Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 37 That Means a Lot


__ADS_3

Dimas dan Elena sedang di pesawat menuju Jakarta. Tidak seperti waktu berangkat, kali ini Elena terlihat lebih tenang. Seperti biasa, Dimas menawarkan tangannya untuk Elena pegang untuk mengalihkan rasa tegang Elena karena takut naik pesawat.


Elena sempat ragu untuk memegang tangan Dimas dan Dimas sadar mungkin itu karena perbuatan Dimas sendiri yang telah membuat kekacauan di hari ini.


"Aku sebenarnya malu sama kamu, Elena. Akibat perbuatanku hari ini, aku telah menyusahkan kamu dan Arya. Aku jadi merasa ga pantas jadi pimpinan kamu" Ucap Dimas sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Tapi tindakan Elena malah mengejutkan Dimas. Elena mengambil tangan Dimas dan menggenggamnya.


"Semua orang membuat kesalahan, Pak. Termasuk saya juga pastinya. Tapi saya ingin bapak tahu apapun yang terjadi hari ini, tidak akan menghilangkan rasa hormat saya kepada Pak Dimas. Selama ini menurut saya pribadi, bapak adalah pemimpin yang baik dan saya kagum sama bapak" Ujar Elena sambil tersenyum.


"Benarkah?"


"Iya, benar" Elena menganggukan kepalanya masih sambil tersenyum.


"Terima kasih Elena, itu adalah kata-kata terbaik yang saya dengar hari ini. Saya janji ga hanya sama kamu tapi juga kepada diri sendiri untuk tidak mengulangi perbuatan saya hari ini"


"Iya, sebaiknya begitu Pak" Elena masih tersenyum sambil memandang Dimas.


"Senyumnya manis sekali. Andai ia bisa jadi milikku. Tapi sayang aku sudah kehilangan kesempatan untuk memilikinya akibat kesalahanku sendiri" Ujar Dimas dalam hati sambil bersedih.


Pesawat sudah take off, tapi Elena masih menggenggam tangan Dimas.


"Aku akan menikmati momen ini sampai ia sendiri yang berkeinginan untuk melepaskan tangannya" Ucap Dimas masih di dalam hati.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Elena melepaskan tangannya dari Dimas. Itu pun karena ia tertidur. Lalu Dimas memandangi Elena yang tidur pulas.


"Tidurlah, Elena. Hari ini pasti sangat melelahkan bagimu" Ucap Dimas dalam hati.


**


Hari sudah menjelang senja ketika Dimas dan Elena tiba di Jakarta. Mereka kemudian di jemput oleh Pak Darma yang sebelumnya juga sempat menjemput Arya di bandara.


Di perjalanan, Elena yang terlihat masih mengantuk sedang melihat ke arah luar ketika Dimas mengajaknya bicara.


"Elena, bolehkah saya tanya sesuatu ke kamu?"


"Iya Pak, eh mas... Mau tanya apa?"


"Siapa yang menghubungi Arya untuk datang menggantikan saya untuk meeting tadi? Kamu atau mas Akash?"


"Saya, mas"


"Benarkah? Jadi kamu sudah hubungi Arya dari malam atau sudah pagi?"


"Dari malam, mas. Saya cuma takut mas Dimas ga bisa datang atau susah di hubungi, jadi saya minta pendapat kak Arya"

__ADS_1


"Kenapa kamu berfikir kalau saya akan terlambat atau tidak datang ke meeting?"


"Eeemmm... Sebenarnya..." Elena ragu untuk menjawab pertanyaan Dimas karena pastinya Dimas akan merasa malu. Tapi ia tetap harus menjelaskan jadi ia tak punya pilihan lain selain berkata jujur.


Lalu Elena menjelaskan secara lengkap mulai dari kunci kamarnya yang bermasalah sampai ia melihat Dimas sedang bercumbu dengan Nine dalan keadaaan mabuk. Tentu saja Dimas merasa malu setelah mendengarnya dan ia tak bisa menjelaskan apa-apa untuk membela dirinya.


Setelah mengantarkan Elena ke rumahnya, Dimas memutuskan untuk tidak pulang ke rumah keluarganya karena ia tidak siap untuk bertemu keluarganya, terutama papanya.


Dimas memiliki apartemen yang ia beli bersama dengan Arya dan Steven. Sesekali mereka memang suka datang untuk memeriksa tempat tersebut. Apartemen Dimas berada di tengah-tengah antara apartemen Arya dan Steven. Setelah masuk ke apartemen dan meletakkan barang-barangnya, Dimas langsung merebahkan dirinya di tempat tidur dan beristirahat.


**


Keesokan harinya, Dimas terbangun oleh suara deringan telepon. Ia melihat ke layar handphonenya dan melihat nama Arya lalu ia mengangkat telepon.


"Dims, kamu baru bangun tidur?"


