Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 64 Steven Sakit Keras


__ADS_3

Sylvia selalu kesal tiap kali menghubungi Steven, karena ia jarang sekali langsung mengangkat teleponnya. Setelah mencoba menelpon sebanyak lima kali, akhirnya Sylvia menyerah.


Kemudian Sylvia memutuskan untuk mengirim pesan chat kepada Steven.


"Steve, besok tolong ke rumah sakit. Ini sangat penting. Aku tunggu"


Steven akhirnya membaca pesan Sylvia di malam hari setelah pulang kerja. Pekerjaannya begitu banyak selama seminggu ini sampai menyita waktu dan membuatnya tidak dapat mengetahui kabar dari dua sahabatnya.


Bahkan ketika Arya pulang dari rumah sakit pun Steven tidak sempat untuk ikut menjemput Arya walau sudah di wakili oleh Dimas dan keluarga Arya. Tapi setidaknya Steven pernah menemani Arya di rumah sakit walau hanya sekali.


Steven kemudian membalas pesan Sylvia dan berjanji untuk menyempatkan dirinya untuk datang ke rumah sakit besok.


**


Sylvia yakin Steven kemungkinan hari ini akan datang terlambat. Walau sebenarnya Steven adalah tipe orang yang selalu datang tepat waktu, tapi sepertinya akhir-akhir ini ia tidak bisa melakukannya karena kesibukannya yang luar biasa.


Sylvia bisa saja menyampaikan hasil tes Steven via chat atau telepon, tapi ini terlalu penting dan harus di bicarakan secara langsung, karena Sylvia harus menjelaskan beberapa hal.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Sylvia sedang membereskan beberapa berkas sebelum pulang. Ia sudah bekerja sejak pagi sambil seharian menunggu Steven datang tapi tak kunjung muncul juga. Ia baru saja hendak keluar ruangan ketika Steven akhirnya tiba untuk menemuinya.


"Maaf Syl, kamu pasti marah karena aku datang sangat terlambat."


Sylvia tak berkata apa-apa, tapi ia tetap mempersilahkan Steven untuk masuk ke ruangannya. Kemudian ia mengambil berkas Steven dan menyerahkan kepadanya.


"Ini hasil tes kamu"


Mata Steven berkaca setelah melihat hasil tesnya.


"Jadi aku... "


"Ya, Steve"


"Aku pikir hanya batuk biasa, tapi tak sembuh-sembuh"


"Kamu sudah benar-benar berhenti merokok kan, Steve?"


"Iya Syl, sejak batuk aku mengeluarkan darah seperti yang aku ceritakan ke kamu sebelum tes, aku sudah berhenti merokok, tapi anehnya nafsu makan aku malah jadi menurun"


"Itu salah satu gejalanya, Steve"

__ADS_1


Steven memijit pelipisnya, air matanya hampir jatuh ke pipinya.


"Apakah aku akan mati dalam waktu dekat, Syl?"


"Tidak, Steve. Masih stadium 2 dan tumornya masih berukuran sekitar 5 cm. Kamu masih bisa sembuh tapi kamu harus nurut sama aku. Bisa kan, Steve? Harus bisa, aku memaksa. Kamu harus semangat karena aku ingin kamu sembuh"


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"


"Pertama dan paling penting adalah kamu harus bisa meluangkan waktu untuk pengobatan kamu, ga boleh telat apalagi mangkir. Aku tahu pekerjaan kamu penting, tapi nomor satu adalah kesehatan kamu karena kamu ga mungkin bisa kerja kalau sakit, kan?"


"Aku rasa aku harus melakukan beberapa penyesuaian dulu, Syl. Mungkin sudah waktunya aku menyerahkan perusahaan kepada Aldo."


"Jangan menyerah, Steve. Nanti kalau kamu sudah sehat akan ada jalan untuk kamu membereskan segala kekacauan yang ada di perusahaan kamu"


Sylvia cukup paham kondisi perusahaan keluarga Steven, makanya terkadang ia bisa memberikan saran kepada Steven.


