
Setelah sidang Aldo yang panas, Dimas dan Arya pindah ke kamar Steven untuk berbicara lebih lanjut.
"Tev, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran kamu sampai punya ide konyol kayak gini? Terlalu beresiko, Tev. Benar kata Papi kamu, masa depan kamu di pertaruhkan disini!" Ujar Arya heran dengan jalan pikiran Steven.
"Aku cuma mau dia belajar banyak dari ini, ya'." Ujar Steven.
"Aku malah khawatir dia bakalan curang, Tev. Tau sendiri kan selama ini dia orangnya kayak gimana" Ujar Dimas menimpali.
"Iya, aku juga setuju sama Dimas." Ujar Arya.
"Tenang aja, aku bisa kok. Lagipula kalau ada apa-apa kalian akan bantu aku kan?"
"Ga ah, males!"
"Sama, aku juga males!"
Ujar Dimas dan Arya saling bersahutan. Steven hanya tersenyum melihat kelakuan dua sahabatnya.
**
Elena hari ini masih belum bekerja karena ia masih merasa belum siap. Ia sedang mendengarkan musik dari headphone ketika kakek mengetuk pintu kamarnya. Karena tak kunjung ada jawaban, kakek mencoba untuk membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
Kakek masih memanggil nama Elena tetapi Elena tetap tidak mendengar. Setelah melihat headphone di kedua telinganya barulah kakek mengerti.
Lalu kakek menepuk pelan bahu Elena. Seketika Elena terpekik karena kaget.
"Kakek!"
"Asik banget yang lagi dengerin musik sampai ga kedengaran kakek ketuk pintu dari tadi" Ujar kakek sambil tersenyum
"Maaf kek, kirain tadi kakek sama nenek lagi istirahat di kamar jadi Lena denger musik aja."
"Ada tamu kamu tuh di luar"
"Siapa? Pak Dimas lagi?"
"Bukan, tapi sahabatnya"
"Kak Arya?"
"Iya"
"Aku ga mau ketemu ah, kek!"
"Lena, tolong dengerin kakek. Kasih dia kesempatan untuk menjelaskan. Kamu tak perlu menanggapi kalau kamu tak mau, tapi saran kakek dengarkan saja dulu. Gimana?"
"Entahlah, kek..."
"Ayo temui, sebentar saja. Di depan ada mpok Dj juga, jangan sampai kalah sama mpok DJ, nanti Arya di ambil loh sama dia" Ujar kakek menggoda Elena."
__ADS_1
"Ih kakek ada-ada aja nih. Ya udah aku ke depan sebentar aja"
Elena keluar dengan langkah gontai. Tapi ia tahu kalau ia tak menghampiri Arya, Arya mungkin akan datang lagi keesokan harinya dan esok harinya lagi. Jadi ia mengambil nafas panjang dan keluar dari kamarnya menuju teras. Di sana terlihat mpok DJ sedang menggoda Arya.
"Eh Lenah, akhirnya keluar juga! Ini si kang kasep dateng lagi nih! Kemaren kang cakep, sekarang kang Kasep yang datang. Beruntung banget deh lu Lenah!"
"Kang cakep?" Arya bertanya karena heran.
"Iya, hari Senin malam mas Dimas dateng kesini" Ujar Elena.
"Dimas kesini?" Kok dia ga bilang aku ya, pikir Arya.
"Iya"
"Ya udeh mpok tinggal dulu ye, ngobrol deh tapi kang kasep jangan di galakin ye, kasian kan. Mending sama mpok aje! Hehehe..."
Elena hanya tersenyum menanggapinya.
"Elena, aku..."
"Tolong jangan lama-lama, setelah itu kakak boleh langsung pulang!"
"Ya, baiklah... Elena, aku tau minta maaf saja mungkin tak cukup bagimu. Tapi sebenarnya aku tak bermaksud membohongimu... "
"Aku merasa sangat bodoh dan malu, kak... " Elena mulai menangis dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Jadi siapa kau sebenarnya? Arya? Ksatria?atau kau punya nama lain? Tolong jangan bohongi aku lagi"
"Seperti yang Tev bilang dua hari yang lalu. Nama lengkapku adalah Ksatria Haryadi Himawan. Nama panggilanku Arya, tetapi di kantor para pegawai memanggilku Pak Ksatria."
"Aku kira hari itu Pak Ksatria sedang berhalangan, jadi kau menggantikannya atas permintaan mas Dimas. Ternyata aku salah. Aku tak mendengar ketika bu Astri bilang aku akan di wawancara oleh Pak Ksatria karena Pak Dimas sedang berhalangan."
