
Steven masih mengenang perjalanannya ke Bali walau sekarang ia sudah ada di rumah. Sebenarnya sewaktu di pesawat arah pulang ke Jakarta, Steven hanya ingin menikmati waktu berdua dengan Elena. Tapi untuk menghindari kecurigaan Celine, jadi pengaturan tempat duduk berubah lagi. Celine mendapatkan keinginannya untuk duduk dekat Steven di bangku untuk tiga orang.
Posisi dekat jendela di tempati oleh Elena, lalu Steven di tengah, dan Celine di pinggir dekat lorong. Untuk membantu Elena mengatasi aerophobia, akhirnya Steven memegang tangan Elena secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh Celine.
Steven di jemput oleh Pak Sofyan dan kali ini Elena tidak pulang bersama Dimas seperti waktu berangkat karena Steven yang ingin mengantar Elena pulang dan bersama Celine juga karena rumah mereka berdekatan. Steven sebenarnya ingin punya privasi untuk berdua saja dengan Elena, tapi karena ada Celine jadi ia harus bersabar dan memilih lain waktu untuk bisa berdua lagi dengan Elena.
**
Saat ini Steven sedang berada di rumah papinya untuk berdiskusi tentang pengobatan Steven. Hans Simmons - Papi Steven dan Steven sendiri sudah berada di ruangan itu. Mereka tinggal menunggu kedatangan Aldo.
Ibu tiri Steven yang bernama Meilinda dan Emily sudah mengetahui tentang penyakit Steven. Mereka tentu saja sedih, tapi yang paling terpukul adalah Emily. Adik tiri Steven itu yang karakternya memang introvert setelah mengetahui tentang penyakit Steven menjadi tambah tertutup. Seharian ia hanya mengurung diri di kamar. Bahkan setiap kali seluruh keluarga bergabung di meja makan untuk makan bersama pun Emily jarang bergabung.
Steven baru saja akan mengecek keadaan Emily ketika Aldo yang sedari tadi ditunggu akhirnya datang juga. Steven jadi urung ke kamar Emily. Karena seluruh keluarga telah mengetahui penyakit Steven, maka kali ini mereka akan membahas tentang peran Steven di perusahaan.
"Akhirnya kamu datang juga, do" Ujar Steven.
"Sorry, jalanan macet tadi"
"Oke, yang penting sekarang kamu datang. Ya udah, kita langsung mulai aja ya. Silahkan, pi"
"Aldo, besok Steve sudah mulai masuk tahap awal pengobatan, yaitu biopsi. Kemungkinan hasil biopsi baru ada seminggu kemudian, jadi pasca biopsi walau tak seberat operasi tetapi tetap menyita waktu. Jadi selama pengobatan Steve, posisi CEO di perusahaan akan di gantikan oleh kamu, Aldo, sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan. Jadi Papi dan Steve berharap kamu bisa menjalani tugasmu ' baik."
Dalam hati Aldo tersenyum. Akhirnya yang ia inginkan bisa tercapai juga. Tapi ia harus tetap memasang muka berduka agar Steven dan papi percaya padanya.
"Lalu perusahaan yang di Surabaya gimana, pi?" Tanya Aldo seolah-olah ia peduli.
"Soal itu biar nanti papi yang urus. Kamu tak usah khawatir. Kamu fokus di kantor pusat aja dan jangan lupa untuk mendoakan kesembuhan Steve."
"Iya, pi"
__ADS_1
Steven yang dari tadi hanya diam saja mengamati ekspresi Aldo. Ia masih belum bisa mempercayai Aldo.
"Kamu ada lagi yang mau di tambahkan Steve?"
"Tidak ada, pi"
"Baik, kalau begitu kamu bisa ke kamar untuk istirahat"
"Baik, pi"
Setelah memastikan Aldo sudah pergi, Steven mengungkapkan rencananya jika nanti keadaan tidak memungkinkan untuk ia sembuh. Mereka terus menerus berdebat. Hans tidak suka beberapa rencana Steven karena ia masih yakin kalau Steven akan sembuh dari penyakitnya. Tapi yang paling membuat Papi Steven meradang adalah ketika Steven membicarakan tentang idenya tentang kremasi bersama Jade anjing kesayangannya bila ia tak berumur panjang.
