
Hari sudah malam ketika Elena mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ketika ia membuka pintu, ternyata kakek yang mengetuk pintu.
"Aku kira nenek, ternyata kakek"
"Memang Elena maunya nenek ya yang mengetuk pintu?"
"Ga juga sih, kek"
"Nenek kamu lagi buat minum buat tamu"
"Ooo... "
"Gimana? Udah enakan belum sekarang?"
"Alhamdulillah udah agak enakan, kek"
"Apanya yang sudah enakan? Badan kamu atau hati kamu?"
Elena membelalakan matanya karena kaget. Kakeknya sepertinya bisa membaca isi pikirannya. Setelah itu Elena malah menangis tersedu.
"Kakeeek... Huhuhu... "
"Lena, kamu sudah tinggal sama kakek dan nenek sejak lahir, jadi kakek tau kalau kamu lagi senang ataupun sedih seperti ini. Sudah... Sudah... Tarik nafas dulu baru pelan-pelan berhenti nangisnya."
Elena melakukan apa yang kakek suruh, setelah itu ia sudah agak tenang.
"Tadi kakek bilang nenek lagi buat minum untuk tamu. Tamunya siapa, kek?"
"Tamunya kamu, Lena"
"Tamu aku? Siapa, kek? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki"
Elena langsung menebak kalau tamunya adalah Arya.
"Aku ga mau ketemu sama kak Arya, kek! Bilang aja aku lagi tidur karena ga enak badan!"
"Kalau Arya kakek tau karena pernah ketemu. Tapi ini bukan Arya, kakek baru ketemu sekarang, nenek juga"
"Kalau begitu siapa kek tamunya?" Tanya Elena penasaran."
"Kamu ke depan aja biar tau siapa orangnya"
"Baik, kek. Elena cuci muka dulu nanti baru keluar"
"Nah gitu dong. Ya sudah nanti kakek bilangin ke tamunya. Jangan lama-lama ya cuci mukanya"
"Iya, kek"
**
Setelah mencuci muka, Elena langsung beranjak ke teras dimana tamunya berada. Tamunya sedang memandang keluar dan berdiri membelakangi Elena. Ia memakai kemeja putih yang di gulung sampai lengan. Jasnya tersampir di bangku.
Seolah tahu sedang diamati, pria itu menoleh ke arah Elena, sehingga Elena jadi tau siapa tamunya.
__ADS_1
"Pak Dimas?"
"Ini sudah lewat jam kantor, Elena. Jadi saya udah ga jadi bapak-bapak lagi, kecuali kalau saya udah nikah dan punya anak" Ujar Dimas sambil tersenyum.
Elena pun ikut tersenyum mendengar ucapan Dimas.
"Silahkan duduk Pak... Eh mas!"
"Ya, Terima kasih. Gimana sekarang? Udah agak enakan belum?"
"Sedikit, mas"
"Karena Arya adalah sahabat saya, apakah kamu marah juga sama saya?"
"Tergantung"
"Tergantung apa?"
"Iya, tergantung apakah mas juga sudah tau kalau kak Arya memang membohongi saya dan sengaja menutupi karena dia sahabat mas Dimas"
"Tadinya saya tidak tahu, Elena. Saya baru tahu waktu saya interview kamu. Setelah itu malamnya saya langsung ke rumah Arya. Tentu saja saya marah. Walau dia sahabat saya, saya tidak bisa membenarkan kalau ia sedang berbuat salah, begitu juga ia kepada saya."
Dimas menghela nafas setelah itu melanjutkan bicara.
"Saya meminta dia untuk segera jujur sama kamu. Tapi sayangnya, keesokan harinya ia harus ke Singapura mewakili saya menangani masalah di kantor cabang Singapura. Arya baru kembali di malam pesta ulang tahun eyang, itu pun dia datang terlambat bersama Steven."
"Dia bilang dia pernah beberapa kali ingin bicara denganmu, tapi waktunya memang tidak pernah pas."
Elena lalu berfikir, ketika di pesta ulang tahun eyang, Arya sempat bilang mau bicara padanya sebelum mas Dimas dan Eyang datang. Apakah saat itu Arya ingin jujur padanya ya?
"Elena, apakah saya boleh menanyakan sesuatu kepadamu?"
"Apakah kamu masih mau bekerja untuk saya?"
"Iya masih, mas. Saya akan bersikap profesional di tempat kerja. Saya juga mau minta maaf atas sikap saya hari ini"
"Tidak apa-apa. Saya mengerti kok. Kalau kamu masih mau bekerja untuk saya, saran saya sementara ini kamu istirahat dulu beberapa hari untuk menenangkan diri. Urusan pekerjaan sementara di handle oleh mba Cindy dan Redi."
"Terima kasih, mas. Maaf saya sudah banyak merepotkan... "
"Iya, ga apa-apa Elena. Kalau boleh saya ingin memberi satu saran lagi untuk kamu"
"Saran apa, Pak?"
"Tolong kasih Arya kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke kamu. Setelah itu terserah kamu mau maafkan dia atau tidak. Nanti mungkin dia akan menanyakan satu hal kepadamu jika kamu memberikan kesempatan padanya untuk bicara"
"Memangnya dia akan menanyakan apa, mas?"