"Iya, ya'. Kayaknya aku datang agak siangan ke kantor deh. Aku masih capek. Ga apa-apa kan?"


"Ya udah ga apa-apa. Hari ini juga kerjaan lagi ga terlalu banyak kok. Kamu lagi di apartemen ya?"


"Iya. Kok kamu tau, ya'?"


"Semalam Papa kamu telepon aku, mas Akash juga nelepon nanya kamu kok belum pulang. Trus aku bilang aja kamu lagi di rumah aku. Kalau aku bilang kamu lagi di apartemen bisa-bisa papamu minta anterin ke sana lagi. Kan repot kalau tempat persembunyian kita jadi ketahuan" Ujar Arya sambil terkekeh.


"Terima kasih ya', aku banyak berhutang nih sama kamu. Maaf juga ga ngabarin kamu sebelumnya. Aku belum siap untuk ketemu keluargaku, terutama Papa. Sampai disini semalam aku langsung tidur"


"Iya"


"Kamu tidur apa pingsan, Dims?"


"Dua-duanya!"


Arya tertawa puas sambil membayangkan Dimas yang saat ini pasti sedang cemberut.


Setelah puas tertawa, Arya kembali melanjutkan percakapan.


"Ya udah Dims, anggap kejadian kemarin sebagai pelajaran dan jangan sampai terulang lagi."


"Iya ya', aku malu. Terutama sama Elena yang tau kejadian itu karena melihat langsung"


"Dia cerita ya sama kamu?"


"Iya, dia cerita. Terus dia nelepon kamu ya?"


"Iya. Dia sebenarnya sempat ragu dan menutup telepon karena dia juga malu cerita ke aku. Tapi ada untungnya juga kan dia nelepon aku. Jadi rapat tetap berlangsung dengan lancar walau dadakan."

__ADS_1


"Terima kasih ya'. Tapi aku salut sama Elena. Tau ga dia bilang dia tetap respect sama aku walau kemarin jadi kacau gara-gara aku. Dan yang buat aku sedih, sepertinya aku jadi kehilangan kesempatan untuk mendekati Elena"


"Duh, Dims. Kamu tuh payah banget sih masa gitu aja kamu nyerah sih. Mana jiwa pejuang kamu? Yang ngakunya pejuang cinta ternyata kesandung sedikit aja udah nyerah!"


"Abis gimana ya' nama aku udah jatuh di depan dia"


"Udah, kasih waktu nanti juga akan reda. Yang penting kamu siapin mental dulu buat di sidang hari Sabtu nanti"


"Eh iya, ngomong-ngomong soal itu, aku jadi inget sama omongan mas Akash. Kamu dengar sendiri kan waktu Nine menyangkal kalau dia udah menghabiskan malam sama aku. Trus mas Akash bilang kalau dia akan percaya sama aku kalau aku bisa kasih bukti ke dia kalau aku memang sama Nine dua malam yang lalu"


"Soal itu ga usah di pikirin, Dims. Tev lagi nyuruh Mr. Rami untuk bawa bukti. Nanti kamu akan di kabarin lagi sama Tev"


"Beneran ya'? Makasih banyak yaa.. It means a lot for me! Kalian memang sahabat terbaik di dunia!"


"Don't mention it, Dims. Itulah gunanya sahabat. Sahabat rasa saudara. Iya kan?"


"Iya pastinya, bro. Brothers for life"


"Betul. Sekarang aku mau tanya sama kamu dan kamu harus jawab dengan jujur."


"Oke, tanya aja. Aku siap jawab"


"Siapa yang duluan menggoda? Kamu atau Nine?"


"Nine"


"Sudah kuduga"


'Kamu percaya sama aku? Tumben... "


"Kamu memang playboy, Dims. Tapi aku tau kamu bukan pembohong. Dan sebenarnya ini bukan pertama kali kamu ada affair kan sama dia?"


"Iya, ini sebenarnya yang kedua. Bedanya yang pertama aku ga seceroboh sekarang"


"Aku sebenarnya heran sama kamu, kok mau sih sama Nine. Dia kan bukan tipe kamu. Badannya kurus dan pastinya pay*daranya kecil."


"Arya! Kok tumben sih kamu bisa bilang gitu? Emang kamu pernah liat badannya sebelumnya apa?"


"Ya nggaklah! Ngapain juga aku ada affair sama dia! Kan keliatan Dims dari bajunya yang ketat kalau asetnya ga terlalu besar!"


"Aduh kamu tuh ya! Udah deh jangan bahas dia lagi! Aku mau siap-siap berangkat dulu!"


"Ya udah buruan deh. Aku tunggu disini, nanti kita bicara lagi."


"Oke, ya'. Bye!"

__ADS_1


"Bye"


Setelah mengakhiri percakapan dengan Arya, Dimas langsung bersiap untuk berangkat ke kantor.


__ADS_2