"Kremasi bersama Jade? Nonsense! Papi heran, kok bisanya kamu berfikiran seperti itu? Papi tau kamu sangat sayang sama Jade, tapi tak seperti ini juga, Steve!"
"Papi tenang dulu, aku bisa jelaskan"
"Nanti saja kamu jelaskan. Dada papi sakit"
"Ayo pi, aku antar ke kamar lalu minum obat"!
Setelah itu papi Steven malah menangis. Ia hanya heran dirinya yang sakit malah di antar oleh anaknya yang juga sedang sakit.
**
Keesokan harinya, Steven menjalani biopsi. Operasi kecil untuk mengambil jaringan dari paru-paru Steven itu tidak berlangsung lama. Papi Steven ikut mengantarkan Steven ke rumah sakit.
Sylvia keluar dari ruangan operasi dan memberitahu Hans kalau biopsi Steven berjalan dengan lancar. Saat ini Steven masih belum sadar karena masih dalam pengaruh obat bius.
Hasil biopsi Steven baru akan keluar satu minggu lagi. Nantinya akan di bacakan oleh Sylvia. Hasil tersebut nantinya akan menentukan langkah pengobatan Steven selanjutnya.
__ADS_1
Setelah di biopsi, Steven di rawat hanya dalam satu hari untuk memulihkan fisiknya. Jika sudah membaik, maka Steven di Perbolehkan untuk pulang.
**
Dimas, Arya dan Elena datang setelah pulang dari kerja untuk menjenguk Steven. Setelah mengetahui Steven ada yang menemani, papi Steven kemudian pulang ke rumah.
Setelah papi Steven pulang, Steven meminta izin kepada kedua sahabatnya untuk meninggalkan Elena dan dirinya berdua.
Dimas dan Arya menyanggupi. Mereka kemudian memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit.
Setelah memastikan Dimas dan Arya sudah keluar ruangan, Steven mengambil tangan Elena dan menggenggamnya.
"Aku agak minder sebenarnya, karena sayatan di dadaku nanti mungkin agak kurang enak untuk di lihat. Sepertinya aku sudah tidak bisa pamer dada lagi kepadamu, Elena. Kalau nanti aku berencana untuk pergi berenang bersamamu, mungkin aku tak bisa membanggakan bentuk tubuhku lagi padamu."
"Koko... Seharusnya koko tidak memikirkan itu. Yang penting koko pikirkan adalah kesehatan koko. Jadi jangan berfikir macam-macam lagi. Oke?"
"Iya, baiklah kalau kamu berkata begitu"
"Nah gitu dong! Pokoknya koko harus terus semangat, jangan menyerah. Pastinya ga akan mudah, tapi aku yakin koko bisa"
"Wah, Kata-kata penyemangat juga. Seharusnya kamu jadi motivator, Elena"
"Ah, koko bisa aja nih" Ujar Elena sambil menunduk malu.
Tak lama kemudian, Dimas dan Arya kembali dengan membawakan makanan untuk mereka bertiga. Steven sudah makan lebih dahulu sebelumnya dengan di suapi oleh Elena, tapi hanya beberapa suap karena Steven mulai merasakan mual.
Papi Steven menghubungi Dimas untuk menanyakan apakah Steven sudah siuman atau belum. Lalu Dimas menjawab kalau Steven sudah siuman dan sudah makan malam, walau hanya sedikit. Setelah memastikan Steven dalam keadaan baik, papi Steven pun mengakhiri percakapan.
Dimas dan Arya memutuskan untuk menemani Steven malam ini. Setelah Dimas, Arya, dan Elena selesai makan malam, Arya lalu mengantarkan Elena untuk pulang.
__ADS_1
Setelah Arya telah mengantarkan Elena pulang dan pamit kepada kakek dan nenek yang ternyata belum tidur, Arya lalu kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Steven bersama Dimas. Besok pagi Dimas dan Arya rencananya akan berangkat kerja dari rumah sakit tidak di waktu bersamaan agar Steven ada yang menemani sampai waktunya pulang dan di jemput oleh Pak Sofyan, supir pribadi Steven.