"Kamu beruntung masih bisa tahu di stadium awal, Steve jadi aku bisa bilang kesempatan kamu untuk sembuh total bisa di atas 80 persen kalau kamu disiplin untuk berobat secara rutin"


"Oke, aku akan ikuti saran kamu, Syl. Jadi apa aja metode pengobatan yang harus aku lakukan?"


"Nantinya akan ada beberapa metode, Steve. Pengobatan bisa melalui operasi untuk mengangkat tumor di paru-paru kamu, lalu ada juga metode Terapi radiasi, dan Kemoterapi. Tapi yang pertama kamu harus di biopsi dulu"


"Apa itu biopsi, Syl?"


Steven langsung mengelus dadanya sambil membayangkan sayatan yang nantinya akan membekas walau ukurannya kecil.


"Jangan khawatir, Steve. Kamu akan baik-baik saja asal kamu tetap optimis dan semangat menghadapinya"


"Setelah itu apa, Syl?"


"Setelah itu tumornya akan di angkat dengan cara di operasi"


"Lalu kemoterapi?"


"Iya, Steve. Tapi itu masih lama. Setelah operasi kan di observasi dulu"


"Kalau aku ga mau di kemo gimana? Aku ga mau rambutku jadi rontok trus jadi botak. Nanti aku susah cari pacar"


"Ga usah khawatir, Steve. Nanti kan juga bisa tumbuh lagi rambutnya. Lagipula kan kamu ga jelek-jelek amat kalau botak"

__ADS_1


Steven hanya cemberut mendengar penjelasan dari Sylvia.


"Jadi hidupku sampai berapa lama lagi, Syl?"


"Kalau pengobatan berjalan lancar dan kankernya ga muncul lagi sampai ke akar-akarnya, kemungkinan kamu akan panjang umur seperti orang lain, Steve."


"Kamu ngomong gitu bukan untuk sekedar membuat aku merasa lebih baik, kan?"


"Ngga dong, Steve. Aku kan selalu jujur sama kamu, termasuk soal perasaan aku yang sayangnya kamu tolak sampai buat aku patah hati"


"Hahaha... Lebay kamu, Syl. Ini konsultasinya udah selesai belum? Kalau udah aku mau pulang"


"Kamu nih udah datengnya telat, sekarang malah buru-buru mau pulang" Sylvia benar-benar di buat kesal oleh Steven. Pasiennya yang satu ini memang juara kalau soal urusan membangkang.


"Aku capek banget soalnya. Oh iya, satu lagi. Tolong jangan kasih tau siapa-siapa lagi ya soal penyakit aku ini. Nanti biar aku aja yang beritahu mereka"


"Termasuk 2 orang sahabat kamu?"


"Iya, termasuk mereka juga"


"Baiklah, Steve. Aku ga akan beritahu mereka. Tapi sebenarnya tanpa kamu beritahu pun cepat atau lambat mereka akan tahu juga, Steve"


"Iya, aku tahu. Aku hanya perlu waktu untuk memberitahu mereka. Ini bukan hal yang mudah bagi aku"


"Be strong, Steve. Aku yakin kamu bisa sembuh total"


" Thanks, Syl. Kamu bawa mobil?"


"Iya, Steve"


"Oke, kalau begitu aku pulang ya. Nanti kita saling berkabar lagi"


"Oke."


"Bye, Syl"


"Bye, Steve"


Setelah itu Steven pulang ke rumah dengan pikiran kalut dan sedih. Tapi ia harus mulai menyusun rencana demi masa depannya yang ia sendiri tak tahu sampai kapan.

__ADS_1


Steven juga memikirkan kedua adik tirinya, yaitu Aldo dan Emily. Sepertinya mau tak mau ia harus menyerahkan jabatannya kepada Aldo sebagai CEO di kantor pusat, sambil berharap semoga suatu hari nanti Aldo akan berubah menjadi orang yang lebih baik dan berhenti membuat kekacauan.


Lalu bagaimana dengan Emily? Siapa yang akan melindunginya nanti jika ia sudah tiada? Steven lalu menepikan mobilnya dari jalan raya dan mulai menangis dengan tersedu-sedu.


__ADS_2