Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 51 Keputusan Dimas


__ADS_3

Steven tiba lebih dahulu dari Dimas dan Arya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi bel di pintu apartemen Steven. Arya yang pertama kali datang, Dimas baru datang hampir 30 menit kemudian.


"Macet, Dims?" Tanya Steven.


"Lumayan. Tapi yang buat aku lama sampai sini adalah rasa gelisah aku"


"Kamu takut?" Tanya Steven lagi.


"Iya, pastinya aku takut"


"Itu wajar Dims. Apapun hasilnya, kamu tetap harus buat keputusan, kan?"


"Iya. Tapi keputusan aku soal pertunangan dengan Leticia sudah pasti, apapun hasil tes DNA Diva"


"Apa keputusan kamu, Dims?" Kali ini Arya yang bertanya.


"Dia ga suka sama aku, buat apa juga dipertahankan?" Ujar Dimas sambil mengangkat bahu.


"Kalau misalnya hasil tes DNA Diva negatif, memangnya kamu ga mau berjuang dulu untuk memenangkan hati Leticia, Dims?" Tanya Arya lagi.


"Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku, ya'. Pria yang dia sukai, seperti Steven misalnya. Steven yang mendengar namanya di sebut, langsung menanggapi.


" Aku? Tapi aku kan ga suka sama dia. Aku kan lagi usaha mau deketin Elena, kalian kan tau itu"


"Yah... Walaupun begitu, aku tetap akan membatalkan pertunangan antara aku dan Leticia. Ga adil rasanya kalau aku lanjutin"


Lalu Steven malah berbisik-bisik dengan Arya, tapi ucapannya masih terdengar oleh Dimas.


"Ini berarti Dimas beneran tobat, gitu? Kamu percaya, ya'?"


"Ngga" Jawab Arya dengan jujur. Setelah itu mereka sama-sama tertawa.


"Udah puas belum ketawain aku? Kalau udah lebih baik hasilnya di umumin deh sekarang."


"Sensi amat sih nih yang lagi galau" Ujar Steven.


Kemudian Steven memberikan hasil tes DNA Diva kepada Dimas sambil menjelaskan hasil yang tertera di atas kertas. Dimas tentu saja terkejut dengan hasilnya, begitu pula Arya yang sedari tadi hanya menyimak. Dimas kemudian membuka suara.


"Aku lagi mikirin hasil tes USG-nya. Apakah hasil tes USG yang Diva tunjukkan padaku bisa di palsukan ya?"


"Kalau itu aku kurang tau, Dims. Sekarang itu tugas kamu untuk cari tahu sendiri, Dims," Ujar Steven.

__ADS_1


"Oke deh. Aku berhutang banyak sama kamu, Tev. Terima kasih" Ujar Dimas dengan tulus.


"Itu bukan apa-apa Dims. Yang penting sekarang kebenaran udah terungkap." Ujar Steven.


**


Keesokan harinya, Dimas menghubungi Diva. Ia mengatakan akan datang ke apartemen Diva untuk bicara. Diva senang sekali mendengarnya. Lalu ia bersiap-siap untuk memilih pakaian terbaiknya. Tapi akhirnya ia memilih lingerie yang ia tutupi dengan jubah panjang tapi tipis menerawang.


Beberapa waktu kemudian, bel pintu apartemen Diva berbunyi. Dengan penuh semangat, Diva membuka pintu untuk menyambut kedatangan Dimas.


"Halo sayang... " Diva langsung memeluk dan mencium pipi Dimas yang heran melihat lingerie yang di pakai oleh Diva.


"Halo Diva... Maaf aku datang agak mendadak"


"Ga apa-apa kok sayang... Kamu boleh datang kapan aja kamu suka. Pintu apartemen aku selalu terbuka untuk kamu" Diva kembali merapatkan tumbuhnya ke tubuh Dimas, membuat Dimas agak mundur untuk menghindari Diva.


"Kamu kenapa sih ga mau aku deketin? Dede bayi kan kangen sama kamu..." Diva mengalungkan tangannya ke leher Dimas, tapi Dimas melepas tangan Diva.


"Aku mau lihat hasil USG bayi kita, boleh?"


"Kan waktu itu udah liat, kenapa kamu mau lihat lagi?" Diva memandang Dimas dengan curiga.


"Ya ga apa-apa, aku kan papanya, pengen liat lagi aja anak kita. Emang ga boleh?"


