Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 54 Unexpected Things at KL (1)


__ADS_3

Steven dan Emily akhirnya tiba di cafe Sam dengan Redi yang tiba tak lama kemudian. Steven memilih cafe Sam agar Emily dan Redi bisa leluasa berbicara di ruangan VIP di cafe Sam dengan Steven tetap mengawasi melalui kamera yang terhubung dengan ruangan pribadi Sam.


Seperti yang Redi janjikan, ia tak memancing perdebatan dengan Emily. Mereka berdua benar-benar saling bicara. Setelah Redi akhirnya paham, ia akhirnya meminta maaf kepada Emily. Hubungan mereka sedikit membaik, tapi tetap tidak bisa kembali seperti dulu sebagai sepasang kekasih.


Karena masih trauma, Emily memutuskan untuk tidak membuka hatinya kepada pria manapun. Walaupun pemikiran seperti itu tidak di setujui oleh Steven, tapi Steven harus tetap menghargai keinginan Emily sambil berharap cara pandang Emily suatu hari nanti bisa berubah.


**


Keesokan harinya, sebelum berangkat kerja menuju kantornya di Simmons Corp, Steven menyempatkan diri untuk mampir ke kantor Dimas. Steven tentu saja menceritakan tentang Redi yang bertemu dengan Emily kemarin. Dimas tentu saja kaget, tapi ia takkan melakukan sesuatu tentang itu karena Redi sudah berdamai dengan Emily, jadi ia menganggap kalau itu sudah selesai.


Dimas sebenarnya sibuk sekali hari ini. Selain ia harus mengejar ketertinggalan pekerjaannya akibat kasus Diva, besok ia harus melakukan perjalanan dinas ke Kuala Lumpur, Malaysia. Dan minggu depan ia harus berangkat lagi ke Sydney untuk observasi pembukaan kantor cabang baru di Sydney.


Arya sedang berada di luar kantor bersama Redi untuk meeting di perusahaan lain. Kemungkinan meetingnya juga baru selesai menjelang sore nanti. Jadi nanti setelah meeting ia akan langsung pulang ke rumah, tidak kembali ke Loekito Corp lagi. Begitu pula dengan Redi.


**


Arya begitu lelah hari ini. Pulang dari kantor, ia langsung merebahkan dirinya di kasur tanpa membuka baju kerjanya. Baru saja ia akan tidur, terdengar ketukan pintu di luar.


"Masuk, pintunya ga di kunci!" Biasanya ia membukakan pintu, tapi kali ini ia benar-benar tak punya tenaga untuk bangun. Ternyata yang mengetuk pintunya tadi adalah ibunya.


"Ibu maaf, aku begitu lelah sampai ga bukakan pintu."


"Tapi kamu ga apa-apa kan, nak cuma capek aja?"


"Iya ga apa-apa kok bu, cuma capek aja" Ujar Arya sambil tersenyum untuk meyakinkan ibunya.


"Ponsel kamu mati ya? Dimas telepon ibu nih, katanya ada perlu penting sama kamu."


Arya langsung memeriksa ponselnya. Benar, ternyata ponselnya memang mati.


"Iya mati bu, aku lupa charge baterai tadi. Aku pinjam ponsel ibu dulu ya buat telepon Dimas."


"Ya udah nih pakai aja. Habis telepon kamu segera ganti baju trus makan ya, sayang"


"Iya bu" Arya mencium pipi ibunya setelah itu ia mulai menelepon Dimas.


"Halo, Dims"


"Halo ya'. Ponsel kamu mati ya?"


"Iya, aku capek banget tadi sampai ga sempat cek HP."


"Duh, aku jadi ga enak nih karena aku mau minta tolong buat besok"

__ADS_1


"Minta tolong apa, Dims?"


"Besok aku harus ke kantor imigrasi untuk urus dokumen ke Sydney sama ke kedubes Aussie untuk urus visa. Kamu tau sendiri kan kalau itu ga bisa di wakilkan"


"Iya juga sih. Penerbangan ke KL jam berapa?"


"Pagi sih jam 8. Aku tau ini mendadak banget, tapi aku ga punya pilihan lain. Elena juga belum tau soal ini, jadi nanti aku minta tolong untuk sampaikan ke dia kalau aku minta maaf karena berhalangan hadir."


"Aku kan harus pelajari berkas meeting, Dims"


"Iya, aku tau. Berkasnya ada di aku. Besok pak Dharma jemput kamu ke bandara sambil nyerahin berkasnya ke kamu. Aku juga udah booking tiket buat kamu besok"


"Oke deh"


"Makasih ya, ya'. Aku berhutang nih sama kamu"


"Iya udah ga apa-apa. Kalau begitu aku siap-siap dulu buat besok."