"Iya, sebenarnya hari itu aku ingin jujur kepadamu, tetapi ketika itu kau punya kesimpulan sendiri dan aku lagi-lagi tak menyangkalnya. Maafkan aku, Elena... "
"Ibu cantik yang ada di butik itu ketika kau membelikanku baju ganti, apakah ia benar-benar ibumu?"
"Ya, dia ibuku."
"Waktu itu kau hanya memperkenalkan namaku tapi kau tak secara langsung bilang kalau itu ibumu"
"Ya, kuakui aku juga salah saat itu"
"Kenapa? Apa kau malu terlihat bersamaku?"
"Tentu saja tidak! Maaf Elena, mungkin kami terlihat kaya, tapi kami juga hidup seperti orang kebanyakan"
"Termasuk menyukai makanan sederhana seperti pisang goreng?"
"Iya, itu juga. Apa? Darimana kau... Ah, pasti Dimas yang cerita ya?"
__ADS_1
"Iya" Elena mulai tersenyum kecil. Senyum pertama yang Arya lihat sejak ia merajuk dua hari yang lalu.
"Tentu dia ingat. Saat itu dia yang paling banyak makan pisang goreng seperti tidak makan selama seminggu. Mukanya mungkin terlihat baby face, tapi di antara kami memang dia yang makannya paling banyak"
"Benarkah?"
"Iya"
Mungkin itu benar, karena waktu Elena makan bersama Dimas sewaktu habis dari butik, Dimas memang sempat nambah. Elena tersenyum lagi mengingatnya. Dimas juga bilang untuk ukuran perempuan Elena makannya termasuk banyak. Lalu Elena bertanya lagi kepada Arya.
"Jika ayahmu punya perusahaan sendiri, kenapa kau bekerja dengan Dimas sebagai wakil direktur? Ah, maaf. Itu bukan urusanku. Tolong lupakan pertanyaanku tadi."
"Tidak apa, akan aku jawab semua pertanyaanmu karena hari ini aku telah memutuskan untuk bersikap jujur padamu. Aku tidak ingin bergantung kepada orang tuaku, aku ingin hidup mandiri, hasil jerih payahku sendiri. Untuk itu aku tak ingin menjabat sebagai direktur di perusahaan ayahku. Alasan kedua adalah adikku"
"Adikmu?"
"Iya, adikku Dita telah bertahun-tahun mendedikasikan dirinya untuk perusahaan. Aku rasa dia yang lebih berhak untuk menjabat sebagai presdir di banding aku."
"Tapi karena dia perempuan jadi dia tak dianggap oleh ayahmu?"
"Iya betul"
"Apakah kau tak tahu kalau banyak orang ingin berada di posisimu?"
"Iya, aku tahu. Sekarang, boleh aku bertanya padamu?"
"Baiklah, satu pertanyaan aja ya"
"Iya. Elena, apakah kamu masih ingin bekerja di Loekito Corp? Karena kalau iya aku akan mengundurkan diri sebagai wakil direktur agar kita tak bertemu lagi jika itu yang kau mau."
"Mas Dimas sudah memberitahukan ini padaku, dia bilang kau mungkin akan menanyakan ini padaku"
"Benarkah?"
"Iya. Kak Arya, aku memang marah padamu, tapi bukan berarti aku jadi yang menentukan apakah kau akan tetap bekerja di Loekito Corp atau tidak. Aku bukan siapa-siapa dan aku tak punya hak untuk itu"
"Tapi... "
"Begini saja, aku akan memaafkanmu asal kau tetap bekerja sebagai wakil direktur di Loekito Corp. Bagaimana? Aku janji akan tetap bekerja secara profesional walaupun aku kecewa padamu"
"Kau yakin atas keputusanmu?"
"Iya. Tapi sementara ini mungkin aku belum bisa bersikap seperti sebelum kau membohongiku."
"Tidak apa-apa, Elena. Aku mengerti. Sebaiknya aku pamit dulu. Bisa tolong sampaikan ke kakek dan nenek kalau aku ingin pamit kepada mereka?"
"Baiklah, tunggu sebentar ya."
Setelah berpamitan kepada kakek dan nenek, Arya pun pulang. Elena memandang Arya sampai menghilang di kejauhan. Ia sedih dan bertanya-tanya apakah hubungannya dengan Arya bisa baik seperti dulu lagi.
__ADS_1