Setelah mengambil hasil USG dari kamarnya, Diva langsung menyerahkannya kepada Dimas. Lalu Dimas melihat hasil itu dengan mengarahkan lebih dekat ke lampu agar lebih jelas.


"Apa yang ingin kamu lihat, sayang? Itu masih hasil yang sama seperti yang pertama kali aku tunjukkan ke kamu"


"Benarkah? Lalu kenapa di sini tertulis tahun 2021 ya? Itu dua tahun yang lalu, kan?"


Diva lalu langsung terduduk dengan lemas.


"Dua tahun yang lalu aku memang pernah benar-benar hamil" Ujar Diva sambil menitikan air mata.


"Apa kamu tau siapa ayah dari anak yang kamu kandung?"


Diva hanya menganggukan kepala karena ia tak sanggup untuk menjawabnya.


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Orang itu menolak untuk bertanggung jawab" Diva kembali menangis, kali ini lebih keras.

__ADS_1


"Lalu dimana anak kamu sekarang?"


"Sudah meninggal. Aku keguguran" Diva kembali menangis terisak.


"Aku turut menyesal, Diva."


Kemudian Diva mengulurkan tangannya untuk memeluk Dimas. Selama beberapa waktu, Dimas masih membiarkan Diva memeluknya. Setelah Diva tenang, Dimas kembali berbicara.


"Aku hanya punya satu pertanyaan untukmu, Diva. Kenapa kau melakukan ini padaku?"


"Karena aku cinta padamu"


"Apakah kau juga mengatakan itu kepada para pelangganmu?" Ujar Dimas dengan suara dingin.


"Da... Darimana kau tahu tentang itu? Apakah kau menyelidiki aku?"


"Bukan aku, tapi Steven. Salah satu karyawannya adalah mantan pelanggan kamu, Diva. Sang pel*cur kelas atas." Ujar Dimas sambil tersenyum sinis ke arah Diva.


"Apakah kau marah kepadaku?"


"Lebih tepatnya aku kecewa padamu, Diva. Teganya kau lakukan ini kepadaku!"


"Aku... Aku hanya ingin hidup lebih baik! Apakah aku salah?"


"Dengan cara memanfaatkan aku? Teganya kau! Kamu pikir kamu bisa hidup lebih baik dengan mengambil jalan pintas seperti ini? Kau salah besar, Diva!"


"Aku hanya lelah terus menerus hidup susah! Kau tak tahu bagaimana rasanya karena kau sudah kaya sejak lahir!"


"Aku juga bekerja, Diva, sama seperti orang lain! Walaupun aku mewarisi kekayaan orang tuaku tak berarti aku bisa seenaknya menggunakan harta mereka!"


"Maafkan aku, aku pikir... "


"Tentu saja kau hanya berpikir hidupku enak dan bergelimang harta. Tapi sejujurnya, aku juga ingin menikah dengan perempuan baik-baik, bukan dengan perempuan yang hanya ingin memanfaatkan aku karena dia pikir aku kaya raya"


"Tapi aku mencintaimu, Dimas... " Ujar Diva sambil memohon kepada Dimas.


"Jika kau benar-benar mencintaiku, kau takkan melakukan ini padaku"


"Tapi aku tak punya pilihan lain! Tolong terimalah aku, aku janji akan membahagiakanmu dan memuaskan kamu setiap malam!"


"Carilah sugar daddy yang bisa kau bohongi dan kau manfaatkan sesukamu. Kita sudah selesai, Diva. Selamat tinggal"

__ADS_1


"Dimas, tunggu! Jangan tinggalkan aku seperti ini!" Diva masih terus memohon, tapi Dimas sudah tak peduli lagi. Kemudian Dimas keluar dari apartemen Diva dengan perasaan lega. Semua beban yang selama ini terasa berat menjadi ringan dan lama kelamaan menghilang dari dirinya.


Lalu Dimas menghubungi Arya dan Steven untuk memberitahu tentang dirinya yang sudah lepas dari jeratan Diva. Setelah mengakhiri percakapan dengan Arya dan Steven, Dimas menutup telepon dan memutuskan untuk pergi ke pantai untuk melepas penat. Dia berteriak di antara suara ombak yang bergulung di pantai. Setelah itu Dimas pulang ke rumah dengan hati lega.


__ADS_2