"Oke ya', bye"


"Bye"


Setelah itu Arya mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah lalu makan malam. Selesai makan malam, ia kemudian menyiapkan berbagai keperluan untuk besok dengan di bantu oleh ART dan ibunya.


**


Elena mulai cemas. Dimas masih belum muncul juga. Kemudian seseorang muncul dan duduk di kursi tempat Dimas. Elena kaget karena ternyata yang datang adalah Arya, menjelang pesawat take off.


"Kak Arya? Tapi bagaimana...?" Elena tak bisa melanjutkan pertanyaannya karena saking gugup dan kagetnya ia melihat Arya.


"Halo Elena" Jawab Arya dengan santai


"Aku menggantikan Dimas karena mendadak ia tak bisa ke Kuala Lumpur karena ia harus mengurus berkas-berkas dokumen untuk ke Sydney minggu depan"


"Oh... Kenapa dia tak memberitahu aku ya?"


"Mungkin dia tak sempat"


"Ya Tuhan... Gawat... Pesawat sebentar lagi take off!" Elena mulai merasa sesak nafas.


"Ada apa Elena? Kamu Baik-baik saja?" Arya mulai khawatir melihat muka Elena yang pucat. Elena sampai tak sanggup menjawab pertanyaan Arya. Seharusnya Arya memanggil pramugari di pesawat untuk meminta bantuan, tapi ia malah secara spontan mencium Elena.


Elena yang kaget dengan aksi Arya malah jadi teralihkan oleh rasa takutnya naik pesawat atau aerophobia. Tanpa sadar ia mencium balik Arya. Ciuman tersebut berlangsung selama kurang lebih satu menit sampai waktu take off selesai yang biasanya memerlukan waktu sekitar 20-30 detik. Sedikit benturan membuat mereka tersentak dan menghentikan ciuman mereka. Selama sepersekian detik, Arya dan Elena hanya saling memandang tanpa tahu apa yang harus di katakan.

__ADS_1


"Elena..." Arya yang akhirnya pertama kali memulai percakapan.


"Aku... Aku mau ke toilet" Setelah itu ia langsung bergegas ke toilet untuk menyegarkan diri.


**


Elena sudah cukup lama berada di toilet, dan Arya merasa khawatir takut terjadi apa-apa mengingat tadi mukanya terlihat pucat. Ia merasa bersalah atas perbuatannya tadi. Kemudian ia berjalan menuju toilet untuk menyusul Elena. Belum sampai ia mengetuk pintu toilet, pintu tersebut sudah terbuka. Muka Elena langsung tertunduk melihat Arya.


"Kau Baik-baik saja, Elena?"


Elena tak sanggup untuk menjawab ataupun melihat ke wajah Arya. Ia hanya menjawab dengan anggukan kepala setelah itu kembali ke tempat duduknya. Arya kemudian menyusul Elena.


"Elena... "


"Saat ini aku tak sanggup bicara denganmu. Tolong, bisakah nanti saja setelah tiba di hotel?"


"Baiklah kalau itu maumu"


Mereka benar-benar tak saling bicara sampai tiba di bandara Kuala Lumpur International Airport. Arya membantu membawakan koper Elena tanpa bicara sedikit pun sesuai permintaan Elena. Setelah tiba di hotel mereka langsung check-in dengan kamar bersebelahan.


Setelah masuk kamar masing-masing, Arya bimbang. Ia ingin bicara dengan Elena tapi ia tak mau mengganggu waktu istirahat Elena. Lalu ia memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan di ponselnya, tapi yang menarik perhatiannya adalah isi pesan dari Dimas yang baru memberitahukan kalau Elena takut naik pesawat terbang. Arya tak membalas pesan Dimas, tapi ia langsung menelpon Dimas.


"Halo ya'. Gimana penerbangannya? Lancar?" Tetapi bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Arya malah membicarakan yang lain.


"Kamu gimana sih Dims, kenapa ga beritahu dari awal sih kalau Elena takut naik pesawat?"


"Maaf ya', aku lupa. Aku pikir aku pernah kasih tau ke kamu, ternyata belum. Trus tadi gimana? Kamu minta tolong kan sama para petugas di pesawat?"


"Uh... Iya, aku minta tolong sama mereka" Arya tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya karena ia harus bicara dulu dengan Elena.


"Urusan berkas kamu gimana, Dims? Udah beres?"


"Iya udah beres ya'."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ya udah kalau begitu kamu istirahat deh, kamu pasti capek. Nanti kita lanjut ngobrol lagi"


"Oke deh. Bye"


"Bye"


Setelah mengakhiri percakapan, Arya memutuskan untuk istirahat sebentar, tapi nyatanya ia malah terlelap.

__ADS_1


__ADS_2