


"Mmm... Ini di ketik, bukan ditulis tangan jadi agak susah mencari tahu identitas si pengirim."


"Iya memang. Tapi kata itu mengingatkan saya dengan Stevie"


"Iya sih, tapi kan tak mungkin dari Tev. Mungkin si pengirim hanya ingin menghiburmu dengan bunga ini"


"Berarti orang ini kenal saya ya? Tapi kenapa bunga edelweis? Bukannya bunga ini lambang keabadian?"


"Entahlah. Mungkin ia mencoba mengirim bunga ini karena ia belum tau apa bunga kesukaanmu"

__ADS_1


"Saya tak yakin akan ada bunga yang lain setelah ini."


"Ya sudah lebih baik di nikmati saja dulu. Aku masuk ke ruangan dulu ya"


"Iya, Pak"


Tak lama kemudian Cindy dan Redi masuk ruangan. Mereka langsung heboh ketika melihat bunga tersebut. Tapi mereka langsung terdiam ketika mendengar suara seseorang berdeham di belakang mereka.


"Eh Pak Dimas... Selamat pagi Pak..." Ujar Redi dengan gugup. Begitu juga dengan Cindy.


"Selamat pagi. Ada apa nih pagi-pagi kok sudah ramai?"


"Eeng... Itu Pak... Elena dapat kiriman bunga dari pengagum misterius" Ujar Redi lagi.


"Pengagum misterius?"


"Iya Pak"


Kemudian Dimas menghampiri meja Elena dan mengamati bunga tersebut. 'Bunga edelweis?' Dimas tampak berpikir ketika melihat bunga itu. Lalu Dimas melihat kartu yang ada di bunga itu. Melihat dari tulisan yang di ketik, sepertinya si pengirim memang tak ingin identitasnya di ketahui. Setelah itu Dimas tak berkomentar apa-apa dan masuk ke ruangannya. Itu membuat Elena, Cindy, dan Redi jadi melongo bingung.


**


'Apakah Arya ya yang mengirim bunga tersebut?' pikir Dimas. Tapi ketika mereka mendaki gunung hari Senin yang lalu, Arya tidak memetik bunga sama sekali, apalagi sampai di bawa pulang. Lalu Dimas berpikir untuk menanyakan langsung kepada Arya yang sekarang sedang memegang cangkir berisi teh sambil membaca berkas.


"Ya', kamu yang ngirim bunga itu ya ke Elena?"


Arya yang sedang minum teh ketika Dimas bertanya spontan jadi menyemburkan minumannya dan membuat kemejanya menjadi basah.


"Kamu kalau nanya liat-liat dulu kek, aku kan lagi minum! Jadi basah deh kemeja aku!"


Setelah itu Arya beranjak menuju lemari dimana Dimas menyimpan baju gantinya di sana. Kebetulan ukuran mereka sama, hanya Steven yang ukurannya sedikit lebih besar dari mereka.


"Kenapa kamu kaget sih pas aku nanya? Kamu mencurigakan deh" Tanya Dimas lagi.


"Kan tadi aku bilang aku pas lagi minum waktu kamu nanya jadi ya kaget. Lagian kan kamu tau sendiri kemarin waktu kita naik gunung aku ga metik bunga. Aku juga udah lama banget kan ga naik gunung lagi sejak Aisyah meninggal."


"Hehe... Iya sih. Ya udah aku nanya doang jangan marah dong" Ujar Dimas sambil menjawil dagu Arya yang belah untuk menggodanya.

__ADS_1


"Ish ngapain sih colek-colek dagu aku? Jijik tau!"


Dimas hanya menyeringai tanpa menjawab. Ia menang sengaja ingin membuat Arya kesal.


**


Sudah seminggu ini si pengagum misterius mengirim bunga untuk Elena. Setiap harinya, bunga yang di kirimkan berbeda-beda. Sepertinya si pengirim ingin tau jenis bunga favorit Elena. Setidaknya itu analisa dari Redi.


Setiap hari banyak karyawan dari bagian lain berdatangan. Mereka ikut penasaran dengan identitas si pengirim bunga yang masih misterius itu. Tapi tiap kali Dimas atau Arya datang, mereka jadi berhenti berkerumun dan bubar ke tempat kerja masing-masing.


Di hari Jum'at menjelang waktu sholat Jum'at, Banyu yang sempat melakukan pendekatan ke Elena mampir ke meja kerja Elena. Dimas dan Arya masih di dalam ruangan mereka.


"Hei, Elena. Nanti abis sholat Jum'at makan siang bareng yuk!" Ajak Banyu kepada Elena.


"Maaf mas, aku udah janji makan siang bareng mba Cindy sama bang Redi. Atau mas Banyu mau bareng kita aja? Gimana mba... Bang... Boleh ga mas Banyu ikutan?"


"Boleh-boleh aja sih" Ujar Cindy yang di setujui oleh Redi. Sebenarnya Redi kurang suka dengan Banyu. Makanya sewaktu Elena menolak Banyu dengan jujur Redi berkata kepada Elena kalau ia senang mendengarnya.


"Bunganya bagus. Kamu suka ya?" Tanya Banyu.


"Iya, aku suka mas" Ujar Elena yang sejak ia menerima bunga-bunga tersebut jadi membeli pot bunga untuk menaruh bunga-bunga tersebut agar tetap segar.


"Kelihatannya mahal ya, makanya kamu suka. Pantesan aja kamu nolak aku, kamu maunya sama orang yang suka kasih bunga mahal kayak gini sih" Ucapan Banyu tidak hanya terdengar oleh Cindy dan Redi, tapi juga terdengar oleh Dimas dan Arya yang ruangannya saat itu pintunya sedang terbuka. Tapi yang lebih dulu bereaksi malah Redi.


"Heh, maksud kamu apaan ngomong kayak gitu? Maksud kamu Elena matre gitu? Ngaca dong! Kelakuan kamu kayak gini, mana mau Elena sama orang kayak kamu!"


"Bang, udah bang jangan ribut. Ga enak sama Pak Dimas dan Pak Ksatria" Ujar Elena mencoba untuk menengahi. Lalu seperti dugaan mereka, Dimas dan Arya keluar dari ruangan.


"Ada apa ini? Kok saya dengar rame banget ya dari tadi?" Tanya Dimas.


"Ini Pak, Banyu ngeselin! Dia tadi menghina Elena!" Ujar Redi.


"Eh, ga gitu Pak! Saya cuma bercanda doang!" Banyu menanggapi dengan muka panik.


"Tak usah berkelit lagi, Banyu. Saya sama Pak Ksatria dengar kok tadi kamu ngomong apa" Ujar Dimas. Sementara Arya tak berkata apa-apa, ia hanya memandang Banyu dengan tatapannya yang tajam.


"Karena sekarang sudah mendekati waktu sholat, lebih baik kita sholat Jum'at dulu. Nanti setelah istirahat saya mau Redi sama Banyu ke ruangan saya. Kalian paham?"

__ADS_1


"Iya paham, Pak" Ujar Redi dan Banyu berbarengan.


Setelah itu Dimas dan Arya keluar ruangan untuk sholat Jum'at. Banyu ikut menyusul di belakangnya.


__ADS_2