"Dia mungkin akan bertanya apakah kamu mau dia tetap menjadi wakil direktur di perusahaan atau tidak. Apapun jawabanmu saya yakin dia akan menurutinya."
"Benarkah?"
"Iya"
"Saya memang marah sama dia, tapi saya ga mau dia sampai berhenti sebagai wakil direktur. Saya kan bukan siapa-siapa, masa sepertinya jadi saya yang menentukan masa depan dia."
__ADS_1
"Iya, dia memang seperti itu, Elena. Selalu mengalah. Kadang sikapnya itu mambuat saya dan Tev seolah-olah seperti orang paling egois sedunia" Ujar Dimas sambil tersenyum masam.
"Tev itu panggilan Pak Steven ya?"
"Iya. Apakah kamu juga masih marah dengan Steven, Elena?"
"Entahlah, saya tidak tahu, mas."
"Sepertinya kamu masih bingung ya? Ya sudah saya juga ga bisa lama-lama karena sudah malam. Ga enak sama nenek dan kakek kamu nanti ga bisa istirahat."
"Iya mas, Terima kasih ya masih mau kasih saya kesempatan untuk bekerja di kantor mas Dimas walau saya sudah buat ulah tadi pagi."
"Iya, saya juga berharap kamu tidak mengundurkan diri, Elena. Karena kamu juga tahu sendiri kan cari sekretaris baru lagi sulit dan pastinya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pekerjaan juga sedang banyak-banyaknya, di tambah kasus di kantor cabang Singapura."
" Pasti berat ya mas menjalani itu semua walau orang-orang taunya selama ini kalian hidup enak."
"Semua ada waktunya, Elena. Kita semua, maksud aku kami bertiga pernah di tahap hidup hanya untuk bersenang-senang, tetapi semuanya berubah ketika kami harus memikul tanggung jawab dari keluarga kami. Steven bahkan hampir tidak punya waktu untuk kesenangan pribadi. Dia terlalu sibuk mendedikasikan dirinya untuk perusahaan keluarganya. Jadi tolong maafkan bila selama ini sikapnya kaku dan kasar. Ia memang kurang nyaman dengan perempuan"
Mas Dimas malah sebaliknya, ia sepertinya yang paling ramah dan tahu cara menghadapi wanita, pikir Elena dalam hati.
"Maaf kalau boleh tahu apakah bapaknya kak Arya juga punya perusahaan seperti mas Dimas dan Steven?"
Jika Elena masih ingin tahu tentang Arya, berarti Elena masih peduli dengan Arya, pikir Dimas.
"Iya, tentu saja ayahnya punya perusahaan sendiri dan sangat berharap Arya menggantikan ayahnya di perusahaan, tetapi kenapa dia malah bekerja di Loekito Corp? Jawabannya ada sama Arya. Nanti dia yang akan jelaskan semuanya ke kamu."
"Iya, mas. Oh iya, di minum dulu mas tehnya. Maaf cuma seadanya saja."
"Seadanya gimana, Elena? Ini ada pisang goreng juga. Berarti ga seadanya dong" Ujar Dimas sambil tersenyum.
"Eh... Maksud saya ga banyak gitu, cuma dua macam aja ga banyak pilihan lain seperti makan Prasmanan."
"Ga apa-apa, Elena. Tenang aja, saya juga. Suka kok sama pisang goreng"
Setelah itu Dimas mengambil pisang goreng buatan nenek. Tapi bukannya di makan, dia malah memandangi pisang goreng sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Mas... Mas Dimas ga apa-apa kan? Kok pisangnya bukannya di makan malah di senyumin?"
"Eh... Hehehe... Maaf Elena, saya jadi ingat dulu saya, Steven dan Arya pernah naik gunung. Pas sampai puncak gunung ketemu warung kopi yang menyajikan pisang goreng. Waktu itu kita lagi lapar banget jadi liat pisang goreng udah kayak makanan mewah aja... Hehehe... "
Elena ikut tertawa membayangkan peristiwa yang pernah terjadi dengan mereka. Ternyata mereka tidak selalu ke tempat-tempat mewah untuk bersenang-senang.
"Persahabatan kalian sepertinya punya kisah yang luar biasa ya, mas"
"Iya pastinya. Arya sama Steven bagi saya sebenarnya bukan sahabat lagi tapi sudah seperti saudara kandung. Adikku Lili malah sempat cemburu, katanya saya udah ga punya waktu lagi buat dia"
"Pasti senang ya punya kakak atau adik kandung. Aku anak tunggal kadang suka merasa kesepian"
"Kamu sama dengan Steven yang anak tunggal. Tapi dia sekarang punya dua saudara tiri sejak papinya menikah lagi"
Elena hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Maaf sepertinya saya udah kelamaan disini dan udah malam juga, jadi saya pamit ya."
"Iya mas, Terima kasih ya udah kesini. Sebentar Elena panggilkan kakek dan nenek dulu"
__ADS_1
Tapi baru saja Elena mau membuka pintu, kakek dan nenek sudah ada di dekat situ. Elena curiga jangan-jangan dari tadi kakek dan nenek menguping pembicaraan Dimas dan Elena.
Setelah itu Dimas pamit pulang kepada kakek dan nenek.